
Jarak dari taman bermain menuju kolam renang tidak begitu jauh. Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit kami tiba di sana.
"Lyra berenang nya di kolam yang khusus anak-anak saja. Jangan dekat-dekat dengan kolam orang dewasa," ucapku setelah memakaikan baju renang.
"Ibu tidak ikut lenang?"
"Ibu tidak membawa pakaian renang. Ibu 'kan pergi tanpa rencana."
"Paman Giblan di mana?"
"Di sebelah sana." Aku mengacungkan jari telunjukku ke arah Gibran. Dia terlihat tengah mengobrol dengan seseorang melalui ponselnya.
"Paman Giblan nggak lenang juga?"
"Paman Giblan sudah punya kolam renang di rumahnya."
"Begitu, ya."
"Ya sudah Lyra berenang dulu, ibu awasi dari sini," ucapku.
Lyra lantas mengambil pelampung berbentuk bebek lalu masuk ke dalam kolam.
"Kamu nggak ikut renang juga?" tanya Gibran yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelahku.
"Ehm … aku tidak membawa baju renang."
"Bukankah tempat ini juga menyewakan baju renang untuk pengunjung?"
"Aku sedang malas saja."
"Paman Giblan!" panggil Lyra dari kejauhan sembari melambaikan tangannya ke arah kami.
"Hati-hati! Jangan dekat-dekat kolam orang dewasa!" serunya setengah berteriak.
"Ehm … kita sudah cukup lama saling mengenal. Apa aku boleh tahu alasan kamu berpisah dengan ayahnya Lyra?"
Aku membuang nafas.
"Aku dan Fabian sudah menikah selama kurang lebih sepuluh tahun. Dia laki-laki baik, perhatian, dan penyayang keluarga. Tapi sifatnya berubah drastis setelah perempuan bernama Karmila hadir di antara kami. Ternyata Fabian sudah menikahinya secara diam-diam. Bagiku tidak ada kata maaf untuk sebuah pengkhianatan. Aku pun memilih pergi meninggalkannya dengan membawa serta Lyra, buah hati yang sudah begitu lama kami nantikan. Saat itu dia baru berusia tiga bulan. Aku pun tinggal di tempat kost yang sekaligus menjadi tempat usahaku menjahit. Dari usaha kecil itulah Allah membuka jalan hingga akhirnya aku memiliki usaha konveksi."
"Dari sikap Fabian yang kulihat saat di POM bensin tadi, sepertinya dia marah dan kesal padamu, juga pada Lyra."
"Entahlah, akhir-akhir ini sikapnya pada kami berubah dingin. Sepertinya dia kesal karena aku menolak keinginannya untuk rujuk."
"Rujuk? Tunggu dulu. Bukankah kamu bilang dia menikah diam-diam dengan wanita bernama Karmila itu?"
"Semua tak seindah yang mereka harapkan. Begitu banyak masalah yang mereka hadapi. Dari Karmila yang melahirkan bayi cacat lalu menukarnya, kasus perampokan di rumah mereka, higga Karmila yang harus mendapatkan hukuman penjara selama empat tahun karena terlibat pertengkaran dengan seseorang yang berujung kematian. Sepertinya sekarang mereka sedang dalam proses perceraian."
"Benar-benar pria tak tahu diri! Dulu membuangmu, setelah tahu kamu sukses, ngajak rujuk."
__ADS_1
"Aku juga baru tahu jika Karmila yang menjadi maduku itu ternyata adalah kakak kandungku, kak Maureen."
"Apa?!"
"Ya. Karmila adalah kakak kandungku yang kupikir tewas dalam musibah kebakaran di rumah kami belasan tahun silam. Ternyata kak Maureen selamat dan dia melakukan operasi pada bagian wajahnya hingga menjadi sosok baru yang sama sekali tidak kukenali."
"Bukankah dia kakak kandungmu? Kenapa dia setega itu menghancurkan rumah tangga adik kandungnya sendiri?"
"Kak Maureen melakukannya atas nama dendam."
"Dendam?"
"Ya. Dia merasa ayah dan ibu berlaku tidak adil pada kami. Aku selalu diperlakukan seperti seorang puteri, sedangkan dia dan kak Darren seperti anak tiri. Itulah sebabnya kak. Maureen melampiaskan dendam dengan cara menjadi orang ke tiga dalam pernikahan kami hingga akhirnya pernikahan kami benar-benar hancur."
