Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Semakin dekat


__ADS_3

"Ibumu tidak pernah menginginkan kehadiranku di rumah ini, sebaiknya aku pergi saja!" seru ibu Kinanti.


"Kalian hanya salah paham. Semua masih bisa dibicarakan baik-baik," ucapku.


"Ibumu benar, setelah apa yang dilakukan Fabian padamu, aku tak pantas tinggal di rumah ini. Aku hanya akan menjadi beban!"


"Astaghfirullahaldzim. Aku sama sekali tidak berpikir begitu. Aku ikhlas Ibu tinggal di sini. Lagipula setelah meninggalkan rumah ini Ibu mau tinggal di mana?"


"Aku bisa tinggal bersama Fabian."


"Tapi, Bu. Fabian sekarang,- …"


"Kamu ingin bilang Fabian sekarang misikin dan penghasilannya tidak sebesar penghasilan mu, begitu?"


"Bu-bu-bukan begitu, Bu."


"Kalau memang mau pergi ya sudah, pergi saja. Tidak usah kebanyakan drama," sungut ibuku.


"Nenek mau kemana?" tanya Lyra yang yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.


"Ehm, … nenek pamit ya, Sayang. Nenek tidak bisa tinggal di sini lagi."


"Nenek jangan pelgi," rengek Lyra.


"Nenek harus pergi. Lyra jadi anak yang baik, ya. Menurut sama ibu."


"Jangan pelgi, Nak," ucap Lyra sembari menarik ujung pakaian ibu."


"Nenek harus pergi." Ibu Kinanti menepis pelan tangan kecil itu. Beliau pun lantas beranjak meninggalkan ruang tamu.


"Nenek! Nenek jangan pelgi!" teriak Lyra bersamaan dengan tangisnya yang tiba-tiba pecah. Ia hendak berlari mengejarnya, namun ibuku menghalaunya.


"Kumohon jangan pergi, Bu," ucapku seraya meraih lengannya. Namun lagi-lagi beliau menepisnya. Aku hanya bisa menatap punggung yang semakin menjauh itu dengan mata nanar.


"Ya Rabb, lindungi ibu," lirihku.


*****


"Tidak seharusnya Ibu berkata begitu pada ibu Kinanti," ucapku pada ibu sesaat setelah menidurkan Lyra di dalam kamarnya.


"Perempuan itu memang tidak tahu diri. Sudah untung kamu masih mau peduli padanya. Bukannya berterima kasih, malah menuntut macam-macam."


"Kurasa itu hal wajar yang dilakukan seorang ibu terhadap anaknya," ujarku.


"Sudahlah, dia sudah pergi. Tidak perlu membahasnya lagi. Lebih baik sekarang kita istirahat," ucap ibu. Dia lantas berlalu dari hadapanku.


"Di mana ibu sekarang? Apa beliau sudah makan, dan di mana beliau tidur malam ini?" gumamku.


Aku tersentak kaget saat tiba-tiba ponselku berdering. Aku yang sedari tadi merasa sedih sekaligus bersalah karena kepergian ibu Kinanti tiba-tiba saja merasa bersemangat saat memandang layar ponselku. Ya, Gibran yang menelponku.


Meski bersemangat, tetap saja jantung ini berdegup dengan kerasnya lantaran rasa gugup, panik, atau entah apa namanya perasaan itu yang jelas sulit diungkapkan dengan kata-kata.


[Ha-ha-ha-lo, Assalamu'alaikum]


[Kenapa suaramu gemetar begitu?]


[Jawab dulu salamku]


[Waalaikumsalam. Aku pikir kamu sudah tidur]


[Kenapa masih telepon juga?]


[Jawabannya hanya satu kata]

__ADS_1


[Apa itu?]


[Kangen]


Aku terdiam beberapa saat, mengatur nafas agar Gibran tidak tahu perasaan tidak karuan ini.


"[Halo, kenapa kamu diam? Apa suaraku terlalu merdu hingga membuatmu tertidur? He he he]


[Ada apa menelpon malam-malam begini?]


[Bagaimana dengan pakaian pesananku? Apa semuanya sudah siap?]


[Astaghfirullahaldzim. Aku sampai lupa memberitahumu semua pakaian pesananmu sudah siap hari ini, insyaallah akan kami kirim besok]


[Kamu ikut mengantar ke sini 'kan?]


[Pak Amin dan seorang karyawanku yang akan mengantar pesananmu]


[Kenapa kamu tidak ikut? Padahal aku ingin sekali bertemu denganmu]


[Aku ada urusan. Untuk pembayarannya bisa kamu transfer ke nomor rekeningku. Nanti aku kirim ke nomor mu]


[Padahal aku berharap kamu ikut mengantar pakaian pesananku]


[Maaf, aku tidak bisa]


[Ya sudah, mau bagaimana lagi. Lyra sudah tidur?]


