Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kemunculan kembali Luna


__ADS_3

"Sudah dua hari ini toko kue kita sepi, Bu," ucap Ririn, karyawan yang bertugas di bagian kasir.


Aku mengulas senyum.


"Begitu lah yang namanya berjualan. Terkadang ramai, terkadang pula sepi. Yang terpenting kita jangan sampai lupa jika rezeki setiap makhluk sudah ditakar dan tidak akan mungkin tertukar," ujarku.


"Bukannya apa, Bu. Tapi, saat saya kembali dari membeli bahan kue di supermarket tadi saya melihat toko kue baru itu begitu ramai. Sepertinya pelanggan kita pada lari kesana." Ana menimpali.


"Padahal kemarin kita dengar sendiri dari salah satu pelanggan toko ini, jika kue yang dijual di toko baru itu tidak enak."


"Mungkin kalian belum tahu jika pemilik toko baru itu adalah kakak perempuan saya," ucapku.


"Apa, Bu? Kakaknya Ibu? Astaga. Kok ada ya, seorang kakak yang ingin menyaingi usaha adiknya sendiri," ujar Ririn.


"Tidak ada undang-undang di negara kita yang melarang seseorang membuka usaha sama seperti orang lain 'bukan? Jadi sah-sah saja kakakku itu membuka usaha toko kue juga."


"Iya sih, Bu. Tapi saya heran juga. Kenapa toko nya tiba-tiba laris begitu, padahal jelas-jelas ada yang mengatakan jika kue di sana pahit dan tidak enak."


"Bisa saja saat itu kak Maureen salah menakar bahan saat membuat kue, lalu dia belajar dari kesalahannya, jadi rasa kue nya tidak pahit lagi."


"Mungkin nggak sih, Rin, Bu, kalau pemilik toko itu menggunakan penglaris?"


"Hussh! Jangan sembarangan menuduh tanpa bukti yang jelas, nanti jatuhnya fitnah. Kamu tahu 'kan fitnah itu lebih capek daripada fitness?" ucap Ririn.


"Ririn benar, kita tidak boleh berburuk sangka pada orang lain," ujarku.


Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba seseorang memasuki toko.


"Selamat pagi," sapanya.


"Bu-Bu-Anita?"


"Ketemu juga toko nya."


"Bu Anita sendirian saja?" tanyaku.


"Ya. Keenan dan ayahnya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Saya ke sini naik taksi," papar wanita yang nyaris menjadi ibu mertuaku itu.


"Ibu dari mana atau mau kemana?"


"Saya dari rumah saja, sengaja datang ke sini untuk memesan kue brownies. Kebetulan sore nanti ada acara arisan di rumah saya."


"Maaf, kalau boleh saya tahu ada berapa peserta arisannya, Bu?" tanyaku.


"25 orang," jawab beliau.


"Baik, insyaallah setelah Dzuhur kue pesanan Ibu sudah siap. Saya dan pak Amin yang akan mengantarnya," ucapku.


"Saya memesan kue di sini sekalian mau promosi kalau kue buatanmu enak. Saya jamin teman-teman arisan saya akan tertarik untuk berlangganan kue di toko ini."


"Wah, promosi gratis nih," celetuk Ana yang kutanggapi dengan senyum tipis.

__ADS_1


"Maaf, sepertinya Ibu ini sudah kenal dekat dengan bu Azzura," ucap Ririn.


"Kamu benar, saya sudah mengenal betul Azzurra. Dia hampir saja menjadi menantu saya, tapi Allah berkehendak lain. Allah mengambil putera sulung saya sehari sebelum hari pernikahan," ungkap bu Anita. Raut wajahnya tiba-tiba berubah sedih.


"Ya Allah, maaf, Bu. Saya benar-benar tidak tahu. Saya tidak bermaksud membuat Ibu sedih," ucap Ririn.


"Tidak apa, mungkin Zura dan putera saya belum berjodoh. Oh ya, kamu sedang sibuk, Nak?"


"Ehm … tidak juga. Memangnya kenapa, Bu?"


"Kalau kamu tidak keberatan, saya ingin mengajakmu berziarah ke makam Gibran."


"Oh, iya, Bu. Saya bisa."


"Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?" tanya bu Anita.


Aku mengangguk setuju.


"Ana, saya tinggal sebentar, nanti saya kembali lagi ke sini," ucapku.


"Baik, Bu. Saya akan memulai membuat pesanan ibu ini sekarang."


Setelah berpamitan pada Ririn dan Ana, kami pun meninggalkan toko.


Aku dan bu Anita menumpangi taksi yang akan mengantar kami menuju ke tempat pemakaman umum.


Entah benar atau hanya perasaanku saja, aku merasa taksi yang kami tumpangi diikuti oleh taksi lain.


"Aduh, saya kok jadi takut begini ya."


