
Lekas kutarik tanganku dari genggamannya.
"Ma-ma-af, aku tidak sengaja," ucap Gibran kikuk. "Kamu jangan takut dengan ancaman itu, aku akan menjadi orang pertama yang membelamu jika kamu harus berhadapan dengan hukum. Aku akan menyewa pengacara terbaik untukmu."
Menenangkan. Ya, kalimat demi kalimat yang meluncur dari bibir Gibran membuat batin ini seketika merasa tenang. Untuk pertama kalinya aku mengucap syukur dipertemukan dengan laki-laki sepertinya.
Aku sedikit tersentak saat tiba-tiba ponselku berdering. Aku pun lekas mengambil gawai pipih itu dari dalam tas selempangku. Karena terburu-buru, obat yang baru saja kubeli dari apotek itu tak sengaja terbawa keluar dan terjatuh. Aku hendak memasukkannya kembali ke dalam tasz namun ternyata aku kalah cepat. Tablet antibiotik itu kini telah berada di tangan Gibran.
Aku menatap layar ponselku. Rupanya ibu yang menelpon.
[Halo, Assalamu'alaikum, Bu]
[Waalaikumsalam, Kamu di mana? Sudah siang begini kok belum pulang. Ibu khawatir, Nak]
[Aku-aku sedang di cafe, Bu]
[Di cafe? Bukannya tadi kamu pamit mau ke rumah sakit?]
[Ehm … Gibran yang menjemputku]
[Oh, ya sudah. Kalau kamu bersama dia sih sudah pasti aman. Ibu tidak enak jadi ganggu]
[Ah! Ibu ini bicara apa]
[Ya sudah, ibu tutup dulu teleponnya. Assalamu'alaikum]
[Waalaikumsalam]
-Panggilan terputus-
"Ibu ya yang menelpon?" tanya Gibran.
"Ibu?"
"Ehm … maksudku bu Sabrina."
Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban.
"Antibiotik ini untuk siapa?" tanya Gibran lagi.
"Ehm … bukan untuk siapa-siapa. Aku selalu menyimpannya di dalam tas ku."
"Di mana-mana persediaan itu obat pereda nyeri, bukan antibiotik."
Tiba-tiba rasa mual itu kembali menyerangku.
"Hoeek!"
"Kamu kenapa?" tanya Gibran. Raut wajahnya tiba-tiba berubah panik.
"Tidak apa, perutku sedikit mual, mungkin karena aku tidak terbiasa minum cokelat."
"Ya sudah, aku antar kamu pulang sekarang. Ibumu pasti mencemaskanmu," ucap Gibran. Aku mengangguk setuju.
Gibran mengambil selembar uang pecahan seratus ribu dari dalam dompetnya lalu meletakkannya di atas meja. Dia lalu mengajakku meninggalkan cafe.
__ADS_1
Entah mengapa di dalam mobil Gibran rasa mualku semakin menjadi.
"Kamu ini mabok kendaraan atau bagaimana? Apa perlu kumatikan AC nya?"
"Tidak perlu. Sepertinya aku hanya masuk angin."
"Ya sudah, kita ke dokter sekarang."
Yang benar saja, aku baru saja dari dokter, masa mau ke dokter lagi.
"Tidak usah, jika sudah sampai di rumah nanti aku akan langsung minum obat."
"Bener ya, minum obat, lalu istirahat. Jangan terlalu banyak pikiran. Aku takut kalau kamu sakit."
Baru kubilang masuk angin saja, Gibran sudah secemas ini. Bagaimana kalau dia tahu tentang penyakitku?
"Oh ya, bagaimana kabar ibumu? Kemarin kamu bilang beliau sakit perut."
"Kemarin aku sudah mengantarnya ke dokter."
"Lantas, apa kata dokter?"
"Dokter mengatakan ibuku terkena batu empedu."
"Innalillahi wainna ilaihi roji'un."
"Tidak perlu khawatir, itu bukan suatu penyakit yang menakutkan."
"Meskipun bukan penyakit yang menakutkan, tetap saja kamu tidak bisa meremehkannya," ujarku.
Beberapa saat kemudian, kami tiba di rumahku. Kulihat ibu dan putriku, Lyra sudah menyambutku di depan pintu.
"Ibu! Paman Giblan!" panggilnya seraya berlari ke arah kami. Bukannya aku yang dipeluk, putriku itu justru menghambur ke dalam pelukan Gibran.
"Paman Gibran, ayo masuk. Tadi Lyla menggambal di sekolah."
Lyra menggandeng tangan Gibran lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Tadi Lyla disuruh Bu gulu menggambal kelualga Lyla." Puteri kecilku itu mengambil buku gambar dari tas sekolahnya lalu memperlihatkannya pada kami. Di gambar berwarna-warni yang belum begitu rapi itu tampak dua orang perempuan da seorang laki-laki serta seorang anak perempuan yang memegang balon.
"Coba Paman Giblan tebak ini siapa saja."
Gibran pun lantas mengamati goresan pensil warna dari bocah TK itu.
"Kedua perempuan ini ibu dan nenekmu, yang pegang balon ini Lyra, dan laki-laki ini ayah Fabian. Benar 'kan?"
Lyra menggeleng cepat.
"Bukan, Paman. Itu bukan ayah Fabian."
"Lantas?"
"Itu Paman Giblan."
"Yah … paman salah tebak." Gibran terkekeh. Entah mengapa aku bisa menangkap sorot matanya yang berubah menjadi berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kenapa Lyra menggambar paman?"
"Kalena Paman baik sama Lyla dan sama ibu. Paman Giblan yang sudah menolong Lyla saat Lyla jatuh di kolam lenang kemalin. Paman Giblan adalah pahlawan Lyla," ungkap Lyra dengan mata polosnya.
Gibran tak mampu berkata apapun lagi. Ia merengkuh tubuh putriku ke dalam pelukannya.
"Kenapa Paman Giblan menangis?" tanya Lyra.
"Paman tidak menangis kok, Sayang. Sepertinya mata paman kelilipan."
Obrolan kami berhenti saat tiba-tiba Seto memasuki ruang tamu.
"Bu Zura."
"Ada apa Seto?" tanyaku.
"Ehm … anu anu … ada kekacauan di ruang produksi."
"Maksud kamu apa?"
"Ini karena kecerobohan dua karyawan baru itu, Bu?"
"Maksud kamu hari Rini dan Ayu?"
"Benar, Bu."
"Baiklah, saya segera ke sana. Lyra di sini dulu sama paman Gibran, ya. Ibu ke ruang produksi dulu," ucapku. Putri kecilku itu mengangguk paham.
Aku beranjak dari ruang tamu dan menuju ruang produksi.
Benar rupanya, di ruangan itu terjadi kegaduhan.
"Ada apa ini?" tanyaku.
"Ini, Bu. Kedua karyawan baru ini salah menjahit," jelas salah satu karyawanku.
"Salah jahit bagaimana?" tanyaku lagi.
"Mereka menjahit asal-asalan tidak sesuai dengan pola. Akibatnya hampir 100 pcs pakaian pesanan salah satu pelanggan kita gagal dikirim hari ini."
"Astaghfirullahaldzim. Rini … Ayu. Kalian bisa jelaskan ini? Bukankah Seto sudah memberitahu kalian untuk menjahit bahan-bahan ini sesuai pola? Kenapa kalian menjahit asal-asalan?" cecarku.
Kedua karyawan baruku itu hanya diam dan tertunduk.
"Kenapa kalian diam saja? Jawab!" sentakku.
Bersambung…
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1