
“Lyra!” pekikku.
Aku sudah pasrah jika memang putri semata wayangku itu harus meregang nyawa di
tangan mbak Salma yang jiwanya tengah terguncang itu. Namun, rupanya Allah
masih memberi kesempatan bagiku untuk kembali memeluknya. Aku tidak tahu pasti kapan
Fabian naik ke jembatan penyebrangan itu. Kini bayi berusia empat bulan itu
telah berada di gendongan ayahnya.
“Perempuan tidak
waras!” seru Fabian pada mbak Salma.
“Kembalikan bayiku! Kamu tidak bisa merebutnya dariku!”
“Istighfar, Mbak. Dia putriku, bukan bayimu.”
“Kembalikan bayiku!” Mbak Salma berusaha merebut kembali Lyra dari tangan
Fabian. Tentu saja aku tidak tinggal diam. Aku bergegas naik ke jembatan
penyebrangan orang itu. Kuabaikan ketakutanku pada ketinggian demi keselamatan
malaikat kecilku itu. Detik kemudian Lyra sudah berpindah tangan di dalam
dekapanku.
Entah siapa yang melapor, tiba-tiba saja dua orang polisi muncul dan
menghampiri kami.
“Selamat siang, Pak, Bu,” sapa salah satu polisi.
“Sealamat siang, Pak.”
“Kami mendapat laporan jika di tempat ini telah terjadi penculikan yang
melibatkan seorang bayi.”
“Benar, Pak. Perempuan tidak waras ini telah membawa kabur putri kami,”
jelas Fabian.
“Baik, Pak. Kami akan membawanya ke kantor untuk selanjutnya kami proses.”
“Jangan tangkap aku! Kembalikan bayiku!” teriak mbak Salma.
Jujur, hatiku terasa teriris saat kedua pria berseragam itu mengikat tangan
mbak Salma dengan rantai besi. Namun, aku tak bisa berbuat banyak. Terlepas
dari emosinya yang sering tidak stabil, tindakannya kali ini sudah begitu
berbahaya dan nyaris mencelakai putriku, Lyra.
“Kami harap Bapak dan Ibu bersedia ikut kami ke kantor untuk memberikan
kesaksian atas peristiwa penculikan ini,” ucap salah satu polisi. Kami pun
mengangguk paham.
“Ceroboh sekali kamu. Bisa-bisanya Lyra diculik tetanggamu sendiri,” ucap
Fabian saat kami di perjalanan menuju kantor polisi.
“Kita tidak akan pernah tahu kapan musibah datang menghampiri kita,”
ujarku.
“Kalau kamu hati-hati, peristiwa ini tidak mungkin terjadi. Bagaimana
jadinya jika aku tidak melintas di jalan itu. Mungkin Lyra sudah celaka di
tangan perempuan tidak waras itu.”
“Mbak Salma berbuat begitu karena jiwanya terguncang lantaran belum lama
ini kehilangan bayinya.”
“Perempuan tidak waras sepertinya seharusnya berada di rumah sakit jiwa.”
“Nanti aku akan berbicara dengan adik perempuannya.”
“Jika sekali lagi peristiwa semacam ini terjadi, janngan salahkan aku jika
aku mengambil alih Lyra darimu,” ucap Fabian setengah mengancam.
Suasana hening sejenak.
“Oh ya, bagaimana keadaan ibu?’’ Aku mengalihkan pembicaraan.
“Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan keadaan ibu? Bukannya kamu sudah tidak
peduli lagi padanya?”
“Tentu saja aku peduli. Aku sudah menganggap ibu seperti ibu kandungku
sendiri.”
“Kamu tidak perlu khawatir. Mila bisa merawatnya dengan baik.”
“Kuharap begitu. Mila benar- benar tulus merawat ibu.”
“Ehm, maaf aku tidak bermaksud ikut campur urusan pribadimu. Apa kamu
berniat menikah lagi?”
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak sengaja mendengar obrolanmu dengan perempuan bernama Silvia itu
di taman,” ucapku yang sontak membuat raut wajah Fabian berubah kebingungan.
__ADS_1
“Aku tidak paham
arah bicaramu.”
“Sudahlah, kamu
jangan berkelit. Aku tahu Silvia adalah orang yang berpengaruh di kantormu.
Karena jasanya juga kamu sekarang bisa berada di posisi manager. Jika kamu mau
menikah dengannya, dia menjanjikan posisimu di posisi direktur. Begitu ‘bukan?”
“J-J-Jadi kamu
sudah tahu semuanya?”
“Jika kamu memang
masih punya hati, sebaiknya kamu tolak ajakan Silvia. Kasihan Mila jika harus
kamu ceraikan dalam keadaaan hamil. Cukup aku saja yang menjadi korban
pengkhianatanmu.”
“Kalau saja kamu
tahu, aku pun bingung berada di posisi ini. Slivia mengancam akan menurunkan
posisiku sebagai office boy jika aku menolaknya.”
“Aku tak mau lagi
ikut campur dalam masalah pribadimu. Kuharap kamu bisa bijak dalam mengambil
keputusan.”
