Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Undangan


__ADS_3

Waktu satu minggu untuk merencanakan sebuah pernikahan tentu saja bukan waktu yang lama. Meskipun hanya kerabat dekat dan sahabat saja yang diundang, tetap saja acara itu membutuhkan banyak persiapan. Mendesain baju pengantin salah satunya. Aku pikir mudah saja dengan membeli baju pengantin di butik, namun tidak dengan Gibran, dia memilih untuk mendesain sendiri baju pengantin kami.


Aku menurut nasehat ibu, beberapa hari sebelum akad nikah kami tidak izinkan untuk bertemu. Itulah sebabnya Gibran menyuruh seseorang untuk mengantarkan baju pengantinku sekaligus gaun untuk Lyra ke rumahku agar kami mencobanya. Jika kekecilan atau kebesaran dia akan memperbaiki ukurannya.


"Alhamdulillah, ukurannya pas sekali di badan saya," ucapku pada laki-laki yang mengaku bernama Adrian setelah aku mencoba gaun pengantin rancangan calon suamiku itu.


"Baik, Bu, nanti saya sampaikan pada mas Gibran. Kalau begitu saya permisi dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Adrian pun lantas berlalu dari hadapanku.


"Lyra, Sayang," panggilku.


Tidak berselang lama puteri semata wayangku itu pun keluar dari ruang keluarga. Dia sedang menonton televisi bersama Fina.


"Ada apa, Bu?" tanyanya.


"Gaun Lyra sudah jadi," ucapku seraya menyodorkan gaun berwarna hijau tosca itu padanya.


"Asyik!" soraknya.


Dengan dibantu Fina, Lyra pun mengenakan gaun tersebut, dan lagi-lagi ukurannya pas di badannya.


"Bagus sekali gaun pengantin nya. Cinderella pasti kalah cantik jika Ibu memakainya," puji Fina.


"Tidak usah berlebihan begitu."


"Bener loh, Bu. Ini adalah baju pengantin paling indah yang pernah kulihat."


Kutanggapi ucapan Fina dengan senyum simpul di bibir.


"Oh ya Bu, apa Pak Fabian dan istrinya diundang ke acara pernikahan Ibu nanti?" tanya Fina.


"Ya, bagaimanapun Kak Maureen adalah keluargaku. Aku akan mengundangnya."


"Sudahlah, jangan pernah lagi berurusan dengan kakakmu itu. Percaya sama ibu, kalau kamu datang ke rumahnya, kamu hanya akan dibuat sakit hati," ucap ibu yang juga baru muncul dari ruang keluarga.


"Aku paham betul sifat Kak Maureen. Akan tetapi, salah menurutku jika aku tidak mengundangnya datang ke acara pernikahanku," ucapku.


"Ya sudah, terserah kamu saja. Kamu harus siap kalau dia tidak menyambut baik kedatanganmu. Apalagi di sana ada si Kinanti. Si mulut nyinyir itu pasti akan menghinamu habis-habisan jika tahu kamu akan menikah lagi."


"Bu Sabrina benar, Bu. Daripada Ibu hanya di buat sakit hati, mending ibu tidak usah mengundangnya." Fina menimpali.


Aku mengulas senyum.


"Tidak baik berprasangka buruk begitu. Aku ke sana hanya untuk mengantar surat undangan, itu saja."


"Ya sudah, Ibu suruh saja salah satu karyawan Ibu untuk mengantar undangan ke rumahnya. Dia datang atau tidak yang penting Ibu sudah mengirimkan surat undangan untuknya," ucap Fina lagi.


"Kak Maureen itu keluargaku. Rasanya kurang pantas jika aku mengirim surat undangan pernikahanku tidak melalui tanganku sendiri."


"Ya sudah, terserah Ibu saja."


Fina berlalu dari hadapanku kemudian masuk ke dalam kamarnya.


"Lyra mau ikut ibu?" tanyaku.


"Ke mana, Bu?"

__ADS_1


"Ke rumah nenek Kinanti."


"Nggak mau ah!"


"Loh, kenapa nggak mau? Nenek Kinanti nenek kamu juga loh."


"Nenek Kinanti sekalang galak sama Lyla. Lyla nggak mau ketemu dengannya lagi."


"Kamu nggak boleh berkata begitu, Sayang. Bagaimanapun nenek Kinanti adalah orang tua yang harus kamu hormati juga. Oh ya, nanti kamu juga ketemu dengan ayah Fabian. Memangnya kamu nggak kangen?"


"Nggak. Lyla nggak sayang sama ayah Fabian lagi, Lyla hanya sayang sama ayah Giblan."


Lyra memang tumbuh semakin besar, mungkin dia sudah bisa merasakan ketulusan dan kasih sayang dari Gibran hingga dia bisa melontarkan kalimat itu. Pun aku tak pernah sekalipun mengajarinya untuk membenci apalagi menyimpan dendam pada ayah kandungnya.


"Lyra mau ke mana?" tanyaku saat gadis kecilku itu berlalu dari hadapanku.


