Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kembalinya Maureen


__ADS_3

Keesokan paginya.


"Maafkan ibu, Nak. Gara-gara ibu jatuh di kamar mandi, kalian gagal mengikuti rekreasi," ucap ibu.


Aku mengulas senyum.


"Ibu tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Lagipula ada hikmah di balik musibah yang terjadi pada Ibu."


"Apa maksudmu, Nak?"


"Bus pariwisata yang berisi rombongan siswa dan wali murid sekolah Lyra mengalami kecelakaan."


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."


"Banyak siswa dan orangtua yang meninggal dunia. Jika saja aku dan Lyra mengikuti kegiatan rekreasi itu, bukan tidak mungkin kami juga mengalami hal buruk," ungkapku.


"Semoga mereka mendapatkan tempat yang layak di sisi Nya."


"Aamiin."


"Aku sudah mengurus administrasi. Sekarang juga Ibu bisa pulang," ucapku.


Ibu mengangguk paham.


Sesampainya di rumah.


"Lyra di mana, Bi?" tanyaku pada bi Ami.


"Lyra masih di dalam kamarnya, Bu. Dia tidak mau bibi ajak sarapan. Alhamdulillah, Bu Sabrina sudah pulang."


"Alhamdulillah, Bi. Ibu hanya mengalami luka luar saja. Itulah sebabnya dokter mengizinkannya pulang pagi ini."


Setelah mengantar ibu ke dalam kamarnya, aku pun lantas menuju kamar Lyra.


"Lyra masih tidur?" tanyaku.


Lyra menyibak selimutnya lalu beranjak dari atas tempat tidurnya.


"Kata bibi sekolah hari ini libul. Memangnya kenapa, Bu? Ini kan hali Senin," ucapnya.


Tentu saja pertanyaan itu cukup sulit untuk kujawab. Namun, Lyra juga harus tahu alasan mengapa sekolahnya diliburkan.


"Sekolah Lyra diliburkan karena teman-teman Lyra banyak yang sakit."


"Teman-teman Lyla 'kan tadi piknik, Kenapa meleka sakit?"


Begitulah putriku. Dia selalu penasaran pada banyak hal. Tak jarang aku kesulitan mencari jawaban atas pertanyaan rumitnya.


"Ehm … begini, Sayang. Bus yang ditumpangi kawan-kawan Lyra mengalami kecelakaan. Ada beberapa kawan Lyra yang terluka. Ibu harap Lyra tidak kaget jika saat masuk sekolah nanti Lyra tidak bertemu lagi dengan beberapa orang kawan Lyra," jelasku.


"Memangnya meleka kemana, Bu?" tanyanya lagi.


"Mereka sudah menghadap Allah, Sayang."


"Di sulga ya, Bu?" tanya Lyra.


Kuanggukkan kepala sebagai jawaban.


Alhamdulillah, Lyra bisa memahami ucapanku.


"Jadi, teman-teman Lyla sekalang di lumah sakit ya, Bu?"


"Benar, Sayang. Beberapa orang kawanmu masih dirawat di rumah sakit."


"Besok kalau teman Lyla sudah pulang, Lyla boleh 'kan menjenguk? Kata ibu gulu, jika ada teman yang sakit halus kita jenguk."


"Boleh, Sayang. Besok ibu temani Lyla."


"Nenek sudah pulang ya, Bu?" 


"Sudah, Sayang. Nenek baru saja masuk ke dalam kamarnya."


"Lyla temui nenek dulu ya, Bu."


Gadis kecilku itu pun lantas beranjak dari kamarnya dan menuju kamar ibu.


Jam menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit. Satu persatu karyawanku terlihat mulai berdatangan.

__ADS_1


"Alhamdulillah ya Allah, Ibu selamat. Saya takut Ibu dan Lyra menjadi salah satu korban kecelakaan bus pariwisata sekolah itu," ucap salah satu karyawanku yang bernama Rani itu.


"Karena sebuah hal, saya dan Lyra gagal mengikuti kegiatan rekreasi," ucapku.


"Memangnya kenapa, Bu?"


"Ibu saya jatuh di kamar mandi. Saya harus membawanya ke rumah sakit."


"Astaghfirullahaldzim! Lalu, bagaimana keadaan Bu Sabrina sekarang?"


"Alhamdulillah, ibu sudah keluar dari rumah sakit. Beliau hanya mengalahkan luka luar saja."


"Syukurlah kalau begitu. Ya sudah, saya masuk dulu."


Gadis seusia almarhumah Rahma itu pun lantas masuk ke dalam ruang produksi.


"Ibu …" panggil Lyra.


"Ada apa, Sayang?"


"Lyla mau bubul ayam."


"Tumben sekali Lyra pingin bubur ayam. Ya sudah, ibu minta bibi Ami untuk buatin, ya," ucapku.


Gadis kecilku itu menggelengkan kepalanya.


"Lyla mau bubul ayam pak kumis," rengeknya.


"Tapi, warung bubur nya jauh, Sayang. Ibu juga harus mengawasi karyawan di ruang produksi. Nenek 'kan sedang sakit."


