
"Di depan ada tamu, Bu," ucap bi Ami yang tiba-tiba saja muncul di depan kamar Lyra.
"Siapa, Bi?" tanyaku.
"Sepertinya mereka belum pernah datamg ke sini."
"Mereka? Berarti tidak hanya satu orang."
"Ya, Bu. Seorang laki-laki dan seorang perempuan sama anak perempuan kecil seusia non Lyra."
"Aku baru saja beranjak dari kamar Lyra, tiba-tiba saja seorang anak kecil berlari ke arahku. Hampir saja aku menabraknya.
"Auntie Zura!" serunya.
Mendengar suara itu Lyra pun bergegas keluar dari dalam kamarnya. Ia lantas menghampiri sumber suara.
"Anisa!"
"Lyra!"
Kedua gadis kecil yang usianya hanya terpaut tiga bulan itu pun berpelukan saling melepas rindu.
"Kita main di kamarku, yuk." Lyra menggandeng tangan Anisa lalu mengajaknya masuk kedalam kamarnya.
Ya, ke tiga orang yang berkunjung ke rumahku adalah kakak laki-lakiku, kak Darren bersama istri dan anaknya, Fatimah dan Anisa.
"Assalamu'alaikum." Sepasang suami istri itu mengucap salam.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, akhirnya kalian datang juga ke gubuk ku."
"Gubuk apaan? Rumah udah kaya istana begini," bantah Fatimah.
"Bagaimana kabarmu Ra?" tanya kak Darren.
"Alhamdulillah, baik. Mimpi apa aku semalam hingga kedatangan tamu agung."
"Bisa saja kamu. Kami minta maaf baru sempat berkunjung ke rumahmu."
Aku mengulas senyum.
"Tidak apa. Aku tahu, Kak Darren 'kan orang sibuk. Sampai lupa, mari silahkan duduk." Aku menggandeng tangan Fatimah lalu mengajaknya duduk sofa.
"Maaf ya, Ra. Kalau tadi Anisa menerobos masuk begitu saja ke dalam kamar Lyra."
"Kenapa harus minta maaf segala. Seperti sama siapa saja. Lyra juga pasti kangen dengan Anisa."
"Mereka ini siapa, Bu?" tanya bi Ami.
"Oh, ini kakak laki-laki saya, namanya kak Darren, dan ini istrinya Fatimah. Fatimah ini kawan lamaku," jelasku.
"Oh, ya sudah, saya buatkan minuman dulu." Bi Ami meninggalkan ruang tamu. Tidak lama kemudian dia kembali dengan membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat dan sepiring kue basah.
"Silahkan, Pak, Bu."
"Terima kasih, Bi."
Bi Ami pun lantas meninggalkan ruang tamu.
"Aku bangga sama kamu, Ra. Kamu sekarang sudah menjadi seorang pengusaha," ucap kak Darren.
"Alhamdulillah, ini semua karena Allah yang begitu baik padaku."
Beberapa saat kemudian ibu muncul dari bagian belakang rumah. Tentu saja dia kaget bukan main saat mendapati kak Darren dan Fatimah di ruang tamu.
"Darren? Fatimah? Kalian?"
Ibu sampai mengucek matanya berulang untuk memastikan jika penglihatannya tidak sedang bermasalah.
"Ibu tidak salah lihat kok. Ini benar kak Darren dan Fatimah," ucapku.
"Masyaallah. Angin apa yang membawa kalian datang ke sini?"
"Anisa terus menanyakan Lyra, kangen katanya."
"Jadi, kalau Anisa tidak merengek menanyakan Lyra, kalian tidak akan ke sini?"
"Bukan begitu, Bu. Mas Darren sibuk dengan kegiatan mengajarnya. Dia hampir tidak pernah libur."
"Oh ya, apa aku boleh melihat konveksimu?" tanya kak Darren.
"Tentu saja."
"Mari, biar ibu temani. Biarkan adikmu dan istrimu mengobrol," ucap ibu. Keduanya pun lantas berlalu dari hadapan kami.
Tiba-tiba Lyra dan Anisa berlari menghampiri kami.
__ADS_1
"Eh, Lyra."
"Assalamu'alaikum, Bibi Fatimah," ucapan seraya menyalami tangan sahabatku itu kemudian mengecupnya.
"Waalaikumsalam, Sayang."
