
"Baju Mbak basah. Pakai jaket saya saja."
Laki-laki bernama Fabian itu melepaskan jaketnya lalu memasangkannya di punggungku. Entah mengapa hati ini terasa begitu hangat. Ini adalah kali pertama aku mendapat perlakuan manis dari seorang laki-laki. Detak jantungku yang sedari tadi normal pun tiba-tiba berdetak beberapa kali lebih kencang dari sebelumnya. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?
"Pegangan yang kuat ya, Mbak," ucapnya sesaat setelah aku membonceng sepeda motornya.
Aku yang merasa sungkan memilih berpegangan pada besi yang berada di bagian belakang jok sepeda motornya.
Ketika di tengah perjalanan, aku tersentak kaget dan nyaris terjungkal.
"Kan sudah saya bilang, pegangan."
"Tapi, ehm, …"
Aku hanya bisa pasrah saat tiba-tiba Fabian meraih tanganku dan melingkarkannya di pinggangnya.
"Pegangan yang benar," ucapnya.
Aku malu setengah mati meskipun sebenarnya hati ini tersenyum senang.
Setelah menempuh lima belas menit perjalanan, kami pun tiba di sebuah rumah. Meskipun tidak begitu besar, rumah itu terlihat cukup asri dengan taman bunga di bagian depannya.
"Kok sampai malam begini, Lhe(Thole),"
ucap seorang perempuan paruh baya sesaat setelah Fabian memasuki ruang tamu.
"Iya, Bu. Tadi ada sedikit masalah."
"Masalah apa, Lhe?"
"Aku menolong orang yang digigit buaya."
"Astaghfirullah! Terus bagaimana? Apa dia terluka parah?"
"Kakinya yang terluka parah. Aku mengajaknya pulang karena dia tidak punya tempat tinggal. Rumahnya terbakar," jelas Fabian.
"Malang benar nasibnya. Di mana dia sekarang?"
"Masuk, Mbak," ucap Fabian.
Dengan wajah tertunduk kulangkahkan kakiku ke dalam ruang tamu. Perempuan paruh baya itu lantas mengamati penampilanku.
"Baju kamu basah, Nduk. Kalau nggak ganti nanti kamu bisa masuk angin. Tunggu sebentar, ibu ambilkan baju ganti Amira. Pasti pas di badanmu," ucapnya sembari berlalu dari ruang tamu dan berjalan menuju sebuah kamar.
"Maaf, Bu. Merepotkan," ucapku.
Perempuan itu tersenyum.
__ADS_1
"Tidak kok Nduk. Kebetulan saya memiliki anak gadis seusiamu."
Tidak berselang lama beliau kembali ke ruang tamu dengan membawa sepotong kaos berlengan panjang dan sepotong rok panjang. Tentu saja pakaian itu sedikit aneh bagiku lantaran selama ini aku selalu berpakaian terbuka dan diharuskan menampakkan lekuk tubuhku.
"Dipakai dulu, Nduk. Kamar mandinya di dalam dekat dapur."
Aku pun lantas berganti pakaian dan kembali ke ruang tamu.
"Alhamdulillah, kalau pas," ucap ibu itu.
Tidak berselang lama muncul seorang gadis seusiaku dari dalam kamar.
"Ada tamu rupanya," ucapnya. Dia lantas berjalan menghampiriku dan duduk persis di hadapanku.
Aku menganggukkan kepalaku lantas tersenyum padanya.
"Saya pinjam bajunya, Mbak," ucapku.
"Nggak usah panggil mbak, sepertinya kita seumuran. Nama saya Amira. Namamu siapa?"
"Azzura."
"Nama yang indah," ujarnya.
"Saya dengar dari mas Fabian tadi kamu digigit buaya. Bagaimana ceritanya kamu bisa digigit buaya?"
"Ehm…ehm…tadi aku dikejar-kejar orang. Lalu nekad melompat ke sungai."
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada bagian kakiku yang masih berlumuran darah.
"Lukanya cukup parah, aku obati dulu," ucapnya. Ia pun beranjak dari ruang tamu kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil obat merah dan kain kassa untuk mengobati lukaku.
"Saya mengucapkan terima kasih atas bantuan pak Fabian," ucapku yang sontak membuat kedua perempuan yang berada di dalam ruangan itu terkekeh.
"Mas Bian ini belum menikah loh. Jangan dipanggil bapak," protes Amira.
"Syukurlah," ucapku spontan.
"Kamu bilang apa barusan?" tanya Amira.
