Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Siapa Ir?


__ADS_3

Lekas kuambil ponsel ibu yang tergeletak di atas meja tempat tidur lalu kuperiksa nomor di daftar panggilan terakhir. Kulihat kontak dengan nama Ir menjadi kontak terakhir yang menghubungi ibu. Tidak salah lagi, nomor inilah yang semalam menelponnya. Baru saja aku hendak membuka foto profil kontak itu, tiba-tiba ibu merebut paksa ponsel itu dari tanganku.


"Beraninya kamu membuka ponsel ibu!" bentaknya.


"Kalau saja Ibu mau berkata jujur siapa laki-laki itu, aku tidak akan berbuat begini."


"Kamu tidak usah ikut campur urusan ibu!"


"Aku sama sekali tidak berniat mencampuri urusan Ibu. Aku hanya tidak ingin Ibu melakukan kesalahan yang sama. Apa Ibu lupa pernah berjanji pada pak Prayoga tidak akan pernah mengecewakannya lagi? Tapi, kenapa Ibu begini? Kurang baik apa pak Prayoga pada Ibu?"


"Tahu apa kamu tentang Yoga? Kamu pikir aku benar-benar serius menjalani hubungan dengannya?"


"Apa maksud ucapan Ibu? Aku yakin pak Prayoga tulus mencintai Ibu. Bahkan setelah apa yang Ibu lakukan padanya, beliau masih mau memaafkan Ibu dan menerima Ibu kembali," ujarku.


Ibu tersenyum hambar.


"Perempuan mana yang mau menikahi laki-laki tua sepertinya. Sebentar lagi keperkasaannya hilang, lalu ibu yang harus mengurusnya seperti bayi."


Astaghfirullah. Kenapa Ibu bicara begitu. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Apakah laki-laki bernama Ir ini penyebabnya? Tunggu! Ir? Apakah nama itu adalah inisial Irwan? Nama itu Irwan kakaknya Khumayra ataukah Irwan yang lain?


"Jika Ibu memang tidak memiliki perasaan pada pak Prayoga, Ibu jangan memberi harapan lebih. Itu akan membuatnya terluka. Apa Ibu tahu, beliau berencana melamar Ibu dalam waktu dekat?"


"Kamu jangan mengada-ada."


"Aku tidak mengada-ada, Bu. Beliau sendiri yang mengatakan padaku saat keadaan Ibu belum membaik usai terjadinya kecelakaan itu. Ibu juga harus ingat, apa yang kita tuai, adalah dari apa yang kita tanam. Ibu seharusnya bersyukur Allah masih memberi kesempatan Ibu untuk hidup lebih lama lagi."


"Jadi, maksud kamu lebih baik ibu mati saja dalam kecelakaan itu?"


"Bukan begitu, Bu. Aku hanya, …"


"Sudahlah! Ibu malas berdebat denganmu!" seru ibu. Dia lantas berlalu aku hadapanku dan masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Aku pergi ke klinik dulu, Bu."


Sengaja aku meninggikan suaraku agar ibu bisa mendengar dari dalam kamarnya.


"Assalamu'alaikum."


Aku baru saja menutup pintu. Di saat itulah Rahma juga hendak berangkat menuju tempat kerjanya. Kulihat raut wajahnya lesu dan tidak bersemangat.


"Rahma, kamu kenapa?" tanyaku.


"Nggak apa-apa, Mbak. Mungkin aku hanya kurang tidur."


"Kalau kamu sakit, jangan dipaksakan masuk bekerja."


"Ehm, Mbak. Kita bisa bicara sebentar?"


"Kamu mau bicara apa?"

__ADS_1


"Maaf, jika kata-kataku menyinggung perasaan Mbak Zura. Aku penasaran kenapa mbak Salma tiba-tiba menuduh Ibu Sabrina sebagai selingkuhan almarhum suaminya. Padahal dokter mengatakan jika kondisi kejiwaannya tengah terguncang. Aku curiga kalau tuduhan mbak Salma benar."


Mbak Salma benar, ibu lah selingkuhan almarhum suaminya, Roni. Tapi, apa aku harus berkata jujur pada Rahma? Apa jadinya jika ia tahu ibu kandungku lah benalu rumah tangga kakak nya? 


"Ehm, itu tidak mungkin, Ma. Selama ini ibuku tinggal di luar kota. Beliau tidak mungkin mengenal mas Roni. Sepertinya itu hanya luapan emosi mbak Salma saja," ucapku. Beruntung Rahma mau memahaminya.


"Mbak Zura mau kemana?" tanyanya.


"Aku mau ke klinik."


"Lyra sakit ya?"


"Alhamdulillah, Lyra sehat. Hari ini dia mau imunisasi."