"Ibu … tadi Lyla belcelita paman Giblan," ucap Anisa dengan mata polosnya.
"Paman Giblan? Siapa dia?" tanya Fatimah.
Ah! Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar begini?
"Paman Giblan itu temannya ibu. Dia baik, suka mengajak Lyla dan ibu jalan-jalan, mengajali Lyla naik sepeda, dan suka main ke sini."
"Begitu ya, Ehm!" Tiba-tiba Fatimah berdehem seraya melirik ke arahku.
"Anisa, main boneka di telas yuk."
Lyra menggandeng tangan Anisa lalu mengajaknya menuju teras rumah.
"Main nya di teras saja ya, Sayang. Jangan jauh-jauh," ucapku.
Kedua gadis kecil yang sama-sama belum bisa menyebutkan huruf "R" itu mengangguk paham. Mereka pun lantas berlalu dari hadapan kami.
"Sepertinya ada yang sudau punya kawan dekat nih," sindir Fatimah yang sontak membuatku salah tingkah.
"Ah! Tidak kok, Fat," bantahku.
"Anak kecil selalu jujur loh. Dari caranya bercerita tentang siapa Gibran saja sepertinya Lyra begitu dekat dengannya. Apa kamu nggak mau berbagi denganku?"
"Dia hanya salah satu pelanggan konveksi ku."
"Sungguh?"
Karena terus mendesakku, akhirnya aku pun bercerita siapa sebenarnya sosok Gibran yang diceritakan Lyra tadi.
"Aku mengenal Gibran secara tidak sengaja. Dia adalah kakak dari seorang laki-laki yang memintaku menjahit baju pengantinnya. Meskipun ya, baju pengantin yang kujahit itu batal dipakai.
"Batal dipakai?"
"Ya. Calon pengantin wanita nya meninggal dunia sehari sebelum akad nikah."
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."
"Apa kamu sudah menerima lamarannya?" tanya Fatimah penasaran.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Gibran memang laki-laki yang baik, dan pengertian. Dia juga begitu menyayangi Lyra. Tapi, …"
"Tapi kenapa, Ra?"
"Aku masih ragu, lebih tepatnya aku belum siap membuka hati untuk laki-laki apalagi untuk menikah."
"Bukankah ku bilang sendiri dia laki-laki yang baik dan juga menyayangi Lyra? Kenapa kamu masih ragu? Memangnya apa yang membuatmu ragu."
"Masa lalunya."
Fatimah mengulas senyum.
"Bukankah setiap orang punya masa lalu? Tak jarang seseorang memiliki masa lalu yang kurang baik, namun dia mau berubah."
"Selain memiliki masa lalu yang terbilang kelam, salah seorang mantan kekasih Gibran masih saja mengusik kehidupannya. Bahkan, beberapa waktu yang lalu gadis bernama Luna itu mengikuti kami saat kami berjalan-jalan. Dia berusaha berniat buruk dengan cara mendorong Lyra ke dalam kolam renang hingga membuatnya nyaris tenggelam Alhamdulillah, Gibran berhasil menyelamatkan Lyra," ungkapku.
"Mungkin Gibran memiliki masa lalu yang kurang baik. Namun tidak adil rasanya jika hal itu kamu jadikan alasan untuk menggantung perasaannya. Setiap orang bisa berubah 'bukan?"
"Luna mengancamku agar menjauhi Gibran atau dia akan terus mencari cara untuk menghabisi kami."
"Itu hanya gertakan saja. Dia ingin mengetahui sedalam apa perasaanmu pada Gibran. Jika kamu sungguh-sungguh, kamu akan terus maju. Dia justru akan bersorak penuh kemenangan jika kamu mundur dan menyerah. Kamu pasti paham 'kan dengan maksud ucapanku?"
"Aku masih ragu menjalin hubungan dengan laki-laki."
Fatimah meraih tanganku lalu menggenggamnya.
"Kamu punya Allah, Ra. Libatkan Allah dalam setiap urusanmu. Minta petunjuk dari Nya. Dia lah sebaik-baik pemberi petunjuk. Insyaallah keraguanmu akan hilang," ucapnya.
"Terima kasih, Fat. Kamu sudah memberi pencerahan. Memang, selama ini aku terus melawan dan memberontak saat rasa nyaman itu datang dan memenuhi rongga dadaku."
