
"Bu Silvia telah sadar dari koma," jawab dokter.
"Apa, Dok? Sadar? T-t-tapi, …"
"Kenapa anda terkejut begitu? Apa yang baru saja saya sampaikan adalah kabar baik 'bukan?"
"Ehm, saya-saya hanya kaget, Dok. Saya pikir ehm, …"
"Mari ikut saya ke ruang perawatan pasien." Dokter berjalan menuju ruang perawatan Silvia diikuti Fabian di belakangnya.
"Via, …"
"Apa yang terjadi dengan saya?"
"Ehm, mobil yang kita tumpangi dari luar kota mengalami kecelakaan."
"Kita? Luar kota? Aw! Sakit!" Tiba-tiba Silva memegangi kepalanya.
"Kamu kenapa?"
"Aku tidak mengingat apapun."
"Apa kamu juga tidak mengingatku?"
"Aku tidak ingat siapa namamu. Tapi, aku merasa begitu dekat denganmu."
"Apa yang terjadi dengan Silvia, Dok?" tanya Fabian.
"Saya rasa kecelakaan yang dialaminya beberapa waktu yang lalu menyebabkan dia kehilangan memori tentang peristiwa yang terjadi dalam rentang waktu sebelum kecelakaan itu terjadi," jelas dokter.
"J-j-jadi Silvia mengalami amnesia, Dok?"
"Bisa dikatakan begitu. Meskipun tidak seluruh memorinya hilang. Pasien masih mengingat identitas diri dan keluarganya."
"Semoga Silvia tidak mengingat kejadian di kamar hotel itu," gumam Fabian.
"Saya harap anda segera menghubungi keluarga pasien," ucap dokter. Fabian mengangguk paham.
Setengah jam kemudian.
"Saat kamu mengalami koma, ayah melimpahkan posisi direktur pada Fabian. Berhubung kondisimu sudah membaik, ayah harap kamu bisa menjalankan kembali posisimu," ucap tuan Anthony.
__ADS_1
"Beri aku waktu, Ayah. Mungkin untuk saat ini dan beberapa waktu ke depan biar Fabian saja yang menempati posisi itu sampai aku benar-benar pulih," ucap Silvia.
"Terlalu beresiko jika terlalu lama mengalihkan tugas pada orang asing. Apalagi pak Fabian bukan siapa-siapa. Dia hanya mantan pegawai marketing, bukan saudara ataupun kerabat Tuan." Evan, orang kepercayaan tuan Anthony menimpali.
"Meskipun hanya mantan pegawai marketing, saya yakin kemampuannya. Fabian adalah salah satu karyawan terbaik di perusahaan saya. Dia memiliki loyalitas dan etos kerja yang tinggi," ucap pria yang sudah dinyatakan lumpuh itu.
"Saya hanya memberi saran. Keputusan apapun tetap di tangan Tuan," ujar Evan.
"Fabian sudah begitu lama bekerja di perusahaan saya. Mana mungkin dia menyalahgunakan kepercayaan saya."
"Semoga Tuan tidak salah pilih orang," gumam Evan dalam hati.
Evan, laki-laki yang usianya tidak terpaut jauh dari Fabian itu sebenarnya mengenal betul Fabian dari saat melamar kerja, menjadi pegawai marketing, hingga akhirnya menjadi manager. Dia juga tahu, kenaikan karirnya tidak terlepas dari campur tangan Silvia yang menggantikan tuan Anthony lantaran sang ayah mengalami kelumpuhan pada bagian kakinya akibat kecelakaan yang dialaminya. Tak jarang Evan mendapati Fabian dan Silvia berduaan di dalam ruangan mereka. Pun ia memilih bungkam dan tak memiliki keberanian untuk mengungkapnya pada sang tuan besar.
"Evan."
"Ya, Tuan."
"Panggilkan Fabian. Saya harus bicara dengannya."
Beberapa saat kemudian Fabian pun masuk ke dalam ruang perawatan Silvia.
"Ada hal penting yang harus saya sampaikan," ucap tuan Anthony.
"Silvia memang sudah sadar, akan tetapi kondisinya saat ini belum memungkinkan untuk menjalankan kembali posisinya sebagai direktur. Jadi, saya berharap anda bisa melanjutkan kembali tugas anda sampai Silvia benar-benar siap kembali terjun ke perusahaan," ungkap tuan Anthony.
Kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut sang tuan membuat Fabian tersenyum penuh kemenangan. Dia tidak menyangka jika kecelakaan yang dialaminya justru mendatangkan begitu banyak keuntungan baginya.
"Baik, Tuan. Saya berjanji akan melaksanakan tugas dari Tuan dengan sebaik-baiknya," ucap Fabian penuh semangat.
"Evan."
"Ya, Tuan."
"Segera urus administrasi dan kepulangan Silvia," titah tuan Anthony.
"Baik, Tuan."
Evan sempat melirik sinis ke arah Fabian sebelum dia meninggalkan ruangan tersebut.
******
__ADS_1
Pagi itu suasana di rumah Fabian terlihat begitu ramai. Ya, di rumah itu tengah diadakan pesta perayaan kelahiran putra pertama Fabian dan Karmila yang diberi nama Rayyan. Seperti kebiasaan warga pada umumnya, mereka akan memberi ucapan selamat pada kedua orangtua bayi dengan memberi kado untuk sang bayi.
Kegaduhan terjadi saat acara berlangsung lantaran ucapan salah seorang warga yang hadir di acara tersebut.
"Ibu-ibu, perhatiin deh, kok wajah bayi ini tidak mirip dengan bu Mila dan pak Fabian ya," ucap salah satu ibu.
"Iya. Kulit mereka berdua kan kuning Langsat, ini kulit anaknya kok agak gelap. Rambutnya juga sedikit keriting." Ibu lainnya menimpali.
"Jangan-jangan ini bukan anak kandung pak Fabian. Tapi anak seling- …"
"Kalian ngomong apa 'hah?"
Beberapa orang ibu yang asyik ngerumpi itu sontak diam saat Mila tiba-tiba muncul dan menghampiri mereka.
"Ti-ti-tidak kok, Bu. Saya hanya bilang dek Rayyan tampan. Mirip sekali dengan pak Fabian."
"Kalian pikir telinga saya tuli? Saya mendengar obrolan kalian dengan cukup jelas. Kalian mengatakan jika Rayyan tidak mirip dengan ayah dan ibunya. Begitu 'bukan?"
"Ti-ti-tidak kok Bu. Bu Mila pasti salah dengar."
"Kalian pikir saya mengundang kalian hanya untuk mengomentari bayi saya 'hah?" Mila meninggikan suaranya.
"Kalau memang ucapan kami tidak benar, kenapa Ibu harus marah-marah?"
"Dasar ibu-ibu tukang gosip! Kerjaan kalian hanya berghibah saja. Kalian datang ke sini hanya untuk menumpang makan dan minum saja 'kan? Kado yang kalian bawa pasti hanya berisi barang-barang murahan!"
"Sombong sekali jadi orang. Mungkin saat ini keluarga Ibu Mila berada di atas. Tapi ingat, Bu. Roda kehidupan itu berputar."
"Tinggalkan rumah saya sekarang!" seru Mila.
"Huuuuuuuuu." Seruan panjang ibu-ibu komplek perumahan itu terlontar sebelum akhirnya mereka meninggalkan tempat tersebut.
"Assalamu'alaikum."
Tiba-tiba seseorang muncul di depan pintu.
"Kamu? Ngapain kamu ke sini? Memangnya saya mengundang kamu?"
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…