
Fina dan Lyra baru saja meninggalkan ruang perawatanku. Malam ini ibu yang akan menemaniku di sini. Lagipula anak-anak sehat berusia di bawah 12 tahun tidak diizinkan menginap di rumah sakit.
"Sebentar lagi adzan Maghrib, ibu ke mushola dulu. Kamu tayamum dan shalat di tempat tidur saja," ucap ibu.
"Ya, Bu."
Ibu pun lantas membuka pintu ruangan. Di saat bersamaan terdengar sapaan seorang wanita.
"Selamat malam, Bu Sabrina."
Bukankah itu suara Bu Anita? Bagaimana beliau bisa tahu jika aku dirawat di sini?
"Bu Sabrina, Keenan? Silahkan masuk."
Ibu pun mengajak keduanya masuk ke dalam ruang perawatanku.
"Bu Anita? Keenan?"
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya bu Anita.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik. Hanya masih lemas saja. Maaf, Bu. Tentang kue pesanan Ibu, ehm, …"
Bu Anita mengulas senyum.
"Saya sudah tahu semuanya dari Keenan."
"Tahu dari Keenan? Maksud Ibu?"
"Herdian yang menceritakan pada saya tentang kejadian yang menimpamu siang tadi." Keenan yang berdiri di samping bu Anita menimpali.
"Tunggu. Herdian? Apa kamu mengenalnya?" tanyaku.
"Ya, dia adalah salah satu kawan bisnis saya."
__ADS_1
"Dunia sempit sekali ternyata," ujar ibu.
"Oh ya, sepertinya tadi Bu Sabrina mau keluar. Memangnya Ibu mau kemana?" tanya bu Anita.
"Oh, saya mau shalat Maghrib di mushola."
"Ya sudah, kita bareng saja," ucap bu Anita. Kulihat ibu menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
"Kalian mengobrol dulu saja, kami ke Mushola dulu," ucap bu Sabrina.
"Saya titip Zura sebentar ya, Ken," ucap ibu. Keduanya pun lantas meninggalkan ruang perawatanku.
Ini adalah kali pertama aku dan Keenan berada di dalam ruangan yang sama. Jika kami harus mengobrol, apa yang harus kami obrolkan? Ah, kenapa rasanya tidak nyaman begini.
"Ehm … Apa Lyra sudah kesini?"
Keenan membuka obrolan. Aku menangkap ada rasa canggung dari gestur tubuhnya.
"Sudah tadi. Sama pak Amin dan Fina juga. Tapi aku menyuruh mereka pulang. Rumah sakit kurang baik untuk anak sehat seperti Lyra. Ehm!" Tiba-tiba saja tenggorokanku terasa gatal.
Aku mencoba menggeser tubuhku dengan maksud meraih segelas air putih dari atas meja. Namun rasanya begitu sulit menjangkaunya.
"Kamu mau minum?" tanya Keenan.
Aku mengangguk pelan.
Adik laki-laki dari mendiang Gibran itu pun lantas meraih gelas tersebut lalu menyodorkannya padaku.
"Terima kasih," ucapku.
Adzan Maghrib berkumandang.
"Kalau kamu mau shalat Maghrib di mushola, aku nggak apa-apa kok di sini sendiri," ucapku.
__ADS_1
"Mana bisa begitu. Tadi ibumu sudah berpesan menitipkanmu selagi beliau dan ibu shalat Maghrib di mushola. Aku shalat di dalam ruangan ini saja. Ehm … bagaimana kalau kita shalat berjamaah?"
"Sha-shalat berjamaah?"
"Ya. Kamu bisa shalat tanpa harus meninggalkan tempat tidurmu. Untik bersuci kamu bisa melakukannya dengan cara tayamum menggunakan tembok kamar ini."
"Baiklah."
Aku mulai melakukan tayamum dengan menggunakan salah satu sisi tembok yang berada di ruang perawatanku, sementara Keenan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang berada di dalam ruangan ini.
Aku sudah selesai bersuci. Kumanfaatkan waktu menunggu Keenan dengan bersholawat.
Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka. Tidak berselang lama Keenan terlihat keluar dari kamar kecil itu. Wajahnya terlihat lebih segar karena basuhan air wudhu. Bukan hanya segar, entah mengapa aku merasa wajah itu terlihat begitu tampan. Setampan Gibran. Ya, wajah mereka memang memiliki kemiripan mendekati saudara kembar.
"Mari kita mulai," ucapnya.
Aku masih saja memandangi wajah penuh aura ketenangan itu. Aku bahkan tersentak kaget saat Keenan memanggilku.
"Zura, kita mulai sekarang," ucapnya.
"Oh, i-i-iya."
"Zura. Kamu ini apa-apaan. Apa kamu mulai naksir Keenan?" rutukku.
Keenan menggelar sajadahnya tidak jauh dari ranjang pasien tempatku menjalankan ibadah sekarang. Kenapa aku jadi mengamati wajah Keenan dari samping?
"Astaghfirullahaldzim. Zura … fokus! Kamu mau shalat. Jangan lihatin Keenan terus," geramku pada diri sendiri.
Bersambung …
Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya baruku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