"Sebenarnya Gibran sudah berhasil membuka pintu hatimu, hanya saja kamu masih ragu untuk membiarkannya masuk ke dalamnya. Oh ya, bagaimana kabar Fabian?" Tiba-tiba Fatimah mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentangnya?"
"Tidak apa. Aku hanya ingin tahu kabarnya saja.
"Kabarnya baik. Kini dia juga memiliki usaha konveksi sepertiku."
__ADS_1
"Dari begitu banyak jenis usaha, kenapa konveksi yang dipilihnya? Apa kamu tidak merasa curiga, Ra?"
"Kenapa aku harus curiga? Itu adalah haknya."
"Aku yakin Fabian membuka konveksi hanya untuk menyaingi usahamu.
"Tidak baik berprasangka buruk pada orang lain, ujarku.
Tidak lama kemudian Fina keluar dari dalam kamarnya. Melihat kedatangan tamu di ruang tamu, dia pun mengangguk sopan padanya.
"Loh, gadis itu siapa, Ra? Anaknya bibi?"
"Bukan."
"Lantas?"
"Namanya Fina. Di sudah cukup lama tinggal bersamaku."
"Dia bukan saudara ataupun kerabatmu 'bukan? Kenapa kamu mengajaknya tinggal bersama?"
"Aku kasihan padanya. Dia meninggalkan rumahnya karena sering mendapatkan perlakuan kasar dari ibu sambungnya."
"Aku iri padamu. Hatimu begitu baik dan tulus. Orang yang bukan siapa-siapa mu saja kamu tolong," ujar Lyra.
"Kamu berlebih, Fat. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan."
"Lyra di mana, Bu?" tanya Fina.
"Lagi main sama Anisa di teras."
Fina berlalu dari rusmg tamu lalu berjalan menuju teras.
"Mana, Bu? Tidak ada siapapun di teras."
"Ada kok. Tadi ibu lihat Lyra dan Anisa keluar dengan membawa boneka."
"Beneran gak ada. Boneka mereka pun nggak ada. Atau mungkin mereka sudah masuk ke kamar?"
"Dari tadi kami mengobrol di sini, sepertinya mereka belum masuk lagi ke dalam."
"Jadi, di mana mereka?"
"Sebaiknya kita cari mereka," ucap Fatimah seraya beranjak dari tempat duduknya.
Kami bertiga pun mencari di mana keberadaan Lyra dan Anisa dari semua ruangan di dalam rumah hingga ke halaman. Namun kami tidak menemukan mereka.
"Apa Pak Amin melihat Lyra dan Anisa?" tanyaku pada pak Amin yang tengah memotong rumput di taman kecil yang berada di samping halaman.
"Tidak, Bu. Tadi saya membersihkan halaman belakang, dan baru saja pindah ke sini."
"Ya Allah, di mana Lyra dan Anisa?" ucap Fatimah. Kepanikan terlihat jelas di raut wajahnya.
"Lyra … Anisa … kalian di mana, Sayang?" teriakku cukup lantang hingga terdengar oleh ibu dan kak Darren yang kini tengah berada di ruang produksi.
"Kamu kenapa, Nak?" tanyanya.
"Kami mencari Lyra dan Anisa. Mereka tadi main di teras tapi saat Fina memeriksanya, tidak ada siapapun di teras," jelas Fatimah.
"Apa kalian sudah mencari mereka sampai di halaman belakang?" tanya ibu.
"Belum, Bu."
"Coba kalian cari. Mungkin mereka sedang bermain di sana."
Aku dan Fatimah pun lantas berjalan menuju halaman belakang. Lagi-lagi hasilnya nihil. Kedua gadis kecil itu tak juga berada di sana.
"Jangan-jangan mereka diculik!" ucap Fatimah.
Tanpa membuang waktu lagi aku kembali menuju halaman rumah. Kulihat pintu gerbang yang tidak tertutup tepat. Apakah Lyra dan Anisa keluar dari pekarangan rumah ini?
"Fatimah, cepat! Kita cari mereka di sekitar komplek perumahan ini!" seruku.
Kami pun bertanya pada setiap orang yang kami temui, namun tidak ada seorangpun yang tahu di mana keberadaan Lyra dan Anisa.
"Di mana sebenarnya kalian, Nak," lirihku.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰
__ADS_1