Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kelicikan Silvia


__ADS_3

"Ada masalah apa Nona Silvia tiba-tiba mengajak saya bertemu?" tanya Evan.


"Kamu tentu tahu perihal ayah yang pernah tidak sengaja menabrak seorang pejalan kaki sekitar sepuluh tahun silam."


"Ya, Nona. Saat itu saya baru saja diterima bekerja sebagai asisten pribadi tuan Anthony."


"Kamu dibayar mahal untuk membantu pekerjaan ayah sekaligus menjadi bodyguard nya. Kenapa saat itu kamu membiarkan ayah mengemudi seorang diri?"


"Tuan Anthony sendiri yang menolak untuk saya antar-jemput. Beliau mengatakan ingin mencari sendiri hadiah ulang tahun untuk nyonya besar dan ingin langsung ke cafe setelahnya," ungkap Evan. "Maaf, Kenapa Nona tiba-tiba membahas masalah itu?" tanyanya kemudian.


"Ayah mengatakan jika akhir-akhir ini sering mengalami mimpi buruk dan dikejar rasa bersalah seolah pejalan kaki yang telah ditabraknya itu terus meminta pertanggungjawaban darinya."


"Lantas?"


"Ayah berniat mencaritahu keberadaan pejalan kaki itu apakah ia selamat atau meninggal dunia. Ayah bahkan sama sekali tidak keberatan jika keluarga pejalan kaki itu menuntutnya jika ternyata perbuatannya telah membuat pejalan kaki itu kehilangan nyawanya."


"Ini namanya tuan Anthony cari mati. Bagaimana jika ternyata pejalan kaki itu meninggal dunia? Bukan hal yang mustahil keluarganya akan menuntutnya. Tuan Anthony bisa mendapatkan hukuman yang berat dikarenakan lalai berkendara hingga menghilangkan nyawa orang lain."


Keduanya terdiam sejenak dan tampak berpikir.


Jadi, apa rencana Nona?" tanya Evan.


"Saya rasa kamu cukup cerdas untuk membaca pikiran saya," ujar Silvia.


"Sepertinya saya tahu apa yang harus kita lakukan."


Silvia memberi isyarat kecil agar Evan sedikit mendekat ke telinganya.


"Bagaimana, Nona?" tanya Evan sesat setelah membisikkan sesuatu ke telinga Silvia.


"Tidak salah ayah saya memilihmu menjadi orang kepercayaannya," puji Silvia yang tentu saja ditanggapi pria itu dengan senyum jumawa.


"Kamu atur saja semua. Saya percaya urusan ini kecil bagimu." Silvia mengambil selembar cek dari dalam tas nya lalu diletakkannya di atas meja.


"Saya rasa jumlah ini cukup untuk pria lajang sepertimu. Kamu belum berkeluarga 'bukan?"


"Be-be-lum, Nona."


"Lakukan tugas ini dengan baik. Jangan membuat saya kecewa. Oh ya. Satu hal lagi yang harus kamu tahu. Saya dan Fabian akan menikah dalam waktu dekat ini."


"Menikah? Apa Nona yakin?"


"Apa maksud pertanyaanmu?"


"Saat ini Fabian tengah berada di titik terendah dalam hidupnya. Setelah mengalami perampokan, istrinya harus masuk penjara. Saya khawatir Fabian hanya memanfaatkan Nona."

__ADS_1


"Aku hanya memberitahumu saja, bukan meminta pendapatmu."


"Maaf, Nona. Saya hanya memberi masukan. Saya mengenal Fabian sejak ia masih belum menjadi siapa-siapa di perusahaan Nona. Dia terlalu berambisi untuk mendapatkan jabatan tinggi di perusahaan."


"Bukankah sudah kubilang, aku tidak meminta pendapatmu. Ayah saja tak pernah menentang apa yang yang menjadi keinginanku. Apalagi kamu yang hanya orang suruhan," tukas Silvia yang sontak membuat Evan bungkam.


"Saya pergi dulu. Ingat! Bekerja lah dengan rapi dan jngan sampai membuat ayah curiga. Hanya kita berdua saja yang tahu rahasia ini!" tegas Silvia. Ia pun lantas beranjak meninggalkan cafe.


