
Aku sungguh tak menyangka, tamu yang datang ke rumahku malam itu adalah Gibran dan keluarganya. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba dia datang bersama orang tuanya? Bahkan tanpa memberitahuku sebelumnya.
"Assalamualaikum," sapa pak Yudha yang berdiri di barisan paling depan.
"Wa-wa-alaikumsalam."
Gugup, perasaan itulah yang menguasaiku saat ini. Kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak begini?
"Eh … tamu agung sudah datang rupanya," ucap ibu yang menyambut mereka di teras rumahku.
Apa? Tamu aku sudah datang? Apa ibu tahu tentang kedatangan mereka malam ini?
"Kenapa kamu membiarkan mereka di teras, Nak?"
"Oh, ma-ma-ri silakan masuk," ucapku dengan suara yang masih terbata.
Sepintas aku memandang wajah Gibran malam itu. Dia terlihat begitu tampan dengan setelan jasnya. Antara sang ibu tambah anggun dengan gaun malam berlengan panjang.
Selang beberapa saat kemudian Mbok Ami dan Fina keluar dari dalam dapur. Mbok Ami membawa nampan berisi 4 cangkir teh hangat, sementara Fina membawa beberapa piring kue basah.
Apa ini? Mereka bahkan membuatkan minum dan membawa jaminan sebelum menemui tamu-tamu ini. Jangan-jangan di rumah ini hanya aku saja yang tidak tahu menahan tentang kedatangan mereka.
"Paman Giblan!" Kulihat Lyra keluar dari dalam kamarnya. Dia pun sepertinya sudah tahu perihal kedatangannya.
"Kamu cantik sekali, Nak? Pasti Fina yang meriasmu," ucap bu Anita.
Oh, jadi Fina menjebakku. Rupanya tugas dari sekolah untuk merias wajahku hanya akal-akalannya saja. Sungguh sebuah kerjasama yang luar biasa.
"Te-te-terima kasih, Nyonya."
Aku cepat-cepat menundukkan wajahku sebelum Gibran menatapku.
"Silahkan diminum, Pak … Bu … Mas," ucap ibu.
Mereka pun lantas meraih cangkir masing-masing lalu meneguknya.
"Paman Giblan dan paman Nan-nan ganteng," ucap Lyra yang ditanggapi kedua kakak beradik itu dengan senyum tipis.
"Ehm!" Tiba-tiba pak Yudha berdehem. Sepertinya beliau akan mulai berbicara.
__ADS_1
Rasanya jantung ini ini memompa darah beberapa kali lipat lebih banyak dari sebelumnya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya dan keluarga mohon maaf jika kedatangan kami terkesan dadakan. Tujuan kami datang kemari adalah ingin menyampaikan maksud baik kami melamar Nak Zura untuk putra pertama kami yang bernama Gibran," ucap pak Yudha.
Mataku membulat. Aku hampir tidak mempercayai yang baru saja kudengar. Gibran dan keluarganya tiba-tiba saja datang melamarku tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Gibran ini begitu serius ingin melanjutkan hubungan dengan Nak Zura ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi saya Nak Zura juga menyambut niat baik putera saya ini," imbuhnya.
"Bagaimana, Nak? Apa kamu menerima lamaran kami?" tanya bu Anita. Detik kemudian semua pasang mata yang berada di ruangan itu menatap ke arahku. Menunggu sebuah jawaban yang tentunya mereka harapkan.
Aku terdiam sejenak dan berpikir. Kuakui aku merasa nyaman dan tenang berada di dekat Gibran. Dia juga memperlakukan Lyra dengan begitu baik dan penuh kasih sayang. Apakah ini artinya aku mulai jatuh cinta padanya? Lantas, bagaimana dengan mimpi yang hadir setelah shalat istikharah kemarin? Aku bahkan masih lagu dengan siapa sosok pria yang berada di dalam mimpi itu.
