
Sore itu aku baru saja tiba di rumahku. Kulihat sebuah mobil berwarna hitam terparkir di halaman rumahku. Rupanya itu mobil Keenan. Tidak berselang lama dia pun keluar dari mobilnya.
"Kenapa tidak kirim pesan atau telepon saja?" tanyaku.
"Aku tidak bisa menghubungi ponselmu."
Aku pun lantas mengambil gawai pipih itu dari dalam tasku.
"Ya Allah! Rupanya ponselku mati."
Aku pun mengajak adik laki-laki almarhum Gibran itu masuk ke dalam rumahku.
"Paman Kenan!" panggil Lyra saat kami baru saja masuk di ruang tamu.
"Sudah benar memanggil nama paman Keenan. Tidak paman Nan-Nan lagi," ucapku yang ditanggapi puteri kecilku itu dengan senyum lebarnya.
"Lyra 'kan sudah besar," ujarnya.
"Bi, tolong buatkan teh hangat," titahku pada bi Ami yang baru saja muncul dari arah dapur.
"Baik, Bu."
"Paman Keenan," panggil Lyra.
"Ya, Sayang."
"Paman Keenan sibuk sekali ya?"
"Memangnya kenapa?"
"Paman tidak pernah main ke sini lagi."
"Maaf ya, Sayang. Paman memang cukup disibukkan dengan pekerjaan. Ehm … bagaimana kalau akhir pekan nanti kita jalan-jalan?"
"Lyra mau! Lyra mau!" serunya penuh semangat."
"Lyra minta izin dulu sama ibu," ucap Keenan.
"Lyra boleh 'kan, Bu? Jalan-jalan sama paman Keenan?"
"Ehm … boleh nggak ya?"
__ADS_1
"Boleh ya, Bu ya. Lyra bakalan nurut sama paman Keenan," rengek Lyra.
"Ehm … iya deh, boleh."
"Terima kasih, Bu."
"Oh ya, maksud kedatanganku ke sini karena ibu memintamu datang ke rumah kami untuk acara peringatan empat tahun meninggalkanya Gibran."
Ya Rabb. Karena kesibukanku aku hampir lupa jika hari ini, tepatnya empat tahun yang lalu, pria yang hampir menjadi imamku itu berpulang ke Rahmatullah.
"Lyra, Sayang. Kamu ikut ya, ke rumah paman Keenan? Ada acara mengirim do'a untuk paman Gibran," ucapku. Puteri semata wayangku itu menganggukkan kepalanya.
"Oh ya, di mana ibu Sabrina dan Fina?" tanya Keenan.
"Mbak Fina dan nenek ada di kamarnya," jawab Lyra.
"Nanti mereka diajak juga."
"Insyaallah setelah shalat Maghrib kami datang ke rumahmu."
"Ya sudah, kalau aku permisi dulu, Assalamu'alaikum."
"Wa'aalaikumsalam."
"Setelah shalat Maghrib Pak Amin antar kami ke rumah Keenan. Ada acara empat tahun meninggalnya Gibran," ucapku pada pak Amin.
"Baik, Bu."
"Aku minta maaf, Bu. Sepertinya aku tidak bisa ikut. Aku kurang enak badan," ucap Fina.
"Kamu sakit?" tanyaku seraya menempelkan punggung tanganku di keningnya. Aku merasa badannya sedikit panas.
"Ya sudah, kamu di rumah saja sama bi Ami."
Sekitar pukul setengah tujuh aku bersama ibu dan Lyra berangkat menuju rumah Keenan dengan diantar pak Amin.
Ketika di tengah perjalanan tiba-tiba kudengar suara letusan dari bagian belakang mobilku.
"Ya Allah! Ban mobil belakang pecah, Bu."
"Jadi, bagaimana, Pak?" tanya ibu.
__ADS_1
"Ibu jangan khawatir, saya membawa ban cadangan."
"Ya sudah, kita turun dulu. Biar pak Amin memasang ban cadangan," ucapku.
Kami pun lantas turun dari dalam mobil dan menunggu di sisi mobil.
Di saat itulah tiba-tiba sebuah mobil Jeep berhenti tidak jauh dari mobilku. Tampak dua orang pria berjaket kulit keluar dari dalam sana.
"Kenapa mobilnya, Bu?" tanya salah satu pria.
"Mobil saya mengalami pecah ban,"jawabku.
"Memangnya kalian mau kemana?"
"Ke acara keluarga."
"Mari kami antar. Memasang ban butuh waktu cukup lama."
"Terima kasih untuk tawarannya, Pak. Tapi sopir saya sudah cukup berpengalaman dalam memasang ban mobil," tukasku.
"Ayolah, niat kami baik kok."
"Maaf, Pak. Kami tunggu saja sampai ban mobil kami selesai dipasang."
"Ayo!" Tiba-tiba saja salah satu pria itu menarik lenganku.
"Astaghfirullahaldzim! Kenapa Bapak memaksa saya?! Bukankah saya sudah bilang, saya akan menunggu ban mobil saya selesai dipasang?! Aku meronta agar pria itu melepas tanganku.
"Sudah, nurut saja."
Pria itu membekap mulutku lalu memaksaku masuk ke dalam mobilnya.
"Ya Allah. Zura!"
"Ibu!" jerit Lyra.
Bersambung…
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