
"Siapa Sabrina?" tanya Darren penasaran.
"Dia adalah perempuan penggoda. Aku tidak suka ayahku dekat-dekat dengannya," jawab Widya.
"Memangnya kenapa dengan nama itu? Apa namanya mirip dengan seseorang yang Bapak kenal?"
"Ehm ti-ti-tidak."
Darren terdiam. Tentu saja nama itu tidak asing di telinganya. Sabrina adalah nama ibu kandungnya yang kini entah di mana. Sang ibu pergi setelah rumah mereka habis terbakar dan usaha sang ayah jatuh bangkrut.
"Apa mungkin nama Sabrina yang disebut Widya adalah ibu? Tidak! Di dunia ini nama Sabrina tidak hanya satu orang. Mungkin hanya kebetulan saja."
Darren menepis pikirannya sendiri.
"Sepertinya kamu tidak menyukai perempuan itu."
"Tentu saja aku tidak suka padanya. Aku yakin perempuan itu bukan perempuan baik-baik. Dia mendekati ayahku hanya ingin mengambil hartanya saja."
"Sudahlah, Nak. Tidak baik membicarakan orang lain," ucap pak Prayoga.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menyetujui hubungan Ayah dengan perempuan yang tidak jelas asal-usulnya itu!"
Widya beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan mangkuknya yang belum benar-benar kosong.
"Widya! Jangan pergi! Habiskan dulu makananmu!" seru pak Prayoga.
Widya tak menghiraukan ucapan sang ayah. Dia justru mempercepat langkahnya menuju sebuah taksi yang saat itu berhenti tepat di hadapannya.Taksi itu pun lantas berlalu.
"Widya…Widya. Sampai kapan kamu akan terus begini, Nak," gumam pak Prayoga.
"Maaf, Pak. Bukannya saya mau ikut campur. Sepertinya Widya tidak menyukai hubungan Bapak dengan perempuan bernama Sabrina itu," ucap Darren.
"Entahlah, Pak. Saya sudah cukup lama menduda. Pintu hati saya baru kembali terbuka setelah mengenal Sabrina. Tapi, Pak Darren lihat sendiri 'kan? Bagaimana sikap Widya?" ungkap pak Prayoga.
"Widya hanya butuh waktu. Mungkin dia tidak bisa menerima begitu saja kehadiran orang asing dalam hidupnya," ujar Darren.
Pak Prayoga mengangguk paham.
"Saya sudah selesai, Pak," ucapnya usai meneguk habis teh hangatnya. Dia lantas beranjak dari tempat duduknya.
"Biar saya yang membayar makanan Bapak," ucapnya.
"Tidak usah, Pak."
"Tidak apa."
"Saya yang sudah mengajak Bapak makan di kedai ini. Tidak adil rasanya jika Bapak membayar sendiri."
"Tapi, Pak, …"
Pak Prayoga mengambil selembar uang pecahan seratus ribu dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada pemilik kedai.
__ADS_1
"Terima kasih, Pak," ucap Darren sesaat setelah keduanya meninggalkan kedai.
"Sampai jumpa."
Pak Prayoga berlalu dari hadapan Darren, Dia lantas berjalan menghampiri mobilnya.
Tidak berselang lama dia pun meninggalkan tempat tersebut.
Darren meninggalkan kedai dan kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Mas dari mana saja?" tanya Fatimah.
"Mencari udara segar," jawabnya singkat.
"Aku tahu Mas kecewa karena aku melahirkan bayi perempuan. Tapi jangan bersikap acuh pada Anisa. Ini tidak adil baginya," ujar Fatimah.
"Bukankah sudah kubilang, aku hanya ingin mencari udara segar. Sudah lah, jangan membesar-besarkan masalah yang tidak penting. Aku mengantuk, semalaman terjaga karena menunggumu melahirkan."
Darren membaringkan tubuhnya di atas sofa yang berada di ruangan itu. Tidak lama kemudian ia pun terlelap. Fatimah hanya mampu mengelus dada dengan sikap suaminya itu.
"Apa salah jika aku melahirkan bayi perempuan?" lirihnya.
*****
Di kamar perawatan lain.
"Sampai kapan kita akan di sini, Mas? Lihat penampilanku. Kusam dan berantakan," gerutu Karmila pada Fabian.
"Aku pun tidak betah berlama-lama di rumah sakit. Tapi jika kita pulang, siapa yang menunggui ibu?"
