
Hari ini adalah hari ulang tahun putri pertama semata wayangku, Lyra. Aku sengaja membuat nasi kuning kemudian kubagikan pada para penghuni kost.
"Kenapa Ibu tidak membuat pesta ulang tahun untuk Lyra? Saya rasa uang Ibu cukup untuk membeli kue ataupun perlengkapan pesta lainnya," ucap Fina, karyawan yang membantuku menjahit.
"Tidak, Fin. Usia Lyra baru satu tahun. Dia juga belum paham apa itu ulang tahun," ujarku.
Fina. Gadis berusia lima belas tahun itu adalah karyawanku yang hampir tiga bulan membantu pekerjaanku menjahit. Aku masih ingat betul sore itu Fina melintas di tempat kost ku sambil menangis dan menenteng tas berukuran cukup besar. Saat kutanya kenapa, jawabannya sungguh membuatku iba. Gadis yang baru lulus SMP itu mengaku baru saja diusir ibu tirinya setelah ayah kandungnya meninggal satu Minggu yang lalu. Aku pun menawarinya untuk tinggal bersamaku. Namun gadis itu menolak. Dia justru mengatakan mau tinggal bersamaku asalkan diperbolehkan ikut membantuku menjahit. Ternyata Fina cukup pandai. Hanya dibutuhkan waktu beberapa hari saja untuk mengajarinya hingga benar-benar bisa menguasai mesin jahit.
"Oh ya. Apa aku bisa minta tolong padamu?" tanyaku.
"Minta tolong apa, Bu?"
"Persediaan benang jahit sudah mulai menipis. Aku minta tolong belikan di toko peralatan menjahit, sementara itu aku akan memasak nasi kuning."
"Baik, Bu. Ibu catat saja barang-barang yang harus saya beli."
Setelah mencatat barang-barang yang harus dibeli, Fina pun lantas pamit keluar rumah.
Aku tengah sibuk memasak ketika tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu depan rumahku. Aku pun bergegas membukanya. Alangkah terkejutnya saat melihat siapa tamuku pagi itu.
"Fabian? Kamu?"
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
"Di mana Lyra?"
"Dia sedang bermain di dalam kamar."
Lyra yang belum begitu lancar berjalan itu tiba-tiba keluar dari dalam kamar seolah ingin menyambut kedatangan ayah kandungnya.
"Lyra Sayang, ke sini, Nak.'
"A … yah …!" celoteh nya. Meski pijakan kakinya belum terlalu kuat, bayi yang kini mulai tumbuh besar itu terlihat berusaha keras menghampiri Fabian. Hingga akhirnya Fabian merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
Fabian lantas mengambil kotak berukuran besar yang sebelumnya ia letakkan di atas sepeda motor.
"Lyra baru berumur satu tahun. Dia belum bisa menaiki sepeda," ucapku setelah tahu isi di dalam kotak itu ternyata sebuah sepeda.
"Tidak apa. Lyra tumbuh besar 'bukan? Suatu saat nanti dia pasti bisa menaiki sepeda ini."
"Apa aku boleh masuk ke dalam?" tanyanya.
__ADS_1
"Maaf, kita bukan suami-istri lagi. Aku takut terjadi fitnah jika kita masuk ke dalam rumah," ucapku. Fabian mengangguk paham.
"Oh ya. Beberapa hari yang lalu aku menemui Mila. Dia mengatakan akhir-akhir ini kamu jarang menjenguknya lagi. Apa benar begitu?"
"Ti-ti-tidak. Mila hanya mengada-ada. Aku sering menjenguknya," bantah Fabian.
"Aku bisa melihat dari sorot matanya jika dia sungguh-sungguh dengan ucapannya."
Suasana hening sejenak.
"Sebenarnya … ehm, …" Fabian menggantung kalimatnya.
"Kenapa?"
"Aku-aku berniat menceraikannya."
"Apa?!"
Bersambung …
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…