Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Apakah semua baik-baik saja?


__ADS_3

Entah mengapa malam ini aku begitu gelisah. Aku berusaha memejamkan mataku, namun rasa kantuk itu tak kunjung datang. Ibu kandungku dan ibu mertuaku. Dua perempuan itulah yang sedari tadi mengganggu pikiranku. Ibu kandungku berada di rumah sakit tanpa ditemani seorang pun. Sementara aku tak yakin jika ibu mertuaku baik-baik saja di tangan mas Fabian dan Karmila. 


Tiba-tiba kudengar suara seseorang tengah mengobrol melalui sambungan telepon di teras rumah. Berusaha tak membuat suara, aku membuka pintu perlahan lalu menutupnya kembali. Aku lantas berjalan menuju teras. Ternyata suara itu berasal dari Rahma.


"Rahma? Malam-malam begini kamu menelpon siapa?" tanyaku sesaat setelah dia mengakhiri percakapan.


"Kakakku, Mbak," jawabnya.


"Kamu kelihatan bingung begitu. Ada apa? Semuanya baik-baik saja 'kan?"


"Kakakku barusan memberi kabar jika suaminya meninggal karena kecelakaan."


"Innalilahi wa inna ilaihi roji'un."


"Aku bingung, Mbak. Aku mau pulang tapi, …"


"Tapi kenapa, Rahma?"


"Cutiku bulan ini sudah habis karena awal bulan kemarin aku sempat jatuh sakit. Kalau aku izin lagi aku bisa terkena pemutusan hubungan kerja."


"Memangnya kakakmu tinggal di mana?"


"Di perbatasan kota, Mbak. Aku takut jika aku nekat pulang, aku akan terkena masalah dengan pekerjaanku."


"Ehm, besok kamu shift pagi?" tanyaku. Rahma menganggukkan kepalanya.


"Saranku, kamu pulang ke rumah kakakmu besok sore sepulang kerja dan kembali lagi ke sini setelah subuh. Dengan begitu kamu bisa tetap pulang untuk menunjukkan rasa bela sungkawa mu, tapi tidak harus meninggalkan pekerjaanmu," ucapku.


Raut wajah Rahma yang tadinya kebingungan kini berubah berseri.


"Terima kasih ya Mbak, sudah memberi saran. Aku tidak bingung lagi sekarang. ucapnya. Kutanggapi ucapan itu dengan senyuman.


"Oh ya. Sudah hampir jam sebelas malam, Mbak Zura belum tidur?" tanya Rahma.


Aku menggeleng pelan.


"Pikiranku kemana-mana, nggak bisa tidur."


Tiba-tiba Rahma mengamati wajahku.


"Mbak lagi ada masalah? Kalau tidak keberatan Mbak bisa berbagi denganku. Siapa tahu beban pikiran Mbak bisa sedikit berkurang."


Aku memang belum lama mengenal Rahma. Sifatnya begitu dewasa meskipun usianya terpaut cukup jauh dariku.


"Kalau Mbak mau cerita, cerita saja. Aku siap jadi pendengar yang baik," ucapnya.


Aku membuang nafas sebelum mulai bercerita pada tetangga baruku ini.


"Sebelumnya aku mau minta maaf. Aku sudah berbohong padamu."


"Berbohong apa, Mbak?"


Rahma mengerutkan keningnya.


"Sebenarnya… ayahnya Lyra tidak bekerja di luar kota. Dia tidak ikut tinggal bersama kami karena aku memutuskan untuk berpisah dengannya."


Kulihat mata Rahma membulat. Sepertinya dia kaget sekaligus tidak mempercayai ucapanku.

__ADS_1


"Mbak nggak bercanda 'kan?" tanyanya.


"Nggak, Rahma. Aku tidak bohong. Itulah keadaan yang sebenarnya."


"Apa alasan Mbak ingin berpisah dengan ayahnya Lyra?" 


"Meskipun agama kita tidak melarang poligami, tapi aku tidak bisa menerima jika ada orang ke tiga dalam pernikahan kami. Karena itulah aku memutuskan untuk pergi, meskipun ayahnya Lyra tidak pernah menceraikanku ataupun menjatuhkan talak padaku," ungkapku.


"Aku setuju 100% dengan keputusan yang Mbak ambil. Suatu hari nanti suami Mbak pasti akan menyesal karena telah menyia-nyiakan istri sebaik Mbak."


"Mungkin jodoh kami hanya sampai di sini," ujarku.


"Aku yakin Mbak adalah perempuan yang kuat. Itulah sebabnya Allah memberikan ujian ini pada Mbak. Mbak tidak boleh lemah dan harus membuktikan jika Mbak dan Lyra bisa bahagia tanpa bergantung pada suami yang tidak setia itu! Maaf, Mbak. Aku ikut emosi dengarnya."