Aku memghela nafas panjang. Bismillah! Semoga jawabanku ini memberi kebaikan untuk semuanya.
"Saya-saya terima lamaran ini," ucapku.
"Alhamdulillah." Ucapan itu meluncur serempak dari semua orang yang berada di ruang tamu. Detik kemudian netraku dan netra Gibran bertemu. Aku dapat menangkap binar sekaligus haru di sorot matanya.
"Terima kasih, Nak Zura," ucap pak Yudha.
"Gibran tidak ingin mengadakan acara lamaran atau sejenisnya. Jadi, malam ini sepasang cincin inilah yang akan mengikat kalian sebelum menuju hubungan yang benar-benar sah di mata hukum dan agama," ucap bu Anita seraya mengeluarkan sebuah kotak berbentuk hati dari dalam tasnya lalu meletakkannya di atas meja. Beliau lalu meraih tanganku dan menyematkan cincin itu di jari manisku dan jari manis Gibran secara bergantian. Aku heran, kenapa cincin ini bisa pas sekali dengan ukuran jariku.
"Kenapa cincinnya bisa pas sekali ya, Bu? Semoga mereka benar-benar berjodoh," ucap ibu.
Sejenak aku menatap cincin bermata berlian yang melingkar di jari manisku. Aku yakin harganya setara dengan satu unit mobil.
"Ibu dan Paman Gibran mau menikah ya?" tanya Lyra dengan mata polosnya.
Kenapa anak sekecil ini bisa melontarkan pertanyaan itu? apakah ibu dan Fina sudah memberitahunya sebelumnya?
"Iya, Sayang. Tidak lama lagi paman Gibran ini akan menjadi ayahmu," jawab ibu.
"Hole! Lyla punya dua ayah!" soraknya.
"Oh ya, Bu Sabrina, mengenai rencana pernikahan mereka, bagaimana jika balikan mereka diadakan bulan depan?" ucap bu Anita.
"Zura yang menjalani pernikahan ini, jadi semua keputusan saya serahkan padanya," ucap ibu.
Lagi-lagi semua pasang mata tertuju padaku.
__ADS_1
"Bagaimana Nak Zura? Apa Nak Zura keberatan dengan rencana ini?" tanya pak Yudha.
Aku menghela nafas.
"Insya Allah saya setuju."
"Alhamdulillah." Sekali lagi kalimat itu meluncur bersamaan dari semua yang berada di dalam ruang tamu.
Ibu pun lantas mengajak Pak Yudha dan keluarganya menuju ruang makan.
Aku baru tahu inilah alasan bi Ami memasak rendang malam ini.
"Untuk pernikahan kalian nanti, konsep seperti apa yang tak sudah inginkan? Di dalam atau di luar ruangan?" tanya pak Yudha di sela makan malam kami.
"Saya tidak menyukai sesuatu yang berlebihan, Pak. Bagi saya yang terpenting adalah kesakralan acara itu sendiri. Sepertinya kita hanya perlu mengundang kawan atau kerabat dekat saja," ucapku.
"Bagaimana menurut calon mempelai laki-laki?" Ibu menimpali.
"Apa saja yang membuat calon istriku senang aku pasti ikut," ucap Gibran .
"Baiklah kalau begitu, kita tidak perlu menyebar banyak undangan. Hanya kerabat dan teman dekat saja," ucap pak Yudha.
"Lantas bagaimana untuk baju pernikahan kalian?" tanya bu Anita.
"Aku yang akan mendesainnya sendiri," jawab Gibran.
"Lyla nanti juga dibuatkan gaun yang bagus juga ya, Paman Giblan," sela Lyra.
"Iya, Sayang. Nanti kamu dan ibumu akan mengenakan baju dengan model dan warna yang sama."
"Hole!" soraknya riang. "Oh ya, nanti ayah Fabian diundang 'kan, Bu?" tanyanya kemudian.
Sepasang netraku dan netra Gibran bertemu.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