Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Ada apa dengan ibu?


__ADS_3

"Ehm, ti-ti-tidak apa. Ibu baru tahu kalau nama suami Salma ternyata Roni," jawab ibu.


Aku bisa menangkap kepanikan di raut wajah ibu. Apa ada sesuatu tentang nama Roni? Entahlah.


"Mas Roni! Keluar!" teriak mbak Salma sembari menggedor pintu kamar ibu. Tentu saja ibu tidak terima dengan perlakuan itu.


"Kamu ini keras kepala juga ya. Aku kan sudah bilang, di rumah ini tidak ada yang namanya Roni. Kenapa kamu masih saja ngeyel?" protesnya.


Tiba-tiba mbak Salma menatap tajam mata ibu.


"Kamu pasti selingkuhan mas Roni 'kan?"


"Jaga mulutmu! Kenal juga tidak. Bagaimana kamu bisa menuduhku serendah itu?"


Sekali lagi kuamati wajah ibu. Jika beliau memang tidak mengenal laki-laki bernama Roni, kenapa beliau harus semarah itu?


"Dasar perebut suami orang!" 


Ibu berteriak kesakitan saat mbak Salma tiba-tiba menarik rambutnya yang dibiarkan tergerai itu.


"Zura! Seret perempuan sin*ing ini keluar!" 


Dengan dibantu Rahma aku bergegas melepaskan tangan mbak Salma dari rambut ibu. Sementara ibu tak berhenti mengumpat atas perlakuan tidak menyenangkan itu.


"Perempuan gil*! Tidak waras!" teriak ibu.


Kali ini Rahma yang tidak terima dengan perkataan ibu.


"Maaf, Bu. Jangan menuduh mbak Salma gil* ataupun tidak waras. Dia hanya sedang terpukul lantaran kehilangan suami dan bayinya dalam waktu yang berdekatan. Saya harap Ibu bisa maklum," ucapnya.


"Kakak kamu ini memang tidak waras! Seenaknya saja menuduhku sebagai selingkuhan suaminya."


"Ya sudah. Jika Ibu merasa tuduhan mbak Salma tidak benar, Ibu tidak perlu semarah itu 'bukan?"


"Cepat bawa kakakmu keluar dari rumah kami! Jangan sampai aku berbuat kasar padanya!" ancam ibu.


"Perempuan bin*l!" teriak mbak Salma. 


"Perempuan gil*!" balas ibu.


Mbak Salma hendak menyerang ibu kembali namun kali ini ibu berhasil menepisnya.


"Rahma, bawa mbak Salma keluar dari rumah ini," ucapku.


"Atas nama mbak Salma saya minta maaf," ucapnya.


"Perempuan gil*!"


"Perempuan bin*l!"


Ibu dan mbak Salma kembali berdebat. 


Rahma pun tidak punya pilihan selain menarik paksa kakak perempuannya itu dan membawanya keluar dari rumah kami.


Ibu pun lekas menutup pintu rumah kemudian menguncinya.


"Sepertinya kita sudah tidak nyaman lagi tinggal di sini," ucap ibu. 


"Jika tuduhan mbak Salma tidak benar, kenapa Ibu harus semarah in?" tanyaku.


"Siapa yang tidak kesal dituduh begitu?" gerutu ibu kesal.


"Bu, maaf jika aku salah. Tapi aku merasa ibu menyembunyikan sesuatu."


"Maksud kamu apa, Nak?"


"Siapa Roni?"

__ADS_1


"Ibu tidak tahu."


"Aku tahu Ibu menyembunyikan sesuatu dariku."


"Tidak ada yang ibu sembunyikan."


"Ibu mungkin bisa menyembunyikan apapun dari orang lain, tapi tidak denganku."


"Ehm, sebenarnya…sebenarnya…"


"Bicara lah, Bu."


"Roni … Roni, ehm…"


"Kenapa dengan Roni?"


"Roni adalah nama pacar ibu selain Yoga," jawab ibu dengan wajah tertunduk."


Benar dugaanku, ada sesuatu dengan laki-laki bernama Roni itu. Pun aku tidak ingin menghakimi ibu. Lagipula ibu sudah mengakui kesalahannya di hadapan pak Prayoga.


"Ibu menyesal sudah menjalin hubungan dengan Roni di belakang Yoga."


"Sudah lah, Bu. Ibu tidak perlu mengungkitnya lagi. Yang terpenting Ibu jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Pak Prayoga pria yang baik, jangan sampai membuat beliau kecewa," ujarku.


"Kamu janji 'kan? Akan menyimpan rahasia ini dari siapapun termasuk Rahma?" tanya ibu.


"Aku janji, Bu."


Tiba-tiba Lyra yang berada di gendonganku menangis. Kurasa sudah waktunya tidur siang.


"Aku ke kamar dulu, Bu," ucapku.


