Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Cobaan itu bertambah


__ADS_3

"Ibu mau kemana?" tanyaku saat ibu keluar dari dalam kamarnya dengan membawa tas selempang miliknya.


"Ibu mau ke salon."


Aku cukup kaget mendengar jawaban itu. Memang, sejak tinggal bersamaku beliau tak pernah sekalipun pergi ke tempat perawatan kecantikan itu. Mungkin selama ini beliau paham pada kondisi keuanganku apalagi aku baru saja mulai merintis usaha.


Saat ayah masih hidup dan perusahaan keluarga kami sedang berkembang pesat, jangankan pergi ke salon. Ayah bahkan seringkali mengajak kami berlibur ke luar kota. Demi memahami apa keinginan ibu saat ini, aku pun aku pun memilih membiarkannya pergi. Tak tega rasanya jika harus melarangnya.


"Hati-hati, Bu," ucapku.


Gamis yang kujahit baru setelah jadi. Namun aku terpaksa meninggalkannya lantaran Lyra terbangun. Aku pun bergegas meninggalkan mesin jahitku dan masuk ke dalam kamar. Aku cukup kaget saat mendapati putri kecilku itu sudah dalam posisi tengkurap. 


"Solehah nya ibu sudah bisa tengkurap rupanya," ucapku yang ditanggapinya dengan meringis memperlihatkan gusinya yang belum ditumbuhi gigi satu biji pun.


Tiba-tiba aroma khas menguar dan cukup menusuk hidungku menandakan jika aku harus segera mengganti popoknya dengan popok baru. Ah! Aku lupa pagi tadi popoknya hanya tinggal satu biji. Tidak ada pilihan selain membeli popok baru ke supermarket. 


Aku meninggalkan tempat kost ku hendak ke supermarket. Kebetulan jaraknya tidak sampai 500 meter, aku pun menempuhnya dengan berjalan kaki. 


"Mbak Zura mau kemana?" tanya salah satu warga yang tinggal tidak jauh dari tempat tempat kostku.


"Saya mau membeli popok di supermarket, Bu," jawabku.


"Oh ya. Ibunya Mbak Zura mau kemana?"


"Ehm, ibu saya ada perlu ke rumah kawannya, Bu."


"Kawannya Bu Sabrina kok masih muda ya?"


"Maaf, maksud Ibu bagaimana?"


"Saya sudah dua kali melihat Bu Sabrina dibonceng sepeda motor oleh seorang laki-laki."


Hah? Apa sebenarnya maksud ibu ini? Siapa laki-laki yang dimaksud? Apa itu pak Prayoga? Sepertinya bukan. Menurutku usia pria itu sudah tak bisa dikatakan muda lagi. 


"Apa Ibu tidak salah lihat?"


"Tidak, Mbak. Saya hafal sepeda motor yang dipakai laki-laki itu."


"Ehm, itu saudara kami, Bu."


Aku terpaksa berbohong agar ibu yang sedang mengobrol denganku ini tidak berpikiran buruk pada ibu. Meskipun aku sendiri bertanya-tanya siapa sebenarnya laki-laki itu.


"Oh, begitu ya. Saya pikir itu pacarnya Bu Sabrina." Perencanaan paruh baya itu terkekeh.


"Ehm…bu-bu-bukan, Bu."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi."


Setelah hampir lima belas menit berjalan kaki, aku pun sampai di supermarket. Jujur, ucapan ibu tadi cukup mengganggu pikiranku. Apakah benar ibu pergi bersama seorang laki-laki? Jika memang iya, siapa dia? Dan apa hubungannya dengan ibu?


Aku tersentak kaget saat tiba-tiba seseorang menepuk punggungku. 


"Zura…?"


Ah! Ternyata sahabat lamaku, Khumayra.


"Apa kabar 'Ra? Sudah cukup lama kita nggak ketemu."


"Alhamdulillah, baik."


"Hai, Lyra cantik. Sudah bisa apa sekarang?" sapa Mayra sembari mengusap lembut pipinya.


"Lyra sudah tengkurap, Auntie," jawabku.

__ADS_1


"Anak pintar," ucap Mayra yang ditanggapi Lyra dengan senyum lebar.


"Oh ya. Kamu nggak kerja, May?" tanyaku.


"Hari ini aku libur. Aku berbelanja ke supermarket ini karena barang yang kucari tidak kutemukan di supermarket biasanya."


"Memangnya kamu cari apa?" tanyaku.


Mayra membisikkan sesuatu di telingaku yang seketika membuatku tersenyum geli.


"Loh, kamu kok membeli pakaian dalam pria sih? Memangnya buat siapa?" tanyaku.


"Buat mas Irwan."


"Kakakmu?"