"Jadi, kakakmu itu sekarang masih di penjara?" tanya Gibran.
Aku menggeleng pelan.
"Kak Maureen belum lama ini bebas karena mendapatkan remisi. Masa tahanannya yang seharusnya empat tahun, menjadi hanya tiga tahun saja. Dia bahkan sempat mendatangi rumahku. Namun, kami justru bersitegang lantaran dia memaksaku untuk melakukan kebohongan. Aku tak tahu di mana keberadaannya kini."
"Kamu harus hati-hati. Kakakmu itu pendendam. Bisa jadi dia sedang menyusun rencana untuk menghancurkanmu," ucap Gibran.
Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba terdengar kegaduhan yang berasal dari kolam.
"Tolong! Tolong! Ada anak yang mau tenggelam!" teriak seseorang dari arah kolam.
Ingatanku langsung tertuju pada Lyra. Aku lekas beranjak dari tempat dudukku dan menghampiri kolam. Kuedarkan pandanganku di sekitar kolam.
Keadaan kolam siang itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung anak-anak bersama ibunya.
"Tolong! Tolong!"
Tentu saja suara teriakan itu semakin membuatku panik.
Aku pun memandang ke arah kolam dewasa hingga akhirnya netraku menangkap pelampung berbentuk bebek yang mengambang, serta tangan kecil yang berusaha menggapai ke permukaan.
"Astaghfirullahaldzim! Lyra! Itu Lyra!" pekikku.
Aku baru saja hendak meminta tolong pada Gibran untuk menolong Lyra. Namun, dia justru telah menceburkan dirinya ke dalam kolam. Dia lantas menggendong Lyra keluar dari kolam tersebut.
"Bagaimana kamu bisa masuk ke kolam dewasa, Nak? Bukankah ibu sudah melarangmu jangan mendekati kolam itu?" tanyaku seraya mengeringkan badannya dengan handuk.
"Lyla mau ke tempat Ibu, tapi ada mendolong Lyla."
"Siapa yang mendorong Lyra?" tanyaku lagi.
Puteri kecilku itu menggelengkan kepalanya.
"Lyla tidak tahu, Bu."
__ADS_1
"Masyaallah. Di mana paman Gibran?"
"Itu, di sana."
Aku mendapati laki-laki itu tengah menggigil kedinginan di tepi kolam.
Lekas kuambil handuk lalu kukeringkan rambutnya. Aku juga membeli baju, celana, serta pakaian dalam untuknya.
Hal tak terduga terjadi saat aku kembali menghampirinya. Laki-laki itu telah tergeletak di atas lantai. Aku pun lantas meminta bantuan dari penjaga kolam untuk membawanya ke tempat yang lebih kering.
"Suaminya sudah sadar, Bu. Saya juga sudah mengganti pakaiannya," ucap penjaga kolam.
"Terima kasih."
Aku berjalan menghampiri Gibran yang masih tergeletak lemah di atas sebuah bangku panjang. Tiba-tiba saja aku menghambur ke dalam pelukannya. Air mataku juga tak terbendung lagi. Ini semua benar-benar di luar kendaliku.
"Aku takut sekali kamu kenapa-napa," isakku.
Sepasang netra itu lantas menatapku lekat.
"Aku tidak apa-apa," ucapnya.
"Terima kasih, sudah menyelamatkan Lyra," ucapku.
Gibran mengulas senyum.
"Aku akan selalu melindungi kalian," ujarnya.
"Paman Giblan!" panggil Lyra yang baru saja masuk kedalam ruangan itu. Dia lantas menghambur ke dalam pelukan Gibran.
"Telima kasih, Paman," ucapnya.
"Oh ya. Bagaimana Lyra bisa jatuh ke dalam kolam?" tanya Gibran.
"Ada yang mendolong Lyla."
"Siapa?"
Tiba-tiba Lyra memandang ke arah luar. Aku baru sadar jika seseorang tengah menguping pembicaraan kami.
"Itu olangnya!"
"Woi! Tunggu? Jangan lari!" teriak Gibran. Dia pun lantas mengejarnya.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰 🥰🥰🥰