"Tapi, Bu, …"


"Ehm … ya sudah. Biar pak Amin yang membelikan buburnya untuk Lyra," bujukku.


Lagi-lagi putri kecilku itu menggelengkan kepalanya.


"Lyla maunya makan di sana saja sama Ibu," rengeknya lagi.


Putriku ini memang pandai. Jarang sekali aku memiliki waktu senggang di pagi hari. Sepertinya dia sengaja memanfaatkan kesempatan langka ini untuk menghabiskan waktu bersamaku.


"Hole! Makan bubul sama Ibu!" soraknya.


Tidak berselang lama muncullah bu Mira.


"Selamat pagi, Bu," sapanya.


"Selamat pagi."


"Oh ya, Bu. Saya sudah mengajak kawan saya yang ingin ikut bergabung di konveksi ini," ucapnya.


"Di mana kawan Bu Mira?" tanyaku.


"Dia ada di depan pintu gerbang."


"Ya sudah, Bu Mira ajak masuk saja."


Janda tanpa anak itu pun berlalu dari hadapanku. Tidak lama kemudian ia kembali menghampiriku dengan mengajak serta seorang perempuan berhijab.


"Ini kawan saya, Bu," ucapnya.


Perempuan yang sedari tadi menundukkan kepalanya itu pun lantas memandang ke arahku hingga detik kemudian netra kami bertemu.


"Kak Maureen? Apa benar ini Kakak?" tanyaku setengah tak percaya.


"Zura? Kamu? Kenapa kamu ada di sini?" tanya kakak perempuanku itu.


"Ibu Azzura ini adalah pemilik konveksi ini, Reen." Bu Mira menimpali.


"Ja-ja-di, konveksi ini milikmu?"


Aku mengulas senyum.


"Alhamdulillah, Kak."


"Tunggu! Kenapa Ibu Zura memanggil Maureen dengan sebutan kakak?" tanya bu Mira penasaran.


"Kak Maureen ini adalah kakak kandung saya, Bu," jawabku.

__ADS_1


"Masyaallah."


"Bu Mira bisa masuk ke dalam untuk melakukan persiapan kegiatan produksi."


"Baik, Bu. Saya permisi dulu."


Bu Mira pun lantas berlalu dari hadapanku kemudian masuk ke dalam ruang produksi.


"Bagaimana Kakak bisa bersama dengan Bu Mira? Bukankah Kakak seharusnya masih menjalani hukuman?" tanyaku.


"Alhamdulillah aku mendapatkan remisi. Masa tahananku yang seharusnya empat tahun menjadi hanya tiga tahun saja."


"Masyaallah. Lantas, kapan Kakak bebas?" 


"Baru beberapa hari yang lalu."


"Apa Kakak mengenal Bu Mira?" tanyaku.


"Tidak sama sekali. Kami bahkan belum pernah bertemu sebelumnya."


"Lantas? Kenapa bu Mira mengajak Kakak bekerja di sini?"


Kak Maureen membuang nafas.


"Setelah aku keluar dari penjara, tempat pertama yang kudatangi adalah rumah mas Fabian. Tapi, …"


"Tapi kenapa, Kak?"


"Di rumah itu aku hanya menemui ibu. Beliau tidak menyukai kehadiranku bahkan mengusirku."


"Astaghfirullahaldzim."


"Oh ya. Bukankah saat terakhir kamu mengunjungiku di lembaga pemasyarakatan, kamu masih bersama ibu. Kenapa sekarang kalian tinggal terpisah?"


"Ibu Kinanti sempat kecewa lantaran aku menolak ajakan Fabian untuk rujuk. Beliau lantas terlibat adu mulut dengan ibu kita. Sepertinya ibu Kinanti tersinggung hingga akhirnya beliau memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah ini."


"Begitu rupanya. Ibu mengatakan jika kamu yang mengusirnya."


"Mana mungkin aku setega itu," tukasku.


"Aku juga tidak percaya begitu saja pada ibu."


"Oh ya Kak. Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Sebaiknya kita berbicara di dalam."


Aku dan kak Maureen pun lantas masuk ke dalam ruang tamu rumahku.


"Bi, tolong buatkan teh hangat untuk kak Maureen," ucap ku pada bi Ami.


"Kenapa Ibu memanggilnya dengan sebutan kakak?"


"Perkenalkan, ini adalah kakak kandungku, kakak Maureen.


"Masyaallah. Jadi Ibu masih memiliki saudara perempuan?"


"Ya, Bi."


"Ya sudah, saya buatkan teh hangat dulu."


Wanita yang sehari-harinya mengenakan daster itu pun lantas berlalu dari hadapan kami.


"Kamu mau bicara apa?" tanya kak Maureen.


"Ehm … ini tentang Rayyan.".


"J-j-jadi, kamu sudah menemukan Rayyan? Di mana dia sekarang, Ra?"


"Dia … dia … ehm, …"


Bersambung …


Hi, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya: 


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2