"Iya lah. Siapa lagi. Aku kan cuma dua bersaudara."


"Kamu bilang kakakmu bekerja di luar kota. Memangnya di sana nggak ada yang jual pakaian dalam?"


"Bukan begitu, Ra. Sudah beberapa hari ini mas Irwan pulang. Tapi dia kekurangan pakaian dalam karena tertinggal di sana. Tapi mas Irwan malu untuk membeli. Dia malah menyuruhku untuk membelinya."


Lagi-lagi ucapan itu membuat tawaku kembali pecah.


"Aku lagi kesal sama mas Irwan."


"Kesel kenapa, May?"


"Hampir setiap hari mas Irwan pergi nggak jelas. Dia pergi siang-siang begini dan baru pulang menjelang Maghrib."


"Memangnya kakakmu nggak bilang mau pergi kemana? Atau pergi dengan siapa?"


"Dia cuma bilang urusan laki-laki."


"Mungkin mas Irwan pergi bertemu dengan kawan-kawannya. Kan sudah lama juga dia tidak pulang."


"Mas Irwan sudah punya pacar?" tanyaku.


"Entahlah. Aku tak tahu siapa perempuan itu. Tapi aku sempat mendengar selentingan jika mas Irwan pergi dengan perempuan yang usianya jauh lebih tua darinya."


Deg! Jantungku rasanya berhenti berdetak. Apakah perempuan yang dimaksud Mayra adalah ibu? Dan laki-laki yang dimaksud Mayra adalah mas Irwan? Apakah ibu kembali mengulangi kesalahannya? 


"Kamu beli apa, Ra?" tanya Mayra.


"Ra…are you OK?" 


"Ehm…i-i-iya. "


"Kamu lagi mikir apa sih, sampai bengong begitu? Apa Fabian berulah?"


"Ehm, nggak May. Aku hanya sedang berpikir barang apa yang harus kubeli selain popok."


"Oh ya. Kamu tinggal di mana?"


"Di tempat kost. Mungkin sekitar lima ratus meter dari tempat ini. Mampir yuk, mumpung kamu libur."


"Ehm, …"


"Lagipula kamu sendirian di rumah. Lebih baik mampir ke tempat kost ku. Kamu juga bisa bermain dengan Lyra."


"Ehm, benar juga."


"Begitu dong." 

__ADS_1


Setelah membayar barang belanjaan kami masing-masing, aku dan Mayra pun meninggalkan supermarket.


Sesampainya di tempat kost.


Mayra kaget saat tahu jika aku membuka jasa menjahit di tempat tinggalku.


"Siapa yang memberi ide membuka tempat usaha?" tanya Mayra.


"Ibuku."


"Oh ya. Di mana ibumu? Aku belum sempat berkenalan dengannya saat di rumah sakit kemarin."


"Kebetulan ibu sedang keluar."


"Memangnya ada urusan apa?" tanya Mayra. Aku mengangkat kedua bahuku.


Menjelang sore Mayra pamit pulang ke rumahnya.


"Makasih sudah mau mampir di kamar kost ku yang sempit ini," ucapku.


"Sama-sama. Aku akan sering mendatangi tempat ini."


"Salam untuk mas Irwan."


"Aku pulang dulu, Ra. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Aku pun lantas mengantar Mayra hiingga di depan pintu gerbang. Di saat itulah kulihat ibu pulang. Beliau terlihat turun dari sebuah taksi.


"Ada tamu rupanya. Sepertinya wajahmu tidak asing."


"Nama saya Khumayra. Perawat di rumah sakit MD."


"Pantas saja. Aku merasa kita pernah bertemu sebelumnya."


"Saya permisi dulu, Bu. Assalamu'alaikum." Mayra meraih tangan ibu lalu mengecup punggung tangannya.


"Waalaikumsalam."


Kebetulan sebuah taksi melintas. Mayra pun lantas menaiki taksi tersebut. 


"Ibu dari mana?" tanyaku sesaat setelah kami masuk kembali ke dalam rumah.


"Ibu dari rumah kawan ibu."


"Kawan Ibu yang mana?"


"Kawan lama ibu. Sudahlah, ibu lelah, mau istirahat."


"Bukannya tadi Ibu bilang mau ke salon?"


"Tidak jadi. Antre nya lama."


 


Ibu berlalu dari hadapanku. Di saat itulah indera penciumanku menangkap aroma asing di tubuh beliau. Aroma ini bukan aroma parfum yang biasanya ibu pakai. Apakah ibu berganti parfum? Atau jangan-jangan ibu…


Pikiran buruk itu tiba-tiba saja memenuhi isi kepalaku.


Bersambung…


Hai, pembaca setia….

__ADS_1


Ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2