"Ke kamar Mbak Fina."


"Jadi, Lyla beneran nggak mau ikut ibu?"


"Nggak," jawabnya sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar Fina.


"Anak sekecil Lyra saja sudah bisa merasakan jika rasa tidak peduli Fabian membuatnya benci padanya," ucap ibu.


"Fabian memang pernah melakukan kesalahan, tapi aku tidak akan pernah membuatnya buruk di mata putriku," ujarku.


Tiba-tiba pak Amin memasuki ruang tamu.


"Kita jadi pergi, Bu?" tanyanya.


"Oh ya, Pak, kita berangkat sekarang."


Setelah berpamitan pada ibu, aku pun keluar meninggalkan ruang tamu dan menuju mobilku yang berada di halaman rumah.


"Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan, Pak, itu saja. Bagaimana mereka menanggapinya, bukan masalah bagiku."


Pak Amin mengangguk paham.


Sesampainya di rumah kak Maureen.


Kedatanganku disambut ramah oleh asisten rumah tangga di rumah berlantai dua itu. Ia pun lantas mengajakku masuk ke dalam ruang tamu. Ternyata bu Kinanti yang menemuiku.


"Assalamualaikum, Bu," sapaku.


"Ngapain kamu ke sini?" ketusnya.


"Ehm … Kak Maureen ada, Bu?"


"Dia lagi shopping. Apalagi pekerjaannya kalau bukan menghambur-hamburkan uang."


"Bagaimana kabar Ibu?"


"Sudahlah jangan bertele-tele, apa sebenarnya tujuanmu datang ke rumah ini?"


"Selain untuk bersilaturahmi, kedatanganku ke rumah ini juga untuk mengantarkan surat undangan ini untuk kak Maureen," ucapku seraya mengambil sepucuk surat undangan dari dalam tasku lalu meletakkannya di atas meja.


"Surat undangan? Memangnya siapa yang menikah?"


"Insyaallah aku, Bu."

__ADS_1


"Memangnya masih ada yang mau dengan janda beranak satu sepertimu?"


Sungguh, ucapan itu terdengar begitu menyakitkan. Pun aku mencoba menanggapinya dengan tersenyum.


"Alhamdulillah, Bu. Allah mengirimkanku seorang laki-laki yang mau menerima aku dan Lyra apa adanya."


"Halah. Pasti laki-laki itu hanya mengincar hartamu saja .Kamu 'kan sekarang sudah jadi pengusaha sukses."


"Gibran bukan laki-laki seperti yang Ibu tuduhkan. Jika dari segi finansial dia bahkan lebih mapan dariku."


"Oh jadi masuk kedatanganmu ke sini untuk pamer kalau kamu bisa menikah dengan laki-laki yang lebih kaya dari Fabian, begitu?"


"Astaghfirullahaladzim, bukan begitu maksudku, Bu. Aku hanya, …"


"Bi, antar dia keluar dari rumah ini," ucap Ibu Kinanti pada asisten rumah tangganya.


"Loh, kok diusir? Ibu ini hanya ingin mengantarkan surat undangan saja 'bukan?" protes wanita berdaster itu.


"Kalau tidak tahu apa-apa itu tidak usah berkomentar," sungut bu Kinanti.


"Ya sudah, Bu, kalau begitu aku permisi dulu.Tolong sampaikan undangan ini kepada Kak Maureen," ucapku.


Bu Kinanti memalingkan wajahnya dariku.


Beliau bahkan enggan menjawab salamku saat aku berlalu dari hadapannya.


"Ya Rabb, sebenci inikah mantan ibu mertuaku padaku?" gumamku.


Aku melangkah menuju halaman rumah di mana Pak Amin menungguku. Di saat itulah sebuah mobil muncul. Mobil siapa ini? Sepertinya aku belum pernah melihatnya.


Beberapa saat kemudian pintu mobil itu pun terbuka. Tanpa Fabian dan kak Maureen keluar dari dalam sana.


"Ngapain kamu di sini?" ketus kak Maureen.


"Aku ke sini untuk mengantar surat undangan pernikahan."


"Memangnya siapa yang mau menikah?"


"Insyaalah aku yang mau menikah."


"Wow! Laki-laki bodoh mau menikahi perempuan keras kepala sepertimu?"


"Saya heran loh dengan keluarga ini. Nggak Ibu Kinanti, nggak Ibu Maureen, Sepertinya kalian tidak menyukai kedatangan Ibu ini. Padahal dia ke sini dengan maksud baik," ucap sang asisten rumah tangga yang tiba-tiba saja muncul di halaman.


"Diam kamu! Kerjakan saja apa yang menjadi tugasmu!" sentak kak Maureen.


Asisten rumah tangga itu menurut. Ia lantas masuk kembali ke dalam rumah.


"Aku datang ke sini hanya untuk mengantarkan surat undangan, Assalamualaikum."


"Aku sumpahi, pernikahan kalian tidak akan bahagia!" umpat kak Maureen.


Aku hanya mengelus dada mendengar ucapannya.


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"

__ADS_1


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2