"Ti-ti-tidak. Maaf, saya tidak tahu kalau mas Fabian ini masih lajang." Aku menundukkan wajahku. Kuharap mereka tidak menyadari jika wajahku tiba-tiba memerah.
"Ehm, Mas…Bu… Amira. Saya pamit pulang dulu. Pakaiannya saya pinjam dulu, kapan-kapan saya kembalikan," ucapku sembari beranjak dari tempat duduk.
"Nak Zura mau kemana? Bukannya Nak Zura tidak punya tempat tinggal ya?" tanya bu Kinanti.
"Saya-saya bisa tidur di mana saja, Bu," ucapku.
__ADS_1
"Nak Zura ini perempuan. Terlalu berbahaya berada di luar sana malam-malam begini. Apalagi tadi Nak Zura bilang sendiri habis dikejar-kejar orang. Bagaimana jika orang itu masih mencarimu?"
"Ibu benar. Malam ini kamu menginap di rumah ini saja. Kamu bisa tidur di kamarku. Tempat tidurku muat kok untuk dua orang." Amira menimpali.
"Tapi, ehm, …"
"Sudahlah, Nduk. Menginap saja semalam di sini. Masalah lain kita pikirkan besok," ucap bu Kinanti.
Tiba-tiba rasa haru menyeruak memenuhi rongga dadaku. Tuhan begitu baik mempertemukanku dengan orang-orang sebaik mereka.
"Kamu kenapa menangis?" tanya Amira saat mendapatiku menyeka buliran bening dari sudut mataku.
"Aku bahagia dipertemukan dengan orang-orang sebaik kalian," ujarku.
"Sesama manusia memang harus saling membantu. Kita tidak pernah tahu kapan dan di mana musibah datang menghampiri kita," ucap ibu.
Kutanggapi ucapan beliau dengan senyum simpul di bibir.
Sejak malam itulah aku tinggal di rumah Fabian. Ibu Kinanti dan Amira selalu melarangku saat aku ingin meninggalkan rumah mereka. Dari kedua perempuan itu aku belajar ilmu agama dan cara mengenakan pakaian muslimah yang benar. Di hadapan para warga mereka selalu mengatakan jika aku adalah kerabat mereka. Namun, tidak ada kebohongan yang sempurna. Entah siapa provokasi nya, siang itu tiba-tiba warga beramai-ramai mendatangi rumah Fabian. Mereka curiga jika aku bukanlah kerabat keluarga Fabian, melainkan hanya orang asing yang ditolong Fabian. Mereka memberiku dua pilihan. Menikah dengan Fabian, atau meninggalkan rumah mereka. Aku yang dari awal sudah mengagumi Fabian, sama sekali tidak keberatan jika harus menikah dengannya. Apalagi di mataku Fabian adalah laki-laki yang baik, alim, penyayang keluarga dan pekerja keras. Pekerjaannya adalah karyawan di salah satu pabrik tekstil.
"Kami beri waktu sampai besok. Mbak Azzura memiilh pilihan pertama atau pilihan kedua," ucap salah satu warga sebelum meninggalkan rumah keluarga Fabian.
"Bagaimana, Lhe? Apa kamu bersedia menikah dengan nak Zura?" tanya Bu Kinanti pada Fabian.
Jawaban Fabian sungguh tak kuduga.
"Sebenarnya…ehm, saya memendam perasaan pada Zura," jawabnya.
"Lantas, bagaimana dengan Nak Zura sendiri?" tanya Bu Kinanti.
"Terlepas dari saya yang pernah berujar jika seorang laki-laki menyelamatkan saya saat dari buaya yang menggigil saya malam itu, saya pun sebenarnya memendam perasaan kagum pada mas Fabian," ucapku.
"Alhamdulillah. Jika kalian memang saling mencintai, kalian akan menikah tanpa paksaan," ujar ibu.
Akhirnya, pada suatu hari tepatnya pada tanggal 20-12-2012, aku dan mas Fabian resmi menikah.
*Flashback off*
"Bagaimana hidup kamu sekarang? Setelah kamu jadi orang bener hidup kamu bahagia nggak? tanya mama Lucy.
"Ehm, saya-saya, …"
"Kalau dilihat dari wajah kamu, sepertinya kamu sedang banyak masalah. Kamu sedang ada masalah keuangan atau masalah keluarga? Atau jangan-jangan suami kamu selingkuh? Atau… dia justru punya istri muda?" tanya mama Lucy penuh selidik.
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
__ADS_1
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