Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Istimewa


__ADS_3

Keesokan paginya.


Aku dibantu Fina tengah membuat kue di dapur. Kue ini yang nantinya akan kami bawa untuk menjenguk Rizal di rumah bu Murni.


"Kalian membuat kue untuk siapa?" tanya ibu saat mendapatiku memasukkan loyang berisi adonan kue bolu ke dalam oven.


"Aku mau menemani Fina menjenguk Rizal, dia sedang sakit," jawabku. Ibu mengangguk paham.


Tepat pukul sembilan pagi kue bolu pandan itu matang. Setelah memasukkannya ke dalam box, kami pun lantas berpamitan pada ibu.


Setengah jam kemudian kami tiba di rumah bu Murni. Wanita yang kini tengah berbadan dua itu terlihat kaget saat melihatku dan Fina berada di depan pintu rumahnya.


"Mimpi apa saya semalam kedatangan tamu bos," ucap bu Murni.


"Ah, jangan memanggil saya begitu. Saya lebih senang dipanggil Zura."


"Gadis ini siapa?" tanyanya.


"Namanya Fina, dia putri angkat saya. Kebetulan satu kampus dengan Rizal."


Fina pun lantas meraih tangan bu Murni lalu mencium punggung tangannya. Bu Murni lalu mengajak kami masuk ke dalam ruang tamu.


"Saya dengar dari temannya kalau Rizal sakit. Apa benar begitu, Bu?" tanya Fina.


"Sakit? Alhamdulillah Rizal baik-baik saja. Kami tinggal satu atap. Masa tidak tahu kalau dia sakit."


"Loh, tapi sudah beberapa hari ini Rizal tidak masuk kuliah, Bu."


"Setiap pagi dia selalu pamit berangkat kuliah."


"Jadi, kemana dia?"


"Apa mungkin Rizal sedang sibuk dengan pekerjaannya di kantor redaksi majalah?" Aku menimpali.


"Selama ini pekerjaannya tidak pernah mengganggu kuliahnya. Dia pandai membagi waktunya. Tapi belakangan ini saya sering mendengar Rizal mengobrol dengan seseorang melalui telepon dan memanggilnya Nes … Nes. Saya tidak tahu apakah dia Agnes, Ines, atau siapalah. Saya pikir dia sudah cukup umur untuk menjalin hubungan dengan lawan jenisnya."


"Agnes, Ines? Sepertinya tidak ada kawan kuliahku yang bernama itu," gumam Fina.


"Tadinya kami bermaksud menjenguk Rizal. Tapi syukurlah kalau dia sehat-sehat saja. Oh ya, kami juga membuat kue bolu pandan ini." Aku menyodorkan kantong plastik berisi satu box kue pada bu Murni.


"Maaf, ya. Kalian jadi repot-repot begini."


"Tidak repot kok, Bu. Hobi saya 'kan memang membuat kue."


"Nanti saya tanyakan pada Rizal, kemana dia sebenarnya. Saya pun tidak suka dibohongi," ucap bu Murni.


"Kalau begitu kami permisi dulu," ucapku seraya beranjak dari sofa.


"Loh, kok buru-buru. Baru mau saya buatkan minum."


"Ah, tidak perlu repot-repot, Bu. Kami permisi, Assalamu'alaikum."


"Wa'aalaikumsalam."


Aku dan Fina meninggalkan ruang tamu lalu berjalan menghampiri mobilku yang terparkir di halaman rumah.


"Kita langsung pulang atau kemana, Bu?" tanya pak Amin.


"Mampir ke toko kue sebentar ya, Pak."

__ADS_1


"Baik, Bu."


Setibanya di toko kue.


Aku baru saja melangkah masuk ke toko kue milikku, Namun aku mendengar kegaduhan dari arah dapur. Ririn juga tidak berada di meja kasir. Demi menjawab rasa penasaranku, aku pun bergegas menuju ruang tempat produksi kue.


Entah apa yang mereka ributkan, kulihat Ririn berdiri di tengah-tengah Ana dan karyawan baruku yang bernama Tia. Dia terlihat tengah menengahi keduanya yang terlibat keributan. Tunggu, bau apa ini? Sepertinya aku mencium bau gosong.


"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut-ribut begini? Rin, kenapa kamu meninggalkan meja kasir?" tanyaku.


"Ma-ma-af, Bu. Saya terpaksa meninggalkan meja kasir karena saya melerai pertengkaran mereka."


"Ana … Tia. Apa yang kalian ributkan?" tanyaku.


"Ini, Bu. Tia kerjanya nggak bener," ucap Ana. Sementara gadis bernama Tia itu hanya diam dan menundukkan wajahnya.


"Coba jelaskan pada saya, apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang membuat kalian ribut?"


"Begini, Bu. Saya 'kan tadi sedang memanggang kue. Saya titip pada Tia karena saya keluar sebentar untuk membeli baking powder. Tapi dia malah asyik bermain handphone. Dia tidak mendengar saat timer oven berbunyi. Tiga loyang kue bolu jadinya gosong," papar Ana.


"Apa benar begitu, Tia?" tanyaku.


"Ma-ma-af, Bu. Saya lupa."


