Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
The last


__ADS_3

POV Author.


Bu Sabrina dan Fina tengah dilanda kebingungan. Di satu sisi mereka harus secepatnya mengurus jenazah pak Amin, namun di sisi lain mereka harus segera mencari keberadaan Azzura.


"Bagaimana ini, Bu? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Fina.


"Biar saya dan tetangga yang mengurus jenazah pak Amin, Bu Sabrina dan Mbak Fina cepat hubungi mas Keenan lalu minta bantuannya untuk mencari Bu Azzura dan Lyra," ucap bi Ami. Keduanya pun mengangguk setuju.


Fina bergegas mengambil ponsel Azzura lalu menghubungi nomor Keenan.


[Halo, Assalamu'alaikum, Mas Keenan]


[Wa'alaikumsalam, Fina. Kenapa kamu menelponku dengan nomor ibumu? Semuanya baik-baik saja 'bukan?]


[Tidak, Mas. Ada hal buruk yang terjadi di rumah kami]


[Ada apa sebenarnya? Kenapa suaramu bergetar begitu?]


[Ibu … Ibu …]


[Kenapa dengan ibumu?]


[Ibu dan Lyra diculik]


[Apa?!]


[Mas Keenan bisa 'kan datang ke rumah kami sekarang?]


[Iya. Sekarang juga aku ke rumah kalian]


-Panggilan terputus-


Dua puluh menit kemudian Keenan tiba di rumah Azzura. Ia keheranan saat mendapati ada banyak orang di sana ditambah lagi dengan bendera berwarna kuning yang terpasang di pintu gerbang.


"Maaf, Pak. Siapa yang meninggal?" tanyanya.


"Pak Amin, sopir pribadinya bu Azzura."


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."


"Keadaan rumah ini sedang kacau. Bu Zura dan putrinya diculik, sementara pak Amin meninggal dunia."


"Kalau boleh saya tahu, apa penyebab pak Amin meninggal dunia?" tanya Keenan lagi.


"Saya dengar pak Amin berusaha melawan penculik itu namun ia didorong hingga terjatuh. Kepalanya membentur lantai dan ia meninggal di tempat."

__ADS_1


"Mas Keenan!" panggil Fina yang baru saja muncul dari dalam rumah, di belakangnya bu Sabrina mengekor.


"Aku sudah tahu apa yang terjadi di rumah ini. Sebaiknya kita lapor polisi sekarang. Kita harus secepatnya menemukan Zura dan Lyra. Apa saja bisa dilakukan penculik itu."


"Kami bingung hingga sama sekali tidak kepikiran untuk menghubungi polisi," ujar Fina.


Tiba-tiba seorang pria menghampiri mereka.


"Seto?"


"Saya dengar bu Azzura dan Lyra diculik. Izinkan saya ikut mencarinya," ucapnya.


Keenan mengangguk setuju.


"Bismillah, mari naik ke mobilku. Kita ke kantor polisi."


****


Sementara itu di sebuah tempat terjadi obrolan antara Maureen dan Luna dengan dua orang pria.


"Kalian sudah menjalankan tugas dariku?" tanya Maureen.


"Beres, Bos. Perempuan dan anak perempuannya itu sudah kami kunci di dalam gudang minyak tanah."


"Eittt. Mana sisa upah kami?"


"Bukankah sudah kubilang kekurangan upah kalian akan kubayarkan setelah harta Zura jatuh ke tanganku? Dia harus menandatangani surat pengalihan harta ini." Maureen memperlihatkan sebuah map pada kedua pria tersebut.


"Jangan lupa, pembagiannya 50:50."


Luna menimpali.


"Itu urusan gampang. Yang terpenting sekarang kita harus mendapatkan tanda tangan Zura di atas materai ini. Sekarang juga kalian antar kami kesana," ucap Maureen yang kini sudah mengenakan topeng.


"Maaf, Nyonya Maureen, kami masih ada urusan," ucap Max.


"Astaga. Jadi kalian menolak perintahku?"


"Berikan dulu sisa upahnya," desak Max.


"Aku tidak memiliki uang lagi. Lima puluh juta itu adalah uang tabunganku yang terakhir."


"Ya sudah, kalian naksi saja. Gudang itu ada di dekat hutan."


"Hufht!" Meski kesal, Maureen dan Luna tidak memiliki pilihan selain menumpangi taksi.

__ADS_1


Sesampainya di gudang.


Maureen dan Luna tercengang lantaran mendapati gudang tersebut dalam keadaan terbakar.


"Astaga. Apa yang dilakukan kedua pria dunguu itu. Aku hanya menyuruh mereka untuk menculik dan mengunci mereka di gudang, bukan membakarnya," ucap Maureen.


"Lantas, bagaimana dengan tanda tangan Azzura? Apa kita gagal mengambil alih hartanya?"


"Jangan bergerak!" seru seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.


"Astaga! Polisi!"


"Saudara Maureen! Saudara Luna! Kalian berdua kami tangkap dengan tuduhan otak penculikan!" seru polisi.


"Tidak! Aku tidak ingin masuk penjara lagi!" seru Maureen. Dia lantas mencoba lari meninggalkan tempat itu.


"Saudara Maureen! Jika anda mencoba melarikan diri, kami tidak segan-segan menembak anda!" ancam polisi.


"Dor!" Suara tembakan peringatan pertama memecah keheningan malam. Namun Maureen tak menghiraukannya. Ia masih saja berlari menghindari kejaran polisi.


"Dor!" Tembakan ke dua kembali terdengar.


"Saudara Maureen! Jika anda belum menyerah, kami terpaksa menembak anda!" ancam polisi.


"Tidak! Aku tidak mau masuk penjara lagi."


Maureen terus berlari ke dalam hutan.


Polisi yang mulai geram itu terlihat membidik sasarannya.


"Dor!"


"Arggggh!" pekik Maureen lantaran sebutir timah panas baru saja menembus kaki kirinya.


Tidak lama kemudian mobil Keenan tiba di tempat itu. Fina menjerit histeris saat mendapati bangunan yang berada di depan matanya telah terbakar.


"Ibu! Lyra!"


"Zura … Lyra … apa kalian tidak selamat?" ucap bu Sabrina. Tiba-tiba tubuhnya luruh di tanah.


"Zura … apa kamu sudah pergi?" ucap Keenan parau.


-TAMAT-


Tunggu sekuel nya ya… Terima kasih sudah membaca🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2