Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Fina berubah?


__ADS_3

"Siang tadi aku bertemu dengan kak Maureen dan Fabian," ucapku pada ibu setelah menidurkan Lyra di kamarnya.


"Maureen bersama Fabian? Bukankah Maureen sendiri yang mengatakan jika diusir si Kinanti dari rumahnya?"


"Mungkin bu Kinanti saja yang tidak menyukai kehadiran kak Maureen di rumah itu. Tetapi, kita tidak tahu 'bukan? Bagaimana dengan Fabian? Bukan tidak mungkin kak Mauren dan Fabian masih saling menyimpan rasa."


"Apa kamu bertemu dengan mereka di rumah sakit?" tanya ibu.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Sebenarnya aku mengikuti mereka sejak dari apotek. Bu Mala terus menekanku agar aku membawa kak Maureen ke hadapannya. Itulah alasan mengapa aku mengejar mobilnya."


"Kakakmu itu keras kepala. Mana mungkin dia mau mengakui kesalahannya," ketus ibu.


"Ibu benar. Kak Maureen sama sekali tidak peduli dengan masalah ini. Bahkan dengan entengnya dia mengatakan Rayyan yang sudah tiada diganti saja dengan Saddam yang kini masih hidup, jadi impas."


"Entah terbuat dari apa hati kakakmu itu. Ibu pikir penjara akan merubah sifat buruknya, ternyata tidak. Dia justru semakin menjadi."


"Aku takut jika sewaktu-waktu bu Mala mendatangiku dan mempertanyakan di mana kak Maureen, sementara kak Maureen sendiri tak pernah punya itikad baik pada bu Mala. Bagaimana kalau ia benar-benar menuntutku untuk menggantikan kak Maureen?"


"Apa Gibran sudah tahu masalah ini?"


"Ya, semuanya sudah kuceritakan padanya."


Ibu mengulas senyum.


"Ibu tahu Gibran begitu mencintaimu. Dia tidak akan diam saja jika kamu disakiti. Jadi, tenang lah."


"Hoeek! Hoeek!"


"Kamu mual-mual lagi ya, Nak?" tanya ibu seraya mengusap punggungku.


"Iya, Bu."


"Oh ya, bagaimana dengan hasil pemeriksaanmu?"


"Dokter mengatakan jika aku menderita usus buntu. Beliau menyarankan agar aku secepatnya menjalani operasi."


"Operasi?"


"Benar, Bu. Itu adalah satu-satunya jalan agar aku bisa sembuh dengan tuntas."


"Ya, memang sebaiknya kita mengikuti apa yang disarankan dokter. Dokter pasti tahu yang terbaik untuk kita. Oh ya, ibu lihat semakin hati hubunganmu dengan Gibran semakin dekat saja. Lyra pun sepertinya sudah begitu nyaman dengannya. Apa kamu tidak memiliki keinginan untuk, …"


"Untuk apa, Bu?"


"Ibu rasa kamu sudah tahu arah pembicaraan ibu."


Aku membuang nafas.

__ADS_1


"Entahlah, kenapa hati ini masih ragu membuka hati."


"Gibran itu laki-laki yang baik dan mau menerima kekuranganmu. Ibu lihat Lyra juga menyukainya. Lalu, apa yang membuatmu ragu? Kamu hanya tinggal memantapkan hati saja."


Kutanggapi ucapan itu dengan senyum simpul di bibir.


"Sudah malam, aku mau shalat isya' dulu lalu beristirahat."


Aku berlalu dari hadapan ibu lalu menuju mushola yang berada di bagian belakang rumah.


Keesokan paginya.


"Ehm … Bu," panggil Fina di saat aku tengah merapikan rambut Lyra.


"Iya, ada apa, Fin?"


"Aku minta uang."


"Untuk apa?"


"Ehm … ada salah satu kawanku yang sakit dan dirawat di rumah sakit. Sepulang sekolah nanti rencana kami mau menjenguknya."