[Lyra baru tidur. Sudah malam, kamu juga istirahat. Tidur terlalu malam tidak baik untuk kesehatan]


[Belum jadi istri saja sudah perhatian sekali. Aku membayangkan setiap pagi dan menjelang tidur kamu akan memberiku kecupan mesra. Ah! Indahnya]


[Kamu ini bicara apa 'hah!]


[Jangan mikir yang aneh-aneh, ya]


[Maaf, aku hanya bercanda]


[Sudah shalat isya' belum?]


[Nanti sebentar lagi]


[Nunggu apa? Jangan suka menunda sholat]


[Nunggu kita selesai mengobrol]


[Kamu yang menelponku, tidak sopan kalau aku yang memutus telepon]


[Mengobrol sampai pagi pun aku sanggup kok]


[Matikan teleponnya, shalat isya', lalu tidur]


[Ada yang kurang]


[Apanya yang kurang?]


[Minum susu]


[Jangan bicara yang tidak-tidak!]


[Memangnya siapa yang bicara tidak-tidak? Bukankah minum susu sebelum tidur itu hal yang baik bagi kesehatan? Bisa membuat tidur kita lebih nyenyak. Kamu pasti mikir ke arah sana]


[Aku mengantuk. Cepat tutup teleponnya]

__ADS_1


[Kamu saja]


[Kamu yang menelponku. Kamu juga yang seharusnya menutup teleponnya]


[Aku betah mendengar suaramu sampai pagi]


[Ya Rabb, ampuni dosa orang ini. Ya sudah. Kalau kamu tidak mau memutus telepon, aku letakkan ponselku. Kamu bicara saja sama cicak]


[Ya sudah, aku matikan teleponnya. Selamat malam, puteri Azzura]


[Wassalamu'alaikum]


[Waalaikumsalam. Mimpiin aku ya. Hehehe]


Panggilan terputus.


Aku meletakkan ponselku di atas nakas. Tanpa sengaja pandanganku tertuju pada cermin meja rias. Kulihat pantulan wajahku di sana. Kenapa aku senyum-senyum sendiri begini? Dan kenapa pipiku bersemu merah? Ah! Laki-laki itu selalu saja membuatku begini.


Kubaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Tiba-tiba rasa kantuk menyerangku.


Aku merasa sedang berjalan di jalanan yang sunyi. Tak kulihat siapapun di sana. Tiba-tiba saja terdengar suara tangisan seorang wanita. Meski sempat ragu, Akhirnya kuputuskan mencari dari mana sumber suara itu berasal. Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya aku menemukannya. Tampak di hadapanku seorang wanita berpakaian serba putih tengah menangis pilu di hadapan sesosok jenazah yang juga tertutup kain serba putih.


Tunggu! Meskipun hanya memandangnya dari belakang, aku mengenal betul siapa perempuan itu. Bukankah itu aku? Lantas, siapa jenazah yang kutangisi itu?


Aku berjalan perlahan mendekati aku yang tengah menangis itu dan jenazah yang terbaring di hadapannya. Dengan tangan bergetar aku berniat menyingkap kain berwarna putih yang menutup wajahnya. Namun tanpa kuduga seseorang menghalaunya.


"Ayah? Kenapa Ayah tidak memperbolehkanku melihat wajahnya?" tanyaku.


"Kemarilah, Nak."


Pria paruh baya yang kupanggil ayah itu pun lantas menggandeng tanganku.


"Kita mau kemana, Yah?"


"Laki-laki itulah yang akan menjadi penyembuh lukamu."


Ayah mengacungkan jari telunjuknya pada seorang laki-laki yang tengah berdiri di tengah padang ilalang. Pakaian yang dikenakannya pun sama seperti ayah, serba putih.


"Siapa dia?"


"Kamu akan tahu nanti."


Tiba-tiba laki-laki itu membalikkan badannya. Sayang, wajahnya tak terlihat lantaran kabut tebal.


"Assalamu'alaikum, akhwan," sapaku.


"Waalaikumsalam."


Laki-laki itu perlahan berjalan ke arahku. Tidak lama lagi aku akan tahu wajah pria itu. Tapi …


Summer has gone and passed. The innocent can't never last. Wake me up when September end…


Lagu yang kujadikan nada alarm mengalun, menandakan aku harus segera terjaga dan memulai hari baru.


Apa maksud mimpi itu? Jenazah siapa yang kutangisi, dan siapa laki-laki yang kutemui di Padang ilalang itu?


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ke novel baruku yuk yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Happy reading 🥰 🥰🥰🥰


__ADS_2