"Mengapa nona Silvia harus berharap pada laki-laki seperti Fabian? Kapan dia akan menyadari jika ada seseorang yang begitu tulus mencintainya?" lirih Evan.


****


Beberapa hari kemudian.


"Hari ini kamu temani saya pergi ke suatu tempat," ucap Anthony pada asisten pribadinya, Evan.


"Kemana, Tuan?"


"Kita akan mencari tahu keberadaan seseorang yang tidak sengaja pernah kutabrak sepuluh tahun silam."


"Baik, Tuan."


Anthony tak pernah tahu jika Evan sudah lebih dulu menyusun skenario sebelum ia mulai turun tangan.


Pencarian dimulai dari jalan tempat terjadinya kecelakaan itu. Setelah bertanya pada warga, akhirnya mereka menemukan tempat tinggal pejalan kaki bernama Amira itu. Tentu saja itu menjadi salah satu bagian skenario yang telah dirancang Evan.


Anthony lantas mengamati wajah gadis yang kini berada tepat di hadapannya. Masuk akal jika usianya kini menginjak tiga puluh tahun. Tidak begitu jauh dari usia putrinya, Silvia. Tapi ia merasa wajah gadis itu berbeda dari pejalan kaki yang pernah ditabraknya itu. Meski sudah begitu lama, Anthony masih ingat betul bagaimana paras gadis itu. 


"Maaf, apakah saat itu kamu tidak kenapa-napa? Saya ingat betul kamu tergeletak tak sadarkan diri di tengah jalan dengan kepala berlumuran darah."


"Ti-ti-tidak apa, Tuan. Saya hanya pingsan karena shock. Tidak berselang lama saya pun sadar. Luka di kepala saya bisa saya obati sendiri," jelas gadis itu gugup.


Anthony mengerutkan keningnya.


"Jadi, siapa yang berteriak histeris memanggil namamu saat itu?" tanyanya.


"Ehm … itu mungkin salah satu warga yang kebetulan melintas di jalan itu."


Perempuan yang dibayar untuk mengaku sebagai Amira itu melirik ke arah Evan seolah memprotesnya mengapa ia tidak menjelaskan secara rinci peristiwa tabrakan itu.


"Sekarang Tuan sudah tenang 'bukan? Amira pejalan kaki yang tidak sengaja pernah Tuan tabrak sepuluh tahun silam masih hidup. Dulu ia hanya mengalami luka kecil saja," ucap Evan.


"Kenapa aku merasa ada yang aneh?" gumam Anthony.


"Tujuan kedatangan saya kemari adalah untuk menebus rasa bersalah saya. Saya minta maaf jika saat itu saya pergi begitu saja lantaran saya harus segera membawa istri saya ke rumah sakit. Saya juga sudah berjanji pada diri saya sendiri jika pejalan kaki itu masih hidup, saya akan memberikan apapun ia minta. Jadi, silahkan Nak Amira sebutkan permintaanmu," ungkap Anthony yang sontak membuat sorot mata ibu dan anak itu berbinar.

__ADS_1


"Jadi, kami boleh meminta apa saja, Tuan?" tanya wanita yang berperan sebagai ibu Amira itu.


Anthony menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Saya minta ehm … ehm, …"


"Uang."


"Sepeda motor saja."


Ucap keduanya bergantian.


"Uang saja!"


"Kita 'kan belum punya sepeda motor, Bu. Masa aku kalau bekerja jalan kaki terus."


"Uang saja. Ibu ingin membeli perabotan baru."


"Sepeda motor!"


"Uang!"


"Sudahlah, jangan berdebat lagi. Saya akan memberikan uang dan sepeda motor sekaligus," ucap Anthony.


"Terima kasih, Tuan."


"Evan, segera urus pembelian sepeda motor baru dan uang tunai untuk mereka," titah Anthony.


"Dasar perempuan mata duitan!" umpat Evan.


"Kami permisi dulu."


"Sekali lagi terima kasih, Tuan."


Evan memutar kursi roda Anthony mendorongnya keluar meninggalkan rumah tersebut.


"Orang kaya tapi mudah sekali dibohongi," ucap gadis yang mengaku sebagai Amira itu.


"Mimpi apa kita semalam, Nak. Dapat rejeki nomplok begini," ucap sang ibu lalu keduanya bersorak senang.


Bersambung …


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏


__ADS_2