Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Jalan terbaik


__ADS_3

 “Lyra!” pekikku.


Aku sudah pasrah jika memang putri semata wayangku itu harus meregang nyawa di


tangan mbak Salma yang jiwanya tengah terguncang itu. Namun, rupanya Allah


masih memberi kesempatan bagiku untuk kembali memeluknya. Aku tidak tahu pasti kapan


Fabian naik ke jembatan penyebrangan itu. Kini bayi berusia empat bulan itu


telah berada di gendongan ayahnya.


“Perempuan tidak


waras!” seru Fabian pada mbak Salma.


“Kembalikan bayiku! Kamu tidak bisa merebutnya dariku!”


“Istighfar, Mbak. Dia putriku, bukan bayimu.”


“Kembalikan bayiku!” Mbak Salma berusaha merebut kembali Lyra dari tangan


Fabian. Tentu saja aku tidak tinggal diam. Aku bergegas naik ke jembatan


penyebrangan orang itu. Kuabaikan ketakutanku pada ketinggian demi keselamatan


malaikat kecilku itu. Detik kemudian Lyra sudah berpindah tangan di dalam


dekapanku.


Entah siapa yang melapor, tiba-tiba saja dua orang polisi muncul dan


menghampiri kami.


“Selamat siang, Pak, Bu,” sapa salah satu polisi.


“Sealamat siang, Pak.”


“Kami mendapat laporan jika di tempat ini telah terjadi penculikan yang


melibatkan seorang bayi.”


“Benar, Pak. Perempuan tidak waras ini telah membawa kabur putri kami,”


jelas Fabian.


“Baik, Pak. Kami akan membawanya ke kantor untuk selanjutnya kami proses.”


“Jangan tangkap aku! Kembalikan bayiku!” teriak mbak Salma.


Jujur, hatiku terasa teriris saat kedua pria berseragam itu mengikat tangan


mbak Salma dengan rantai besi. Namun, aku tak bisa berbuat banyak. Terlepas


dari emosinya yang sering tidak stabil, tindakannya kali ini sudah begitu


berbahaya dan nyaris mencelakai putriku, Lyra.


“Kami harap Bapak dan Ibu bersedia ikut kami ke kantor untuk memberikan


kesaksian atas peristiwa penculikan ini,” ucap salah satu polisi. Kami pun


mengangguk paham.


“Ceroboh sekali kamu. Bisa-bisanya Lyra diculik tetanggamu sendiri,” ucap


Fabian saat kami di perjalanan menuju kantor polisi.


“Kita tidak akan pernah tahu kapan musibah datang menghampiri kita,”


ujarku.


“Kalau kamu hati-hati, peristiwa ini tidak mungkin terjadi. Bagaimana


jadinya jika aku tidak melintas di jalan itu. Mungkin Lyra sudah celaka di


tangan perempuan tidak waras itu.”


“Mbak Salma berbuat begitu karena jiwanya terguncang lantaran belum lama


ini kehilangan bayinya.”


“Perempuan tidak waras sepertinya seharusnya berada di rumah sakit jiwa.”


“Nanti aku akan berbicara dengan adik perempuannya.”


“Jika sekali lagi peristiwa semacam ini terjadi, janngan salahkan aku jika


aku mengambil alih Lyra darimu,” ucap Fabian setengah mengancam.


Suasana hening sejenak.


“Oh ya, bagaimana keadaan ibu?’’ Aku mengalihkan pembicaraan.


“Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan keadaan ibu? Bukannya kamu sudah tidak


peduli lagi padanya?”


“Tentu saja aku peduli. Aku sudah menganggap ibu seperti ibu kandungku


sendiri.”


“Kamu tidak perlu khawatir. Mila bisa merawatnya dengan baik.”


“Kuharap begitu. Mila benar- benar tulus merawat ibu.”


“Ehm, maaf aku tidak bermaksud ikut campur urusan pribadimu. Apa kamu


berniat menikah lagi?”


“Apa maksudmu?”


“Aku tidak sengaja mendengar obrolanmu dengan perempuan bernama Silvia itu


di taman,” ucapku yang sontak membuat raut wajah Fabian berubah kebingungan.

__ADS_1


“Aku tidak paham


arah bicaramu.”


“Sudahlah, kamu


jangan berkelit. Aku tahu Silvia adalah orang yang berpengaruh di kantormu.


Karena jasanya juga kamu sekarang bisa berada di posisi manager. Jika kamu mau


menikah dengannya, dia menjanjikan posisimu di posisi direktur. Begitu ‘bukan?”


“J-J-Jadi kamu


sudah tahu semuanya?”


“Jika kamu memang


masih punya hati, sebaiknya kamu tolak ajakan Silvia. Kasihan Mila jika harus


kamu ceraikan dalam keadaaan hamil. Cukup aku saja yang menjadi korban


pengkhianatanmu.”


“Kalau saja kamu


tahu, aku pun bingung berada di posisi ini. Slivia mengancam akan menurunkan


posisiku sebagai office boy jika aku menolaknya.”


“Aku tak mau lagi


ikut campur dalam masalah pribadimu. Kuharap kamu bisa bijak dalam mengambil


keputusan.”