Obrolan kami
terhenti saat kami sudah tiba di kantor polisi. Kulihat Rahma sudah berada di
tempat itu. Mungkin pihak kepolisian yang telah menghubunginya.
“Apa yang
terjadi, Mbak? Kenapa mbak Salma bisa ditangkap polisi?” tanyanya.
“Ehm, mbak Salma
menculik Lyra. Dia berpikir Lyra adalah Ridho,” jelasku.
“Jadi, Mbak Zura
berniat memenjarakan mbak Salma?” tanya Rahma lagi.
“Ya. Apa yang
dilakukan kakakmu itu sudah termasuk perbuatan kriminal. Dia harus mendapatkan
hukuman yang setimpal. Kamu tahu, Lyra nyaris celaka gara-gara kakakmu.” Fabian
“Saya mohon
jangan penjarakan mbak Salma. Mbak Salma hanya sedang terguncang.”
“Lantas, mau kamu
apa? Kamu mau kami melepaskannya begitu saja? Apa kamu mau menjamin dia tidak
akan mengulangi perbuatannya lagi?” tanya Fabian.
“Ehm...aku-aku,
...”
“Mungkin ada
baiknya jika mbak Salma dirawat di rumah sakit jiwa. Aku takut sewaktu-waktu
mbak Salma kembali berbuat nekat,” ucapku.
“Zura benar,
terlalu berbahaya membiarkan kakakmu tinggal di tempat tinggal lamanya.
Bagaimana jika dia kembali berbuat nekat?”
“Saya setuju
dengan usulan ibu ini. Demi kebaikan bersama, ibu Salma seharusnya mendapatkan
perawatan di rumah sakit jiwa.” Salah seorang polisi menimpali.
Kupandang wajah
gadis yang sudah kuanggap layaknya adik kandungku itu, lantas kugenggam
tangannya.
“Percayalah, ini
yang terbaik untuk mbak Salma,” ucapku. Rahma pun akhirnya mengangguk paham.
“Untuk masalah
ibu Salma, pihak kepolisian bersedia membantu,” ucap polisi.
“Terima kasih,
Pak. Kami permisi dulu, selamat siang.”
“Selamat siang.”
“Mari kuantar
pulang,” ucap Fabian saat kami baru saja meninggalkan kantor polisi.”
__ADS_1
“Tidak usah, aku
bisa naik taksi.”
“Kamu jangan mengartikan
macam-macam. Aku hanya kasihan pada Lyra. Apa yang dialaminya mungkin cukup
membuatnya shock.”
“Tapi, ehm, ...”
“Ayolah, demi
Lyra.”
Aku yang awalnya
menolak, akhirnya menerima tawaran tersebut.
Sesampainya di
tempat kost.
Kulihat ibu dan
beberapa orang warga tengah berkermun di depan pintu gerbang. Mungkin mereka
harap-harap cemas menungguku kami.
“Syukurlah Lyra
selamat,” ucap ibu. Dia lantas mengambil alih putri kecilku itu dari
gendonganku.
“Alhamdulilah,
Bu. Tadi ada mas Fabian yang kebetulan melintas. Dia yang membantuku mengejar
mbak Salma hingga akhirnya mbak Salma diamankan di kantor polisi.”
Ibu tersenyum
penuh kemenangan.
“Rasain!
Perempuan sint*ng!” umpatnya.
“Jadi sekarang
Salma ditahan?” tanya salah satu warga.
“Tidak, Bu.”
“Loh, kok nggak
ditahan? Dia sudah melakukan perbuatan kriminal. Tempat yang seharusnya ya di
kantor polisi.”
“Apa yang mbak
Salma lakukan di luar kesadarannya lantaran jiwanya tengah terguncang.”
“Lantas?”
“Mbak Salma tidak
ditahan di kantor polisi, akan tetapi dia dikirim di rumah sakit jiwa untuk
menjalani perawatan,” jelasku.
“Orang gil* ya
pantasnya di rumah sakit jiwa.” Sekali lagi ibu tertawa penuh kemenangan.
“Bu Sabrina ini
kelihatannya kok senang sekali melihat Salma kesusahan. Memangnya Ibu ada
masalah apa dengannya?” ucap salah satu warga.
“Bu-bu-bukan
begitu. Saya hanya merasa lega karena dia sudah tidak lagi tinggal di tempat
ini. Dia hampir saja mencelakai cucu saya,” ujar ibu.
Tiba-tiba ibu
membekap mulutnya. Sepertinya rasa mual mulai menyerangnya.
“Bu Sabrina
kenapa? Kok mual-mual begitu? Seperti orang hamil muda saja,” ucap salah satu
warga yang sontak membuat tawa orang-orang yang berada di tempat itu meledak.
“Kalian jangan
bicara sembarangan!” protes ibu.
Bersambung....
Hai, pembaca
setia...
Ditunggu
dukungannya ya. Jangan lupa beri like, komentar positif, fav, dan hadiah.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan, akan sangat berarti bagi author...
__ADS_1
Happy reading...