"Ada masalah lain yang juga cukup mengganggu pikiranku."


"Masalah apalagi, Mbak?" tanya Rahma penasaran.


"Ibuku…"


"Kenapa dengan ibunya Mbak?"


"Ibu sekalipun dirawat di rumah sakit, dan tak ada seorang pun yang menjaganya."


"Jadi, Mbak masih punya ibu? Maaf. Jika Mbak masih punya ibu, kenapa Mbak tidak tinggal bersama beliau saja?"


Aku tersenyum hambar.


"Masalahnya tidak se sederhana yang kamu pikir. Sudah lebih dari sepuluh tahun ibuku meninggalkan rumah. Kami baru kembali dipertemukan sehari yang lalu saat ibu mengalami kecelakaan saat aku kembali dari rumah sakit setelah menjenguk salah satu saudaraku yang melahirkan."


"Bagaimana keadaan ibunya Mbak?" tanya Rahma.


"Aku yakin Mbak mampu menghadapi ujian ini," ujar Rahma.


Tiba-tiba Rahma menguap dan menutup mulutnya yang menandakan jika rasa kantuk mulai menyerangnya.


"Kalau kamu ngantuk, kamu tidur saja," ucapku.


"Ya, Mbak. Mbak juga jangan terlalu lama di luar. Udara malam nggak baik untuk kesehatan."


"Terima kasih, Rahma."


"Terima kasih untuk apa?" 


"Terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku."


"Sama-sama. Selamat malam."


"Selamat malam."


Rahma berlalu dari hadapanku, ia lantas masuk ke dalam kamarnya.


Keesokan paginya.


Aku baru saja keluar dari dalam kamarku bersamaan dengan Rahma yang bersiap berangkat menuju tempat kerjanya.


"Selamat pagi, Dek Lyra," sapanya seperti biasa dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


"Selamat pagi, auntie Rahma," jawabku.


"Mau berangkat kerja ya?" 


"Iya, Mbak." 


"Hati-hati."


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Hari aku memutuskan untuk mengunjungi rumah Mila. Tujuanku tidak lain hanya ingin memastikan keadaan ibu mertuaku baik-baik saja. 


Tujuanku sebelum menuju rumah Mila adalah toko oleh-oleh. Aku sengaja membelikan camilan kesukaan beliau, kue lapis legit.


Sesama di perumahan Edelweiss.


"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" sapa security yang berada di pos jaga.


"Selamat pagi."


"Ibu yang kemarin mencari rumah bapak Kartono itu 'kan?" tanyanya.


"Security itu lagi," gerutuku.


"Ibu rajin banget mengunjungi rumah pak Kartono," sindirnya.


"Aku ada perlu dengan pak Kartono," ucapku sembari berlalu dari pos security.


Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam area perumahan itu. Namun, langkahku terhenti saat melintasi kerumunan kecil tidak jauh dari pos jaga. Rupanya beberapa orang ibu rumah tangga yang tengah berbelanja di tukang sayur keliling.


Selintas telingaku menangkap obrolan mereka.


"Saya heran. Rumah yang di blok H itu sebenarnya ada masalah apa sih? Saya sering banget mendengar suara perempuan marah-marah dengan kata-kata kasar," ucap salah satu ibu.


"Rumah mana yang Ibu maksud?" tanya ibu lainnya.


"Itu loh, rumah ber cat hijau biru muda."


"Itu kan rumah pengantin baru. Dengar-dengar pemiliknya menikah lagi dan istri tuanya pergi meninggalkan rumah. Kasihan sekali, anaknya perempuan, baru berumur dua bulan."


"Masa pengantin baru ribut sih, Bu?"


"Bukan suami istrinya yang ribut. Tapi, mereka tinggal bersama perempuan tua yang katanya sakit stroke. Mungkin istri muda pemilik rumah itu lah yang suka marah-marah dan berkata kasar pada ibu mertuanya."


"Benar-benar menantu kejam."


"Sudah, Ibu-ibu. Jangan kebanyakan berghibah. Gak baik," ucap tukang sayur.


"Ini topik seru loh Bang. Saya berencana merekam video saat perempuan itu marah-marah. Lalu saya sebar di media sosial biar viral. Judulnya menantu dzolim," ucap salah satu ibu yang disambut gelak tawa semua ibu-ibu yang berada di tempat itu. Sementara abang tukang sayur hanya menggeleng heran.


"Ya Rabb…apakah yang mereka bicarakan ini adalah Mila dan ibu mertuaku?" gumamku.


Bersambung….


Hai, pembaca setia….

__ADS_1


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2