Obrolan kami


terhenti saat kami sudah tiba di kantor polisi. Kulihat Rahma sudah berada di


tempat itu. Mungkin pihak kepolisian yang telah menghubunginya.


“Apa yang


terjadi, Mbak? Kenapa mbak Salma bisa ditangkap polisi?” tanyanya.


“Ehm, mbak Salma


menculik Lyra. Dia berpikir Lyra adalah Ridho,” jelasku.


“Jadi, Mbak Zura


berniat memenjarakan mbak Salma?” tanya Rahma lagi.


“Ya. Apa yang


dilakukan kakakmu itu sudah termasuk perbuatan kriminal. Dia harus mendapatkan


hukuman yang setimpal. Kamu tahu, Lyra nyaris celaka gara-gara kakakmu.” Fabian


“Saya mohon


jangan penjarakan mbak Salma. Mbak Salma hanya sedang terguncang.”


“Lantas, mau kamu


apa? Kamu mau kami melepaskannya begitu saja? Apa kamu mau menjamin dia tidak


akan mengulangi perbuatannya lagi?” tanya Fabian.


“Ehm...aku-aku,


...”


“Mungkin ada


baiknya jika mbak Salma dirawat di rumah sakit jiwa. Aku takut sewaktu-waktu


mbak Salma kembali berbuat nekat,” ucapku.


“Zura benar,


terlalu berbahaya membiarkan kakakmu tinggal di tempat tinggal lamanya.


Bagaimana jika dia kembali berbuat nekat?”


“Saya setuju


dengan usulan ibu ini. Demi kebaikan bersama, ibu Salma seharusnya mendapatkan


perawatan di rumah sakit jiwa.” Salah seorang polisi menimpali.


Kupandang wajah


gadis yang sudah kuanggap layaknya adik kandungku itu, lantas kugenggam


tangannya.


“Percayalah, ini


yang terbaik untuk mbak Salma,” ucapku. Rahma pun akhirnya mengangguk paham.


“Untuk masalah


ibu Salma, pihak kepolisian bersedia membantu,” ucap polisi.


“Terima kasih,


Pak. Kami permisi dulu, selamat siang.”


“Selamat siang.”


“Mari kuantar


pulang,” ucap Fabian saat kami baru saja meninggalkan kantor polisi.”

__ADS_1


“Tidak usah, aku


bisa naik taksi.”


“Kamu jangan mengartikan


macam-macam. Aku hanya kasihan pada Lyra. Apa yang dialaminya mungkin cukup


membuatnya shock.”


“Tapi, ehm, ...”


“Ayolah, demi


Lyra.”


Aku yang awalnya


menolak, akhirnya menerima tawaran tersebut.


Sesampainya di


tempat kost.


Kulihat ibu dan


beberapa orang warga tengah berkermun di depan pintu gerbang. Mungkin mereka


harap-harap cemas menungguku kami.


“Syukurlah Lyra


selamat,” ucap ibu. Dia lantas mengambil alih putri kecilku itu dari


gendonganku.


“Alhamdulilah,


Bu. Tadi ada mas Fabian yang kebetulan melintas. Dia yang membantuku mengejar


mbak Salma hingga akhirnya mbak Salma diamankan di kantor polisi.”


Ibu tersenyum


penuh kemenangan.


“Rasain!


Perempuan sint*ng!” umpatnya.


“Jadi sekarang


Salma ditahan?” tanya salah satu warga.


“Tidak, Bu.”


“Loh, kok nggak


ditahan? Dia sudah melakukan perbuatan kriminal. Tempat yang seharusnya ya di


kantor polisi.”


“Apa yang mbak


Salma lakukan di luar kesadarannya lantaran jiwanya tengah terguncang.”


“Lantas?”


“Mbak Salma tidak


ditahan di kantor polisi, akan tetapi dia dikirim di rumah sakit jiwa untuk


menjalani perawatan,” jelasku.


“Orang gil* ya


pantasnya di rumah sakit jiwa.” Sekali lagi ibu tertawa penuh kemenangan.


“Bu Sabrina ini


kelihatannya kok senang sekali melihat Salma kesusahan. Memangnya Ibu ada


masalah apa dengannya?” ucap salah satu warga.


“Bu-bu-bukan


begitu. Saya hanya merasa lega karena dia sudah tidak lagi tinggal di tempat


ini. Dia hampir saja mencelakai cucu saya,” ujar ibu.


Tiba-tiba ibu


membekap mulutnya. Sepertinya rasa mual mulai menyerangnya.


“Bu Sabrina


kenapa? Kok mual-mual begitu? Seperti orang hamil muda saja,” ucap salah satu


warga yang sontak membuat tawa orang-orang yang berada di tempat itu meledak.


“Kalian jangan


bicara sembarangan!” protes ibu.


Bersambung....


Hai, pembaca


setia...


Ditunggu


dukungannya ya. Jangan lupa beri like, komentar positif, fav, dan hadiah.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan, akan sangat berarti bagi author...

__ADS_1


Happy reading...


__ADS_2