Fabian terdiam sejenak, ia lantas berpikir.
"Seandainya Azzura tidak pergi, dia tidak akan keberatan menunggui ibu di sini. Semuanya kacau setelah dia pergi," gumamnya.
"Ayolah, Mas. Kita pulang saja," rengek Mila sembari menarik salah satu tangannya.
Fabian yang tadinya ragu itu pun akhirnya menuruti ajakan Mila.
"Ya sudah, kita pulang sekarang. Aku akan meninggalkan nomor ponselku pada perawat agar menghubungiku jika ibu sudah sadar."
"Nah, gitu dong. Itu baru namanya suami yang baik, ucap Mila sembari menjawil dagu Fabian yang berjenggot tipis.
Fabian baru saja melangkah keluar dari kamar perawatan itu namun hal tak terduga terjadi. Secara tiba-tiba sang ibu tersadar dan membuka matanya.
"Nduk…Nduk," lirihnya.
"Ibu sudah sadar!" pekik Fabian. Dia pun membalikkan badannya dan kembali menghampiri sang ibu.
"Nduk… Zura, …"
"Astaga Ibu. Kenapa masih saja mengingat nama itu? Mbak Zura sudah pergi meninggalkan Ibu. Dia keberatan merawat Ibu yang sedang sakit," ucapnya.
__ADS_1
"Zura… Zura…"
"Menantu yang Ibu anggap menantu idaman itu ternyata tidak punya hati. Di saat Ibu sakit, dia malah pergi."
"Zura… Zura…"
Bu Kinanti terus menerus memanggil nama Azzura hingga membuat Mila kesal.
"Aku istri mas Fabian sekarang. Aku akan membuktikan jika aku juga bisa menjadi menantu yang baik, bahkan lebih baik dari mbak Zura," ujar Mila.
"Ibu baru saja sadar, jangan diajak bicara terlalu banyak dulu," ucap Fabian yang sontak membuat Mila diam.
"Zura sudah tidak tinggal lagi bersama kita, Bu. Dia sudah pergi dengan membawa serta cucu Ibu, Lyra."
Sang ibu menatap lekat mata Fabian. Terlalu banyak yang ingin diungkapkan. Namun, apalah daya. Mulutnya seolah terkunci. Buliran bening dari sudut matanya lah yang justru berbicara.
Tidak berselang lama dokter memasuki ruangan itu. Dia cukup kaget mendapati pasiennya telah sadar dari koma.
"Alhamdulillah, Ibu sudah sadar. Ini benar-benar mukjizat," ujarnya.
"Zura… Zura …"
"Siapa Zura?" Dokter itu mengerutkan keningnya.
"Ehm… Zura-Zura adalah nama salah satu saudara kami, Dokter," jawab Fabian.
"Begitu. Di mana Zura sekarang? Ada baiknya beliau dipertemukan dengan orang yang bernama Zura. Saya bisa menangkap kerinduan yang mendalam di sorot matanya," ucap dokter.
Fabian dan Karmila saling bersitatap. Tentu saja keduanya sulit memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.
"Ehm… Zura-Zura berada di luar kota, Dok."
"Saran saya mereka cepat dipertemukan. Bagaimana pun ini berpengaruh pada kondisi kejiwaannya. Kondisi fisiknya mungkin sudah membaik, tetapi tidak dengan kondisi psikis nya," jelas dokter.
"Baik, Dokter. Saya akan berusaha secepatnya mempertemukan ibu saya dengan Azzurra," ucap Fabian.
"Apa kami sudah diperbolehkan membawa ibu kami pulang, Dok?" tanya Mila.
"Ya. Hari ini juga pasien diperbolehkan pulang. Tapi ingat pesan saya, rawat pasien baik-baik. Kondisi psikis pasien saat ini kurang begitu baik. Jangan mengatakan atau berbuat sesuatu yang bisa menyinggung perasaannya apalagi membuatnya sedih.
"Baik, Dokter. Kami pasti akan menjaga dan merawat ibu kami dengan baik," ucap Fabian.
"Ehm, soal biaya perawatan bisa Bapak dan Ibu tanyakan di bagian administrasi," ucap dokter. Mereka pun lantas meninggalkan kamar perawatan itu.
Apakah Bu Kinanti akan baik-baik saja dalam perawatan Fabian dan Karmila? Tunggu kelanjutannya ya…
Bersambung….
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