"Begitu, ya."


"Klinik nya dekat tempat kerjaku. Kita bareng saja," ucapnya. Aku mengangguk setuju.


Lima belas menit kemudian aku tiba di klinik. Rupanya pagi itu klinik sudah cukup ramai. Bahkan hampir semua bangku yang berada di ruang tunggu terisi penuh.


Dari semua pasien yang berada di ruangan itu, perhatianku tertuju pada seorang perempuan yang duduk bersebelahan dengan perempuan yang usianya mungkin tidak terpaut jauh dari bu Kinanti. Ah! Selalu ada sesuatu yang membuatku kembali mengingat nama itu.


Perempuan tua itu tak berhenti batuk sehingga membuat perempuan yang duduk di sebelahnya itu merasa terganggu.


"Ibu bisa diam nggak! Aku lagi menelpon nih!" bentaknya.


Si perempuan tua kembali terbatuk hingga nafasnya terengah. Ia memberi kode kecil meminta air minum pada perempuan muda itu namun si perempuan muda masih saja asyik dengan gawainya.


Beliau lalu melempar senyum ke arahku sembari menganggukkan kepalanya. Aku baru sadar jika beliau tidak bisa berbicara. Mungkin itulah caranya mengucapkan terima kasih padaku.


"Tidak baik membentak-bentak orangtua," ucapku pada gadis berambut sebahu itu sesaat setelah ia mengakhiri percakapan dengan ponselnya.


"Kamu ini ustadzah ya? Tiba-tiba ceramah di depanku."


"Bukan begitu, Mbak. Dari tadi saya melihat Mbak membentak-bentak ibu ini. Saya hanya merasa kasihan. Orangtua seharusnya dihormati dan disayangi. Jangan membuatnya bersedih apalagi sakit hati. Kita harus ingat, surga berada di bawah telapak kakinya."


"Sudah ceramahnya?" tanyanya ketus.


"Perlakukan ibumu dengan baik selagi beliau masih ada," ujarku.


Tiba-tiba seorang perawat keluar dari dalam ruang dokter.


"Pasien atas nama ibu Rina."


"Ayo cepat bangun! Jangan manja!" 


Aku hanya bisa mengelus dada saat gadis itu menarik tangan si perempuan tua dengan begitu kasar lalu mengajaknya masuk ke dalam ruang dokter. Lagi-lagi aku teringat bu Kinanti. Apakah Mila memperlakukan beliau dengan baik? Ataukah perlakuannya justru tidak jauh beda dengan gadis yang baru saja kulihat? Semoga keadaan ibu baik-baik saja.


Aku tersentak dari lamunanku saat tiba-tiba tangan mungil itu menyentuh pergelangan tanganku.

__ADS_1


"Ibu Azzura, …"


Sontak aku menoleh ke arah suara itu. Pemilik tangan mungil itu rupanya Maureen, putri sulung kawan sekolahku dulu, Arya.


"Hai, Maureen sayang. Kamu kesini sama siapa?" tanyaku.


"Aku kesini dengan ayah."


"Di mana ayahmu?"


"Zura… kamu di sini juga?" tanya Arya yang tiba-tiba muncul di hadapanku.


"Iya. Hari ini jadwal imunisasi Lyra. Siapa yang sakit?"


"Maureen panas dari semalam."


Aku pun menempelkan punggung tanganku di kening gadis kecil itu. Benar saja, rasanya hangat cenderung panas.


"Cepat sembuh ya, Sayang," ucapku.


"Terima kasih, Bu."


Menjelang siang Lyra baru selesai mendapatkan vaksin. 


"Kami pulang dulu," ucapku pada Arya dan Maureen yang masih berada di ruang tunggu.


"Hati-hati, Bu. Dadah Deden Lyra," ucapnya sembari melambaikan tangannya.


"Dadah, Kakak Maureen yang cantik. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Aku beranjak dari klinik lalu menunggu taksi yang akan mengantarku pulang ke tempat kost. Sekitar sepuluh menit kemudian taksi yang kutunggu pun melintas.


"Kost putri, Pak," ucapku pada pengemudi taksi. 


Awalnya semua terlihat baik-baik saja, hingga suatu ketika aku merasa ada keanehan. Taksi itu tiba-tiba mengambil arah yang tidak seharusnya dilaluinya.


"Kenapa kita lewat sini, Pak? Tempat kost saya seharusnya belok ke kanan," ucapku.


Bukannya menjawab, pengemudi taksi itu justru menambah kecepatan laju kendaraannya. 


"Jangan ngebut, Pak. Nanti menabrak!" pekikku.


Bersambung….


Hai, pembaca setia….


ditunggu dukungannya ya…. 

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2