Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Urusanku sudah selesai?


__ADS_3

Samar-samar kudengar suara Lyra yang menjerit memanggilku dan memintaku untuk membuka mata. Namun aku tak memiliki kekuatan untuk melakukannya. Beberapa saat kemudian aku merasa melayang di udara. Aku bisa melihat saat warga mengangkat tubuhku dan membawanya menuju mobilku. Sementara sebagian warga lainnya mengamankan Luna.


"Ibu … bangun … " isak Lyra.


"Ibu di sini, Nak." Aku mencoba merengkuh tubuh putriku namun selalu gagal. Ada apa denganku? Apakah nyawa ini sudah lepas dari jasadku?


"Zura … bangun lah." Kak Darren mengguncang tubuhku berulang.


"Aku di sini, Kak."


Aku berusaha menyentuh tubuh kakak laki-lakiku itu namun gagal juga. Sepertinya Lyra ataupun kak Darren tidak melihat keberadaanku.


Beberapa saat kemudian giliran ibu dan Fatimah menghampiriku. Sama seperti Lyra dan kak Darren, mereka menangisiku dan sesekali memintaku membuka mata.


"Bangun, Nak," lirih ibu seraya mendekap erat tubuhku.


"Pak Amin! Lebih cepat lagi!" seru kak Darren yang kini memangku kepalaku.


"Ya Allah, bagaimana ini? Di depan jalan macet karena sedang diadakan perbaikan jalan," ucap pak Amin. Aku bisa melihat kepanikan sekaligus kekhawatiran di raut wajahnya. Sementara itu di bangku belakang Fatimah berusaha menenangkan Lyra yang dari tadi tak berhenti menangis.


"Aku di sini … aku ada di sini. Apa kalian tak mendengarku?!"


Sekuat apapun aku menjerit, sepertinya percuma saja. Mereka sama sekali tak mendengarnya.


Sekitar 10 menit kemudian jalanan kembali lancar. Kak Darren terus meminta Pak Amin untuk melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi. Rumah sakit yang seharusnya ditempuh dalam waktu 20 menit hanya membutuhkan waktu 10 menit saja.


Kak Darren membopong tubuhku keluar dari dalam mobil lalu membawaku masuk ke dalam rumah sakit.


"Suster! Tolong adik saya! Dia sudah kehilangan banyak darah!" teriaknya di bagian pintu masuk rumah sakit. Ia sama sekali tak mempedulikan jika apa yang dilakukannya mengundang perhatian banyak orang berada di ruangan itu.


"Ibu ini kenapa, Pak?" tanya seorang perawat.


"Seseorang menusuk punggungnya dengan pisau lipat."


"Mari ikut saya."


Perawat itu berjalan menuju sebuah ruangan sementara kak Darren mengikuti di belakangnya.


Kak Darren pun lantas membaringkanku di atas ranjang pasien.

__ADS_1


"Silahkan anda tunggu di luar, kami akan membersihkan lukanya," ucap seorang perawat.


Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat kedua perawat itu mulai membersihkan luka di bagian punggungku.


"Lukanya cukup dalam, Dok. Sepertinya kita harus melakukan tindakan operasi pada pasien ini," ucap salah satu perawat.


"Baik. Suster Ana, segera persiapkan ruang operasi, saya akan minta keluarga pasien untuk menandatangani surat persetujuan operasi," ucap dokter.


Operasi? Baru beberapa hari yang lalu aku menjalani operasi usus buntu. Kini aku harus kembali masuk di ruang operasi.


Aku mendengar suara teriakan Lyra saat perawat membawaku menuju ruang operasi. Pun aku tak mampu berbuat apapun.


Ruangan itu adalah ruangan yang sama saat aku menjalani operasi kemarin.


"Bismillah," dokter sebelum memulai melakukan tindakan.


Tiba-tiba aja seseorang berpakaian serba putih datang menghampiriku.


"Azzura," panggilnya.


"Ayah?"


"Sepertinya saat itu sudah tiba. Urusanku sudah selesai, bawa aku bersamamu, Yah."


"Tidak, Nak. Masih banyak urusan yang belum kamu selesaikan. Pulanglah, kembalilah pada tubuhmu," ucap ayah.


Aku memandang tubuhku yang tengah terbaring di meja operasi. Satu persatu perawat memberikan alat yang dibutuhkan oleh dokter untuk memperbaiki luka di bagian punggungku.


"Pasien kehilangan banyak darah, Dok, dia membutuhkan transfusi darah secepatnya," ucap perawat.


"Apa golongan darah pasien?"


"B, Dok."


"Segera ambil kantung darah di bank darah."


Perawat itu pun beranjak dari ruang operasi.


"Bagaimana operasi adik saya, Sus?" tanya kak Darren perawat itu keluar dari ruang operasi.

__ADS_1


"Pasien kehilangan banyak darah, dia membutuhkan transfusi darah secepatnya. Saya akan ke bank darah untuk memeriksa persediaan darah di sana."


Beberapa saat kemudian perawat itu kembali menghampiri kak Darren. Namun ia memberi kabar yang kurang enak untuk didengar.


"Apa di Antara kalian ada yang memiliki golongan darah B? Persediaan kantung darah di Bank darah kebetulan habis."


"Ya Allah, ujian apalagi ini?" Ucap kak Darren parau.


"Ibu akan coba menghubungi Gibran, semoga saja dia bisa membantu," ucap ibu.


Aku pun bisa mendengar jelas percakapan antara ibu dengan calon suamiku itu karena ibu sengaja mengaktifkan pengeras suara di ponselnya.


[Halo, Assalamu'alaikum, Nak]


[Waalaikumsalam, ada apa, Bu?]


[Zura … Zura …]


[Kenapa dengan Zura?]


[Zura mengalami kecelakaan dan dia kehilangan banyak darah. Sekarang dia berada di dalam ruang operasi. Dia membutuhkan transfusi darah golongan B]


[Innalillahiwainnailaihirojiun. Baik, Bu. Saya akan segera ke sana]


-Ibu mengakhiri percakapan-


"Nenek, ibu kenapa? Ibu nggak akan ninggalin Lyra 'kan?" tanya Lyra dengan suara serak karena terlalu banyak menangis.


"Yang bisa kita lakukan sekarang hanya berdo'a Sayang," ucap ibu seraya memeluknya.


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2