"Memangnya kawanmu sakit apa?"


"Ehm … dia baru saja menjalani operasi gagal ginjal."


"Malang benar nasibnya. Ya sudah, nanti ibu beri uangnya.


"Memangnya kenapa, Sayang? Apa dia sakit?" tanyaku.


"Nggak tahu. Dali kemalin Saddam tidak masuk sekolah. Kata bu gulu Syifa, Saddam tidak sekolah di sekolah Lyla lagi."


Mendengar mana Saddam, sontak aku teringat bu Mala. Saddam tidak sekolah di sekolah Lyra lagi? Apa artinya dia pindah sekolah. Aku harus menanyakan hal ini pada bu guru Syifa.


"Ini uang untuk menjenguk kawanmu. Cukup 'kan?'' ucapku sembari menyodorkan dua lembar uang pecahan seratus ribu pada Fina.


"Ehm … cukup kok Bu. Ya sudah, kalau begitu aku berangkat dulu." Setelah menyalamiku, dia pun meninggalkan ruang makan.


Entah mengapa aku merasa penampilan Fina sedikit berbeda dari biasanya.


"Tunggu! Apa kamu mengecilkan baju seragam mu?" tanyaku saat mendapati baju seragam nya yang terlihat begitu ketat hingga menampakkan bentuk tubuhnya.


"Ehm … ti-ti-tidak kok Bu. Sepertinya berat badanku naik, jadi pakaian seragamku terlihat sempit."


"Ehm … Bi," panggilku pada bi Ami yang baru saja muncul dari arah dapur.


"Ya, Bu." Tolong kalau Bibi ke pasar nanti, mampir di toko perlengkapan sekolah. Belikan baju seragam baru untuk Fina.


"Baik, Bu."

__ADS_1


"Tidak perlu, Bu. Baju seragam ini masih nyaman kok."


"Ya, tapi ibu yang tidak nyaman melihatnya. Kerudungnya tidak usah diikat begitu, karena akan memperlihatkan bagian dadamu kalau bajumu sempit begitu."


Aku bisa menangkap kekesalan di raut wajah gadis yang sudah hampir tiga tahun tinggal bersamaku itu saat dia melepas ikatan kerudung nya.


"Kamu 'kan mau sekolah? Kenapa bibirmu merah begitu? Hapus lipstik nya," tegurku lagi seraya menyodorkannya beberapa lembar tissue ke arahnya.


Sekali lagi aku menangkap kekesalan di wajah Fina.


"Aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati."


"Mbak Fina itu sedikit aneh, Bu," ucap bi Ami.


"Anen bagaimana, Bi?"


"Kalau pulang sekolah sore banget, terus sering berdandan, dan ehm … rambutnya dipotong pendek dan diwarnai loh Bu. Kemarin saya tidak sengaja melihat saat melewati kamarnya dan pintu kamarnya sedikit terbuka.


Ada apa dengan Fina? Apa yang membuatmu berubah begini? Kekhawatiran pun seketika menyerangku.


"Ayo belangkat, Bu," ucap Lyra usai menghabiskan sarapannya.


Setelah berpamitan pada bi Ami, kami pun berangkat menuju sekolah.


"Selamat pagi, Bu Zura. Mau antar Lyra ke sekolah ya?" sapa salah satu tetangga rumahku, bu Sari.


"Iya, mari, Bu."


"Sebentar, Bu. Saya mau bicara sedikit."


Aku pun sontak menghentikan langkahku.


"Ada apa ya, Bu?"


"Ehm, begini. Maaf, bukannya bermaksud apa-apa. Saya ingin bertanya apa Fina sudah berhenti sekolah ya?"


"Berhenti sekolah? Tidak kok, Bu. Alhamdulillah dia masih sekolah."


"Tapi, kok …"


"Tapi kenapa, Bu?


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"

__ADS_1


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2