"Ehm … maaf, Pak. Apa bisa menepi sebentar," ucapku pada pengemudi taksi. Tujuanku tak lain untuk memastikan apakah taksi itu benar mengikuti kami atau memang punya tujuan yang sama. Dan benar saja, meskipun dengan jarak aman, tidak lama setelah taksi yang kutumpangi menepi, taksi itu pun berhenti. Aku sengaja menunggu beberapa saat, mungkin saja taksi itu punya alasan berhenti. Namun nyatanya taksi itu kembali melaju saat aku meminta pengemudi taksi yang kutumpangi untuk menghidupkan kembali mesin kendaraannya.


"Maaf, Pak. Apa kita bisa lewat jalan utama saja menuju makam? Saya merasa taksi di belakang itu sedari tadi mengikuti kita. Beberapa waktu yang lalu saya nyaris mengalami tindak kejahatan saat taksi yang saya tumpangi melewati jalan alternatif. Saya hanya mengantisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan," ucapku pada pengemudi taksi.


"Baik, Bu."


Sekitar dua puluh menit kemudian kami tiba di tempat pemakaman umum.


"Saya jadi penasaran, siapa sebenarnya penumpang taksi itu, dan kenapa dia mengikuti kita," ucap bu Anita.


Dia pun lantas berjalan menghampiri taksi tersebut yang juga berhenti di depan pintu masuk Tempat Pemakaman Umum.


"Kenapa kamu mengikuti taksi kami 'hah?!" cecar bu Anita sesaat setelah seorang gadis turun dari dalam taksi itu.


"Saya … ehm-ehm, …"


"Siapa kamu Sebenarnya?"


Tanpa diduga bu Anita menarik kain penutup kepala yang dikenakan gadis itu. Aku pun turut tercengang saat tahu siapa yang sedari tadi mengikuti taksi kami.


"Luna? Kamu, …?"

__ADS_1


Bukankah Luna dibui setelah melakukan percobaan penculikan pada Lyra dan melakukan penusukan padaku waktu itu? Kenapa dia berkeliaran bebas?


"Seharusnya kamu ada di penjara 'bukan? Kenapa kamu ada di sini? Jangan-jangan kamu kabur," cecar bu Anita.


"Saya sudah bebas seminggu yang lalu. Saya mengaku mengikuti taksi kalian. Akan tetapi saya sama sekali tidak memiliki niat buruk. Sudah beberapa hari ini saya mengintai rumah Nyonya. Tapi saya sama sekali tidak melihat Gibran. Itulah alasan saya mengikuti Nyonya. Saya berpikir mungkin Gibran sudah pindah rumah dan Nyonya akan mendatangi rumahnya. Tapi … kenapa Nyonya datang ke tempat pemakaman ini?"


"Kamu mau tahu jawabannya? Mari ikut kami." Bu Anita memasuki area pemakaman sementara aku dan mantan kekasih Gibran itu mengikuti di belakangnya.


"Maaf, ini makam siapa, Nyonya? Kenapa saya diajak ke sini?" tanya Luna. Raut wajahnya tampak kebingungan.


"Kamu bisa membaca 'bukan?" tanya bu Anita.


Luna pun lantas mendekati batu nisan di makam itu.


"Gib-Gib-Gibran? Tidak mungkin! Gibran tidak mungkin meninggal!" pekiknya.


Dari batu nisan, Luna mengalihkan pandangannya pada bu Anita.


"Nyonya … katakan pada saya jika makam ini makam Gibran yang lain, bukan makam Gibran putera Nyonya," ucapnya.


"Makam ini memang makam Gibran. Dia meninggal dunia sekitar tiga tahun silam karena tertembak perampok," paparku.


Tiba-tiba saja Luna menjatuhkan lututnya di atas tanah, ia lantas bersimpuh di depan pusara pria yang hampir menjadi calon imamku itu.


"Gibran … kenapa kamu tinggalin aku? Hu … hu … hu …"


"Daripada menangis, lebih baik kamu kirim do'a untuk Gibran. Kamu sudah berbuat banyak kesalahan padanya 'bukan? " ucap bu Anita.


"Gibran meninggal setelah dekat denganmu. Kamu pasti perempuan pembawa sial!" seru Luna.


"Astaghfirullahaldzim. Apa kamu tidak punya agama? Ajal seseorang sudah ditentukan semenjak ia masih berada di alam kandungan," ujarku.


"Aku tidak percaya hal itu. Kamu perempuan pembawa sial!" Tiba-tiba saja Luna menatap tajam ke arahku.


"Luna! Cukup! Jangan membuat kegaduhan di tempat ini!" sentak bu Anita.


"Perempuan yang berdiri di samping Nyonya ini adalah pembawa sial. Gibran meninggal setelah dekat dengannya 'bukan?"


"Itu tidak benar. Saya sudah pasrah jika memang Allah memanggilnya lebih dulu dari saya," bantah bu Anita.


"Gara-gara kamu Gibran meninggal. Kamu harus membayar mahal untuk ini!" Luna tampak bergeser dari makam Gibran. Tiba-tiba saja gadis itu meletakkan kedua tangannya di leherku.


Bersambung …


Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya baruku yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2