"Saya tidak melarang kalian bermain handphone, tapi saya harap kalian juga bertanggung jawab pada pekerjaan kalian," ujarku.


"Ini bukan kali pertama Tia lalai, Bu. Kemarin-kemarin saya diam karena dia masih baru. Saya menemukan potongan plastik terigu di kue yang sudah matang. Padahal dia yang menyiapkan bahan-bahannya. Dan baru kemarin karena kecerobohannya, dia memecahkan satu kilo telur."


"Tia," panggilku.


"I-i-iya, Bu."


"Maaf, saya tidak bermaksud menghakimi kamu. Tapi dari cerita Ana sepertinya kamu tidak sungguh-sungguh bekerja di toko ini karena kamu seringkali melakukan kesalahan."


"Saya mohon jangan pecat saya, Bu. Saya minta maaf. Saya mengaku salah. Saya berjanji akan bekerja lebih baik lagi. Saya juga tidak keberatan mematikan handphone saya saat bekerja."


Aku mengulas senyum.


"Saya hargai sikapmu mengakui kesalahanmu. Saya tidak akan memecat kamu dengan syarat kamu akan memperbaiki kinerja kamu. Jika saya mendengar lagi kamu membuat kesalahan, saya minta maaf jika saya harus memberhentikanmu dari pekerjaan ini."


"Baik, Bu. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan saya."


"Ehm … Rin. Kue yang hangus itu pesanan siapa dan untuk kapan?"


"Pesanan bu Erina, Bu. Untuk hari ini jam dua siang."


Aku pun lantas memandang jam dinding di ruangan itu.


"Baru jam setengah sebelas. Kalian buat adonan baru lagi, insyaallah bisa selesai sebelum jam dua."


"Baik, Bu."


"Kalau begitu saya permisi dulu. Saya harap kalian bisa bekerjasama dengan baik. Assalamualaikum."


Aku dan Fina lalu meninggalkan dapur dan menuju bagian depan toko. Di saat bersamaan dua orang pembeli memasuki toko.


"Selamat datang, Bapak … Ibu," sambutku.


"Anda pasti Bu Azzura pemilik toko ini," ucap si wanita.

__ADS_1


"Iya, benar, Bu."


"Saya ketagihan membeli kue di toko ini, Bu. Selain rasanya enak, harganya juga bersaing."


"Alhamdulillah kalau Ibu dan Bapak suka."


"Rahasia nya apa sih, Bu? Apa Ibu memasukkan bahan khusus ke dalam resep kue nya?"


"Tidak ada bahan khusus kok, Bu. Saya menggunakan resep kue pada umumnya."


"Tapi kenapa rasanya bisa lain dari yang lain?"


"Bu Azzura membuat resep kue itu dengan hati, Bu. Makanya rasanya sampai ke hati pula." Ririn menimpali.


"Oh, begitu rupanya."


"Ah, kamu ini berlebihan, Rin."


Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba terdengar sirine mobil ambulance berhenti tepat di depan toko. Tentu saja hati ini bertanya apa gerangan yang telah terjadi di sana. Setahuku tempat itu adalah ruko kosong.


"Ayo kita lihat, Bu," ucap Fina. Aku mengangguk setuju.


Aku dan Fina pun lantas menyebrang jalan dan menghampiri ruko kosong itu. Namun aku tidak menemukan apapun di sana. Ah, rupanya petugas ambulance itu berjalan menyusuri sebuah gang di belakang ruko tersebut.


Tidak berselang lama mobil polisi juga berhenti di tempat itu.


"Maaf, Pak. Apa saya boleh tahu, apa yang terjadi? Dua petugas ambulance itu mau kemana?"


"Kami mendapatkan laporan tentang penemuan jenazah seorang wanita tuna wisma yang meninggal di masjid di belakang ruko ini. Jenazah diduga meninggal saat sedang melakukan ibadah shalat subuh."


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un." Subhanallah, indah sekali cara orang itu menghadap Mu, ya Rabb.


Beberapa saat kemudian kedua petugas muncul dari gang yang tidak begitu luas itu dengan mengangkat sebuah kantong jenazah. Entah mengapa aku begitu penasaran ingin tahu siapa jenazah yang meninggal dengan cara istimewa itu.


Awalnya petugas menolak memberitahuku, namun atas persetujuan salah satu polisi, akhirnya aku diperkenankan untuk melihat wajah jenazah tersebut.


"Ibu tidak takut?" tanya Fina.


Aku menggelengkan kepalaku sembari tersenyum.


"Aku ngeri … Ibu saja yang lihat."


Aku menggeser langkahku mendekati kedua petugas itu. Salah satu petugas mulai membuka resleting kantong jenazah tersebut. Mataku terbelalak saat melihat wajah yang begitu kukenali itu. Tiba-tiba saja tubuhku gemetar hebat dengan tangan dan kaki yang mendadak terasa dingin.


"Allahuakbar!" pekikku.


Detik berikutnya kurasakan tubuh ini begitu lemas seakan tak bertulang. Aku pun terduduk lesu di tanah.


"Ibu … Ibu kenapa. Siapa jenazah itu?" tanya Fina yang baru saja menghampiriku.


Bersambung …


Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2