Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Petunjuk


__ADS_3

Aku tak menghiraukan berapa kali panggilan masuk di ponselku yang kuyakini Gibran penelponnya.


"Kenapa nggak diangkat teleponnya, Bu?" tanya pengemudi taksi.


"Oh, maaf."


Aku meraih ponselku lalu mematikannya.


Yang kuingin saat ini hanyalah keheningan.


Sesampainya di rumah.


"Loh, jam segini kok sudah pulang?" tanya ibu saat aku melintasi ruang tamu.


"Acaranya sudah selesai," jawab singkat.


Ibu beranjak dari tempat duduknya lalu memeriksa halaman rumahku.


"Mana Gibran? Kamu pulang sendirian?" tanya ibu lagi.


"Mobilnya mogok, jadi aku pulang naik taksi."


"Mana mungkin mobil sebagus itu mogok."


"Aku lelah, mau istirahat." Aku berlalu dari hadapan ibu lalu masuk ke dalam kamarku.


"Zura … Nak. Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya ibu dari depan pintu kamarku.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Bu, aku istirahat dulu, selamat malam."


Detik kemudian kudengar langkah kaki ibu yang menjauh dari pintu kamarku.


"Tuhan, apakah aku tidak berhak untuk bahgia?" lirihku.


****


Pukul 02.00 dini hari.


Tiba-tiba saja aku terbangun. Astaghfirullah! Aku baru ingat belum menunaikan shalat Isya'.


Aku beranjak dari kamarku dan menuju mushola yang berada di bagian belakang rumah. Tetesan air wudhu yang membasuh mukaku membuat rasa kantukku seketika hilang.


Aku baru saja menunaikan ibadah shalat isya', tiba-tiba saja aku teringat ucapan Fatimah untuk melibatkan Allah dalam semua urusanku. Di sepertiga malam yang terakhir ini kuadukan semua masalah hidupnya pada Rabb ku, salah satunya masalahku dengan Gibran.


Sebaris doa itulah yang kupanjatkan usai aku melaksanakan salat istikharah. Shalat yang kulaksanakan untuk mendapatkan bantuan atau petunjuk dari Allah.


Adzan subuh masih 2 jam lagi. Sembari menunggu adzan subuh, aku pun mengisinya dengan membaca Al-Qur'an. Belum lama membacanya tiba-tiba saja mata ini terasa begitu berat hingga tidak sadar akupun terlelap.


Aku merasa berjalan di sebuah lorong gelap tiada cahaya atau seorang di sana. Tentu saja aku merasa takut.


"Siapa saja! Tolong aku keluar dari tempat ini!" pekikku.


Di tengah kegelapan itu aku terus berjalan hingga akhirnya aku melihat sebuah titik terang dihadapanku. Semakin lama semakin terlihat jelas. Secara tiba-tiba sebuah tangan terulur ke arahku namun wajahnya terlihat begitu samar. Aku merasa lega karena tangan inilah yang akan menuntunku keluar dari tempat mengerikan ini. Ketakutanku pun seketika hilang.


"Siapa kamu?" tanyaku.

__ADS_1


"Kamu mengenalku," jawabnya singkat.


"Siapa?"


"Mungkin selama ini kita tidak terlalu dekat, tapi akulah yang dikirim Tuhan untuk menjadi penjagamu."


Aku mulai mengamati wajah itu. Semakin dekat, dekat, dan lebih dekat lagi.


Pria yang begitu kenal itu tersenyum padaku. Tapi, kenapa tiba-tiba aku bingung begini? Siapa pria ini Gibran atau kah … Keenan? Aku hampir tidak dapat membedakannya.


"Kamu siapa?" tanyaku sekali lagi.


Bukannya menjawab pertanyaanku, pria yang masih kuragukan identitasnya itu justru perlahan menjauhiku. Ya semakin jauh … jauh… jauh … hingga akhirnya benar-benar menghilang dari hadapanku.


Aku terjaga bersamaan dengan adzan subuh yang berkumandang.


Sungguh mimpi itu benar-benar membuatku bertanya-tanya. Siapa sebenarnya laki-laki itu? Gibran, ataukah Keenan?


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2