Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Sekedar janji?


__ADS_3

"Tolong, perutku sakit," rintih bu Murni


Tanpa membuang waktu lagi Rizal membopong tubuh sang bibi lalu membawanya masuk ke dalam mobilnya. Ia pun lantas melajukannya menuju rumah sakit.


"Bagaimana keadaan bibi saya, Dok?" tanya Rizal sesaat setelah dokter keluar dari ruang tindakan.


"Keadaan pasien baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Syukurlah. Tapi, Dok. Kenapa tadi bibi saya terlihat kesakitan pada bagian perutnya?"


"Pasien ke mengalami kram perut. Hal ini sering terjadi pada wanita hamil. Kalau boleh saya tahu apa yang dilakukan bibi anda sebelum anda membawanya ke sini?"


"Ehm … bibi saya tidak melakukan apapun. Tapi, saya sempat berdebat dengan beliau."


"Selain menjaga pola makan, ibu hamil tidak boleh terlalu kelelahan apalagi stress dan banyak pikiran. Apalagi usia pasien kini sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Saya harap sebagai keluarganya anda bisa menjaga kestabilan emosi pasien," papar dokter. Rizal mengangguk paham.


"Apa saya boleh masuk ke dalam, Dok?" tanya Rizal.


"Silahkan."


Rizal lantas memasuki ruang perawatan sang bibi.


"Syukurlah Budhe baik-baik saja. Aku sempat khawatir tadi."


"Kita akan terus berdebat selagi kamu masih saja berhubungan dengan gadis itu."


Rizal membuang nafas.

__ADS_1


"Baiklah, demi calon keponakanku, aku mau menurut. Aku tidak akan menemui Nesya lagi."


"Budhe pegang janjimu. Awas saja kalau budhe sampai melihat atau mendengar kamu masih bertemu dengan gadis itu."


"Ya, Budhe."


"Oh ya, mana pakdhemu? Apa kamu sudah menghubunginya?"


"Ya, Budhe. Aku sudah menghubungi pakdhe. Mungkin tidak lama lagi pakdhe sampai."


Benar saja, hanya selang beberapa saat pintu ruangan terbuka. Ternyata pak Hasan, suami bu Murni yang datang.


"Kenapa bisa begini, Bu? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya pak Hasan. Raut wajahnya terlihat begitu khawatir.


"Ehm … tadi budhe, …" Rizal menggantung kalimatnya.


"Tidak apa kok Pak. Perut ibu kram saja. Kata dokter hal itu wajar dialami perempuan yang sedang hamil."


"Tidak apa, Pak. Ibu baik-baik saja kok. Ibu masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan tangan ibu sendiri."


"Sudahlah, nanti bapak akan mencari asisten rumah tangga di yayasan."


"Yayasan?"


"Ya. Bapak rasa asisten rumah tangga dari yayasan lebih baik daripada kita mengambilnya dari luar."


"Ya sudah terserah Bapak saja."

__ADS_1


Dari Bu Murni, pandangan Pak Hasan beralih pada keponakannya, Rizal.


"Kamu tidak ke kampus, Zal?" tanyanya.


"Ehm … Aku sudah pulang, Pakdhe. Hari ini hanya ada satu mata kuliah."


"Oh ya. Apa dokter sudah mengatakan jika bibimu harus dirawat inap?"


"Belum, Pakdhe."


"Ibu baik-baik saja kok Pak. Tidak apa-apa jika ibu selalu pulang saja."


"Mana bisa begitu. Kalaupun dokter menyarankan Ibu bisa pulang hari ini, bapak tetap akan meminta pada dokter agar Ibu tetap menjalani rawat inap. "Bapak ke ruang dokter dulu," imbuhnya.


Pak Hasan pun lantas beranjak dari ruangan itu lalu menuju ruang dokter.


"Tidak apa jika kamu mau pulang, Zal. Biar pakdemu yang menjaga budhe di sini," ucap Bu Murni sesaat setelah Pak Hasan berlalu.


Tiba-tiba ponsel Rizal berdering.


"Ehm … Budhe. Maaf aku angkat telepon dulu di luar."


"Kenapa harus di luar? Memangnya siapa yang menelpon?"


"Oh, … anu … Fina, Budhe."


Rizal pun lantas meninggalkan ruang perawatan sang bibi.

__ADS_1


"Halo, Sayang," bisiknya.


Bersambung …


__ADS_2