Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kesempatan


__ADS_3

Aku tersentak kaget lantaran merasakan sesuatu baru saja memasuki tubuhku. Meski sulit, aku berusaha keras membuka kelopak mataku. Gibran, Wajah itulah yang pertama kali kulihat di ruangan itu. Kulihat pria yang mampu mencuri hatiku itu tengah menggenggam erat tanganku sambil terisak. Tak hanya Gibran saja. Lyra, ibu, kak Darren, Fatimah, Anisa, bahkan pak Amin pun ikut menangisiku. Ada apa ini? Kenapa mereka semua menangisiku?


"Gib-ran," lirihku.


"Allahu Akbar! Zura! Kamu bangun, Sayang?!"


"Zura … Ibu … Nak … Auntie Zura … Bu Zura," panggil mereka bergantian.


"Alhamdulillah, kamu selamat, Nak," ucap ibu. Suaranya terdengar serak. Aku yakin beliau lah yang paling banyak mengeluarkan air mata.


"Ibu … Lyla takut. Jangan tinggalin Lyla," isak Lyra.


"Mi-mi-num," ucapku terbata. Aku merasa tenggorokanku begitu kering.


Dengan sigap Gibran membuka tutup botol berisi air mineral lalu memasukkan sedotan ke dalamnya. Ia lantas membantuku meneguknya.


"Alhamdulillah, Allah masih memberimu umur panjang," ucap kak Darren.


Tidak berselang lama pintu ruangan terbuka. Rupanya dokter dan seorang perawat yang memasuki ruang perawatanku.


"Saya membawa surat keterangan kema-...Ya Allah! Bu Azzura?"


Aku bisa melihat ekspresi terkejut di wajah keduanya.


"Allahuakbar! Ini benar-benar sebuah mukjizat. Saya baru saja berniat menyampaikan surat keterangan kematian pasien. Tapi ternyata Allah masih memberinya umur panjang," ujar dokter.


Aku paham sekarang, tadi aku sempat bertemu mendiang ayah. Aku ingin ikut dengannya, akan tetapi beliau memintaku untuk pulang. Rupanya tadi roh ku sempat lepas sejenak dari jasadku, namun pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali


Rentetan peristiwa siang tadi pun melintas di kepalaku. Dimulai dari saya aku bersama ibu dan Lyra mengunjungi rumah kak Darren, lalu Lyra nyaris diculik. Luna … ya, Luna yang sudah membuatku terluka hingga akhirnya aku berada di tempat ini.


Aku mencoba beranjak dari tempat tidurku namun aku merasakan sakit yang luar biasa di bagian punggungku. Di sanalah Luna menancapkan pisau lipatnya siang tadi.

__ADS_1


"Kamu jangan banyak bergerak dulu, kalau kamu butuh sesuatu aku akan membantumu," ucap Gibran.


"Aku ingin shalat Maghrib," ucapku.


"Kondisi kamu sedang kurang sehat, Nak. Nanti shalat nya bisa kamu ganti dengan fidyah."


Aku menggeleng pelan.


"Tidak, Bu. Aku tidak akan pernah meninggalkan sholat dalam keadaan apapun," ujarku.


"Kamu beruntung memiliki calon istri solehah seperti Zura," ucap Kak Darren yang tentu saja ditujukan untuk Gibran.


"Kamu yakin ingin shalat Maghrib?" tanya Gibran. Kuanggukan kepalaku sebagai jawaban.


"Insyaallah aku akan membimbingmu untuk bersuci dan menjalankan shalat Maghrib di tempat tidur," ucap Gibran.


Sungguh, kalimat yang baru saja meluncur dari mulut pria itu membuatku semakin yakin untuk menjadikannya imam bagiku.


Beberapa saat kemudian pintu ruangan kembali terbuka. Kali ini Keenan bersama pak Yudha dan bu Anita yang memasuki ruang perawatanku.


"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya pak Yudha.


"Tadi dokter sempat mengatakan jika Zura sudah meninggal dunia. Akan tetapi Allah masih memberi umur panjang untuknya," jelas Gibran.


"Sebenarnya apa yang terjadi hingga kamu bisa berada di rumah sakit ini?" Bu Anita menimpali.


"Semua ini Luna lah penyebabnya," ucap Gibran.


"Luna mantan pacarmu yang tidak punya malu itu?" tanya sang ibu lagi. Gibran menganggukkan kepalanya.


"Memangnya dia berulah apalagi?"

__ADS_1


"Luna berusaha menculik Lyra saat mereka berkunjung ke rumah saya. Saya dan Zura pun mengejarnya hingga akhirnya dia menemukan jalan buntu. Di tempat itulah mereka berdebat. Entah setan apa yang merasuki Luna, dia menusuk punggung Zura dengan pisau lipat yang sempat ia gunakan untuk mengancam Lyra," ungkap kak Darren.


"Benar-benar gadis tidak punya hati!" umpat bu Anita. "Lantas, di mana dia sekarang?" tanyanya kemudian.


"Luna sudah ditahan di di kantor polisi."


"Besok aku akan menemuinya. Aku akan meminta polisi agar dia mendapatkan hukuman yang berat!"


"Biarkan polisi yang bekerja, Luna memang bersalah dalam kasus ini, kurasa dia akan menerima ganjaran sesuai desain perbuatannya," ujar Gibran.


"Ehm …selagi kita semua berkumpul di tempat ini, saya rasa ini waktu yang tepat untuk menyampaikan hal ini. Saya ingin pernikahan Zura dan Gibran dipercepat."


"Apa? Di-di-percepat?"


"Iya, Nak. Bagaimana menurutmu? Apa kamu keberatan dengan usulan saya?"


"Ehm … saya-saya, …"


"Saya setuju dengan usulan Bapak. Mungkin memang lebih baik Zura menikah agar ada yang menjaga dan melindungi, tapi semua keputusan saya kembalikan pada yang menjalaninya," ucap ibu.


"Bagaimana, Nak. Apa kamu tidak keberatan jika kamu dan Gibran menikah dalam waktu dekat ini?" tanya pak Yudha.


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2