Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Penyesalan Fina


__ADS_3

Mataku terbelalak saat mendapati Fina berada di atas ranjang dengan tangan terikat dan mulut ditutup lakban. Aku lega pakaian yang dikenakannya masih utuh.


Aku bergegas membuka tali yang mengikat tangannya dan melepas lakban yang menutupi mulut Fina.


"Ibu!" Fina langsung menghambur ke dalam pelukanku.


"Kamu tidak apa-apa 'kan, Fin?" tanyaku.


Gadis itu menggelengkan kepalanya. Sementara kedua tangannya memelukku erat. Aku merasa ada ketakutan yang begitu besar yang kini tengah dialaminya.


"Apa yang terjadi, Nak? Kenapa kamu bisa berada di tempat seperti ini?"


"Aku minta maaf, Bu. Hu … hu … hu …"


"Cerita lah, apa yang terjadi. Aku akan merekamnya sebagai barang bukti."


Ibu mengambil ponselnya lalu mengarahkan kamera ponselnya ke arah Fina.


"Tadi Boy mengajakku bertemu di cafe. Awalnya kami mengobrol biasa. Hingga suatu ketika aku merasa tidak mengingat apapun. Aku menuruti semua ucapannya termasuk saat dia mengajakku ke sebuah tempat penginapan. Kesadaranku kembali saat aku sudah berada di sebuah kamar. Dia memaksaku melakukan hubungan suami istri. Aku memberontak, namun ia justru mengikat tanganku dan menutup mulutku," ungkap Fina.


"Alhamdulillah, kami datang di saat yang tepat sebelum semuanya terlambat."


"Kamu ini 'kan anak perempuan, seharusnya kamu lebih berhati-hati memilih teman, apalagi teman yang hanya kamu kenal melalui dunia maya. Beruntung bi Ami melihat kamu dan laki-laki itu masuk ke dalam penginapan ini. Bagaimana kalau tidak? Sudah habis kamu dimangsa laki-laki hidung belang itu!" sungut ibu.


"Aku benar-benar minta maaf, Bu. Aku benar-benar kapok. Awalnya Boy selalu bersikap baik dan sopan padaku. Itulah yang membuatku nyaman berteman dengannya."


"Baik kamu bilang? Seorang teman yang baik tidak akan mengajak temannya untuk melakukan hal buruk, salah satunya dengan mengajakmu bertemu di saat jam sekolah. Sudah satu bulan terakhir ini kamu sering membolos 'kan? Kurang baik apa Zura sama kamu? Kamu bukan saudara ataupun kerabatnya. Tapi dia bersedia menampungmu, memberimu makan, bahkan kamu yang tadinya hanya lulusan SMP, kini bisa melanjutkan ke bangku SMA. Apa kamu gak mikir itu semua? Balasanmu malah begini," cecar ibu.


Jujur, aku pun merasa kecewa dengan sikap Fina, namun mulut ini tidak sampai jika harus mencecarnya atau menghakiminya.

__ADS_1


"Aku benar-benar minta maaf, Bu. Aku mengaku salah. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Fina. Bisa kulihat penyesalan di sorot matanya.


Tidak berselang lama pak Amin muncul.


"Saya sudah membawa pria itu ke kantor polisi. Sekarang pihak kepolisian meminta mbak Fina datang ke sana untuk dimintai keterangan," jelasnya.


"Aku takut, Bu," lirih Fina.


"Tidak perlu takut, ada ibu," ucapku seraya menggenggam tangannya.


Kami pun bergegas meninggalkan tempat penginapan itu dan menuju kantor polisi yang hanya berjarak 500 meter dari tempat tersebut.


Menurut keterangan polisi, laki-laki dengan nama akun Boy 2000 itu sudah cukup lama menjadi target operasi. Sasarannya adalah gadis atau anak sekolah berusia 15-17 tahun. Sementara modus operasi nya adalah dengan cara hipnotis.


"Puteri Ibu ini masih beruntung karena Ibu menyelamatkannya di waktu yang tepat. Dari laporan yang pernah kami terima, ada beberapa korban yang berhasil direnggut kegadisannya, bahkan ada yang nyaris tewas karena lemas karena tersangka yang selalu menkonsumsi obat kuat saat melakukan aksi be*at nya," ungkap polisi.


"Pesan saya untuk saudari Fina agar lebih berhati-hati dalam memilih kawan terutama kawan yang dikenal melalui dunia maya," ucap polisi.


"Dengar itu. Jangan kecentilan jadi anak gadis!" sungut ibu.


"Baik, Pak, terima kasih. Kami permisi dulu, selamat siang."


Aku, ibu, pak Amin dan Fina pun lalu meninggalkan kantor polisi.


"Sekali lagi Fina berulah, usir saja dia," ucap ibu.


"Sudah, Bu. Jangan memojokkannya terus. Aku yakin sudah menyadari kesalahannya. Lagipula peristiwa ini bukan sepenuhnya kesalahan Fina," ucapku.


"Kalau Fina tidak kecentilan pasti laki-laki itu tidak mengajaknya macam-macam. Lihat, dari cara berpakaiannya saja bisa mengundang niat jahat laki-laki."

__ADS_1


Fina hanya terdiam dengan wajah tertunduk.


"Ibu harap peristiwa ini bisa kamu jadikan pelajaran. Ibu percaya, kamu sudah bisa menjaga diri sendiri, jadi ibu harap kamu tidak mengkhianati kepercayaan yang ibu berikan," ucapku seraya membelai rambutnya.


"Aku minta maaf, Bu. Aku benar-benar menyesal."


"Ingat pesan ibu, jangan pernah sekalipun membuka penutup kepalamu," ucapku.


Fina mengangguk paham.


"Bu Zura!" seru Seto yang tiba-tiba muncul di ruang tamu.


"Ada apa?"


"Ada kecelakaan kerja di ruang produksi!"


"Astaghfirullahaldzim!"


Aku beranjak dari ruang tamu dan bergegas mengikuti Seto menuju ruang produksi.


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2