
Fabian baru saja hendak berangkat menuju kantornya ketika tiba-tiba tiba-tiba ponselnya berdering yang menandakan seseorang menelponnya. Ia pun bergegas menjawab panggilannya itu.
[Halo, selamat pagi. Dengan Bapak Fabian?]
[Selamat pagi. Benar, dengan saya sendiri]
[Kami dari Lembaga pemasyarakatan tempat ibu Karmila ditahan. Kami harap Bapak bisa datang ke LP sekarang]
[Memangnya ada apa, Bu?]
[Maaf, saya tidak bisa menyampaikan informasi melalui sambungan telepon. Kami harap Bapak bisa secepatnya datang]
[Baik, Bu. Saya akan segera datang]
[Terima kasih atas kerjasamanya. Selamat pagi]
-Panggilan terputus-
Sesampainya di LP
"Kenapa Ibu meminta saya datang ke sini?" tanya Fabian pada salah satu petugas.
"Ini mengenai istri Bapak."
"Kenapa dengan istri saya?"
"Istri Bapak seringkali membuat kegaduhan di dalam sel tahanan. Pagi tadi kami menemukannya tak sadarkan diri di dalam sel. Selain karena menderita kekurangan gizi, diduga penyebab lainnya lantaran istri Bapak juga mendapatkan perlakuan kasar dari para penghuni sel," jelas sipir.
"Astaghfirullahaldzim. Lantas, bagaimana keadaan istri saya sekarang?"
"Istri Bapak kini dalam perawatan klinik."
Sipir perempuan itupun lantas mengajak Fabian menuju klinik. Tentu saja perasannya iba mendapati keadaan istrinya yang begitu memprihatinkan itu. Tubuhnya tampak semakin kurus, sementara banyak ditemukan luka lebam di sekujur tubuhnya terutama di bagian wajah.
"Aku tidak tahan lagi tinggal di sini, Mas," ucap Mila.
"Apa yang kamu lakukan di dalam sel hingga mendapatkan perlakuan buruk dari tahanan lain?"
__ADS_1
"Aku tidak melakukan apapun. Mereka saja yang kompak memusuhiku."
"Tidak ada asap jika tidak ada api. Jika sikapmu baik, mereka pun akan memperlakukanmu dengan baik pula," ujar Fabian.
"Kapan aku bisa keluar dari tempat menyebalkan ini? Mana pengacara yang dijanjikan Silvia?" tanya Mila.
Fabian terdiam dan menundukkan wajahnya.
"Kenapa Mas diam saja? Apa Silvia berbohong?"
"Silvia mengalami kerugian yang cukup besar akibat bencana gempa bumi yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Dia tidak mau mengeluarkan uang ataupun menyewa lagi untukmu."
"Jadi, maksud Mas, aku harus rela berlama-lama berada di tempat ini?"
"Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdo'a semoga saat sidang nanti pengadilan tidak menjatuhkan vonis yang berat untukmu," ucap Fabian.
"Mas sudah benar-benar lepas tangan dalam kasus ini. Begitu 'bukan?"
"Bukannya aku lepas tangan. Aku sudah berusaha sebisa mungkin membantumu keluar dari tempat ini. Namun, apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Apalagi sekarang aku tidak memiliki apapun lagi. Apa kamu tahu, rumah kita hancur karena bencana itu. Sekarang aku dan ibu tinggal di rumah kontrakan kecil tanpa Dini. Dan aku tidak punya pilihan selain mengirim ibu ke panti jompo," ungkap Fabian.
"Tunggu. Tadi Mas bilang hanya tinggal bersama ibu. Lantas, di mana Rayyan?"
"Siapa? Memangnya Mas masih punya saudara atau kerabat?"
"Aku-aku menitipkannya pada kawanku. Dia sudah lama menikah namun belum dikaruniai anak."
"Kawan yang mana, Mas? Laki-laki atau perempuan? Atau jangan-jangan Mas menitipkannya pada Zura. Aku tidak sudi Rayyan disentuh oleh tangannya."
"Tentu saja bukan. Zura harus mengurus Lyra, belum lagi pekerjaan menjahitnya. Dia tidak akan kerepotan jika masih harus mengurus Rayyan."
"Aku harap kawan Mas itu benar-benar menjaga Rayyan dengan baik."
"Kenapa kamu harus begitu khawatir dengan bayi itu? Toh dia bukan anak kandung kita. Seharusnya yang kamu pikirkan sekarang adalah di mana dan bagaimana nasib anak kandung kita."
"Aku tidak peduli lagi pada bayi cacat itu bahkan dia mau mati sekalipun."
"Tidak sepantasnya kamu bicara begitu. Bagaimana pun keadaannya, dia adalah anak kandung kita."
__ADS_1
"Ah! Sudahlah. Jangan membahasnya lagi!"
"Kamu benar-benar sudah tidak punya hati. Seharusnya kamu bisa introspeksi diri. Apa yang kini kamu alami adalah akibat dari dosa-dosa yang sudah kamu perbuat."
Obrolan keduanya terhenti saat sipir menghampiri mereka.
"Permisi, Pak. Ibu Karmila harus kembali ke dalam sel tahanan," ucapnya.
"Apa saya tidak bisa dirawat di klinik saja?" protes Mila.
"Tidak bisa, Bu. Sudah menjadi peraturan setiap tahanan harus berada di dalam sel. Apalagi kondisi Ibu sudah cukup membaik."
"Kalian benar-benar tidak berperikemanusiaan!" gerutu Mila.
"Aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik. Kita bertemu lagi nanti saat sidang keputusan."
"Semoga sebelum sidang itu aku masih hidup."
"Tidak baik bicara begitu. Itu sama artinya kamu mendahului takdir Allah."
"Aku lebih memilih mati dibandingkan harus hidup di tempat ini!"
"Mari, Bu. Kita kembali ke sel." Petugas itu memapah Mila lalu membawanya masuk kembali ke dalam sel tahanan.
*****
Seminggu kemudian.
Hari ini adalah sidang keputusan vonis pengadilan untuk Mila. Fabian, Silvia, serta pengacara Abiyasa terlihat duduk berdampingan di dalam ruang sidang sementara Mila duduk di kursi pesakitan dengan wajah lesu. Pasrah lebih tepatnya.
Mereka memusatkan perhatian pada jaksa yang akan membacakan keputusan vonis hukuman yang akan dijatuhkan.
"Dengan ini pengadilan memutuskan untuk menjatuhkan hukuman pada tersangka Karmila dengan hukuman penjara selama …"
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…