Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Hikmah di balik musibah


__ADS_3

Siaran televisi itu masih menayangkan peristiwa kecelakaan yang terjadi di perlintasan kereta api. Dilihat dari busnya yang ringsek, sudah bisa dipastikan tidak sedikit korban yang berjatuhan.


Lekas kuraih ponselku. Dengan tangan dan tubuh gemetar, kucoba menghubungi salah satu tenaga pengajar di taman kanak-kanak tempat Lyra bersekolah. Nada sambung memang terdengar, namun panggilanku diabaikan.


Dari guru, aku mencoba menghubungi salah satu nomor wali murid. Lagi-lagi panggilanku diabaikan.


"Ya Rabb, lindungi lah mereka," lirihku.


Setelah membeli air mineral, aku pun meninggalkan kantin dan kembali ke ruang perawatan ibu.


Kegaduhan yang terjadi di luar ruangan memaksaku untuk memeriksanya. Rupanya kegaduhan itu berasal dari rombongan pasien yang baru saja tiba di rumah sakit ini. Jumlahnya tidak hanya satu atau dua, melainkan puluhan. Jerit tangis kesakitan terdengar di sepanjang lorong. Jika didengar dari suaranya, sepertinya suara anak kecil. Tidak salah lagi, pasien itulah korban kecelakaan bus pariwisata yang belum lama ditayangkan di layar televisi.


Satu persatu mulai kuamati wajah orangtua yang berada di belakang trolly pasien. Bu Sarah, Bu Lina, Bu Sekar? Astaghfirullahaldzim. Bukankah mereka semua adalah wali murid teman sekelas Lyra?


"Assalamu'alaikum, Bu Sarah," sapaku.


"Waalaikumsalam, Bu Zura," sahutnya di sela isak tangisnya.


"Maaf, apa yang terjadi, Bu?"


"Bus rombongan piknik sekolah anak-anak kita mengalami kecelakaan, Bu," ucapnya dengan suara bergetar.


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Lalu bagaimana dengan penumpangnya?"


"Nina puteri saya … hu … hu …Nina tidak selamat."


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."


"Kami permisi, Bu," ucap pria yang sedari tadi merangkul pundak bu Sarah. Keduanya pun lantas berlalu dari hadapanku.


Trolly berisi pasien meninggal dan terluka terus berdatangan. Hingga akhirnya aku mendapat informasi jika kecelakaan yang terjadi di perlintasan kereta api itu menewaskan lima orang tua dan lima belas siswa termasuk sopir dan kernet nya. Dari penuturan saksi selamat, kecelakaan disebabkan sopir mengendalikan bus dengan kecepatan tinggi. Namun saat separuh badan bus melintasi rel, di saat bersamaan kereta api melintas. Kecelakaan pun tak terhindarkan.


Tiba-tiba perhatianku tertuju pada seorang wanita yang terduduk lesu di lantai rumah sakit sambil menangis sesenggukan. Tidak salah lagi, wanita itu ibunya Alden.


"Permisi, Bu," sapaku.

__ADS_1


"Alden … Bapak … hu … hu … hu…" ratapnya.


"Maaf, bagaimana keadaan putera Ibu?"


"Alden dan ayahnya meninggal dunia. Hu … hu … hu …"


Kucoba menenangkan wanita yang belum kuketahui namanya itu dengan mengusap punggungnya.


"Sabar, Bu. Ini semua adalah ujian," ucapku.


"Meskipun bukan putera kandungku, aku begitu menyayangi Alden."


Aku mengamati wajah wanita itu. Dan ya, sekarang aku ingat. Wajah ini pernah kulihat beberapa tahun lalu saat taksi yang kutumpangi ditabrak mobil sedan. Aku juga masih ingat wanita yang dulu duduk di samping bangku kemudi ini menggendong bayi laki-laki yang begitu mirip dengan Rayyan. Apakah ini artinya Alden itu adalah Rayyan?


"Jadi, Alden bukan putrera kandung Ibu?" tanyaku.


Wanita berambut ikal itu menggeleng lemah.


"Aku dan suamiku sudah menikah puluhan tahun, namun Tuhan belum memberi kami keturunan. Hingga pada suatu hari suamiku membawa pulang seorang bayi yang usianya belum genap dua bulan. Bayi laki-laki itu lalu kami beri nama Alden."


Lagi-lagi wanita itu menggelengkan kepalanya.


"Lantas?"


"Suamiku menyelamatkan bayi itu dari reruntuhan bangunan karena musibah gempa bumi. Semua anggota keluarganya meninggal dunia. Kalau aku tidak salah ingat nama pemilik rumah itu pak Sumarno. Salah satu pengemudi taksi di perusahaan milik suamiku."


"Ya Allah." Aku membekap mulutku dengan salah satu tanganku. Jadi benar, Alden adalah Rayyan. Anak kandung bu Mala yang dulu ditukar kak Maureen dengan Saddam.


"Kenapa Ibu kaget begitu?" tanya wanita itu.


"Sebenarnya saya sudah cukup lama mencari keberadaan Rayyan."


"Rayyan?"


"Bayi laki-laki yang diselamatkan suami Ibu adalah Rayyan. Karena keadaan, suami kakak saya terpaksa menitipkannya pada seorang pengemudi taksi bernama pak Sumarno."

__ADS_1


"Astaga! Ja-ja-di, Alden itu adalah keponakan Ibu?"


Aku menggeleng pelan.


"Rayyan bukan lah anak kandung kakak saya."


"Maksud Ibu bagaimana?"


"Lantaran bayinya terlahir cacat, kakak saya membuat kesalahan besar dengan menukar Rayyan dengan bayi lain."


"Apa kakak Ibu sudah kehilangan akal? Bagaimana mungkin dia berpikir menukar bayinya sendiri."


"Kakak saya sudah menyadari kesalahannya. Dia berniat mencari keberadaan Rayyan dan menyerahkannya kembali pada orangtua kandungnya. Kakak saya berjanji untuk menerima dan merawat Saddam."


"Semuanya sudah terlambat. Rayyan atau Alden sudah tiada. Dia tidak akan pernah bertemu dengan orang tua kandungnya," ucap wanita itu.


"Begitulah takdir, sulit ditebak," ujarku.


"Ibu beruntung tidak mengikuti rekreasi sekolah hari ini. Jika Ibu ikut, bisa jadi Ibu dan keluarga Ibu akan bernasib sama dengan apa yang yang kualami."


"Saya batal mengikuti rekreasi di sekolah Lyra karena ibu saya mengalami musibah terjatuh di kamar mandi. Pagi ini saya membawanya ke rumah sakit ini."


Wanita itu mengulas senyum.


"Benar ternyata, selalu ada hikmah di balik musibah," ujar wanita itu.


Lalu, bagaimana dengan bu Mala? Haruskah aku berkata jujur jika putra kandungnya telah tiada?


Bersambung …


Hi, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Happy reading 🥰 🥰🥰🥰


__ADS_2