"Baik, Nak. Ibu juga harus memasak untuk makan siang."


*****


Aku baru saja keluar dari kamarku usai menidurkan Lyra. Di saat itulah kudengar seseorang mengucapkan salam dari arah teras rumah.


"Waalaikumsalam," jawabku dari dalam rumah.


Aku pun lekas membuka pintu. Tampak dua orang perempuan berdiri di hadapanku. Masing-masing menenteng kantong plastik yang mungkin berisi bahan pakaian.


"Alhamdulillah, Mbak Zura sudah pulang. Pagi tadi kami kesini, tapi Mbak Zura nggak di rumah."


"Oh, maaf, Bu. Tadi saya ke toko perlengkapan menjahit. Ada beberapa barang yang harus saya beli," ucapku.


Keduanya mengangguk paham.


"Oh ya. Pagi tadi ada laki-laki yang cari Mbak Zura. Naik mobil, tampan lagi. Dia siapa Mbak?" tanya salah satu ibu setengah menggoda.


Laki-laki yang dimaksud ibu ini pasti Fabian. Jadi, dia benar-benar mencariku? Apa benar saat ini ibu benar-benar membutuhkanku?


"Mbak Zura kok diam saja? Laki-laki itu siapa?"


"Ehm, dia-dia saudara saya, Bu."


"Saudara?" 


Kedua perempuan itu saling bersitatap.


"Kalau dia memang saudara Mbak Zura, kenapa dia menolak saat kami ajak masuk ke dalam sini?"


"Ehm, mungkin dia ada urusan lain. Oh ya, Ibu ingin model baju apa? Gamis? Tunik? Atau kemeja?" 


Aku sengaja mengalihkan pembicaraan. Bukan apa, aku hanya tidak ingin orang lain tahu terlalu jauh perihal kehidupan pribadiku.


"Saya ingin gamis, Mbak. Modelnya terserah Mbak Zura saja. Yang penting jangan diberi karet pinggang," ucap salah satu ibu.

__ADS_1


"Saya model blouse saja, Mbak."


"Kapan pakaian kami selesai dijahit, Mbak?" tanya salah satu ibu usai aku mencatat ukuran pakaiannya di buku catatan khusus.


"Insyaallah besok sudah bisa diambil," jawabku.


"Wah, cepat juga ya. Kalau di tempat lain belum tentu satu Minggu jadi."


"Oh ya. Berapa ongkosnya?"


Aku tersenyum.


"Terserah Ibu saja. Saya tidak memasang tarif khusus."


"Ya sudah, saya bayar sekarang saja," ucap salah satu ibu sembari menyodorkan dua lembar uang pecahan seratus ribu padaku.


"Maaf, Bu. Ini terlalu banyak."


"Tidak apa, Mbak. Anggap saja ini rejeki dari Allah melalui saya."


"Tapi, Bu, …"


"Saya percaya hasil jahitan Mbak Zura bagus dan rapi. Jadi saya tidak keberatan harus mengeluarkan uang lebih."


"Saya juga bayar sekalian, Mbak."


Ibu lainnya juga menyodorkan uang dengan jumlah yang sama.


"Ini juga terlalu banyak, Bu."


"Tidak apa, Mbak. Kebetulan baju itu mau saya pakai besok. Saya tidak punya waktu pergi ke toko."


"Terima kasih, Bu. Semoga rezeki Ibu-ibu semakin banyak."


"Aamiin. Doa yang sama juga untuk Mbak Zura sekeluarga."


"Ya sudah, kami pamit sekarang. Masih ada keperluan di tempat lain. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Selagi Lyra masih tertidur pulas, aku pun bergegas mengerjakan pesanan jahitan pelanggan baruku.


"Kamu pasang tarif berapa untuk setiap model baju?" tanya ibu yang baru saja muncul dari ruang dapur.


"Aku tidak memasang tarif khusus, Bu."


"Yang benar saja kamu. Kalau caramu begini, kamu bisa rugi. Lama-lama usahamu bangkrut."


Aku tersenyum.


"Insyaallah tidak, Bu. Aku membuka usaha ini bukan semata untuk mencari uang. Aku juga ingin usaha ini bermanfaat bagi orang lain."


"Kita saja sedang kesulitan. Kamu masih saja memikirkan orang lain."


"Aku yakin Allah akan mencukupkan kita," ujarku.


Tiba-tiba ibu membuka laci meja jahitku. Beliau lantas mengambil tiga lembar uang pecahan seratus ribu dari dalam sana.


"Jangan diambil, Bu," ucapku.


"Ibu butuh uang untuk perawatan. Lihat penampilan ibu sekarang. Kuno dan tidak menarik lagi. Laki-laki mana yang mau dengan ibu?"


Astaghfirullah. Ada apa dengan ibu? Kenapa beliau tiba-tiba berubah begini?


Bersambung…


Hai, pembaca setia….

__ADS_1


Ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2