Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Main api


__ADS_3

"Tidak biasanya Bian pulang terlambat. Apa kamu sudah menghubunginya?" ucap bu Kinanti pada Maureen.


"Belum," jawabnya singkat. Sementara pandangannya sama sekali tak beralih dari layar ponselnya.


"Dari tadi kamu memegang handphone 'kan? Kenapa kamu tidak menelpon atau mengirim pesan untuknya?"


"Malas. Aku sedang kesal sama dia!" ketus Maureen.


"Dasar wanita pembangkang!" umpat bu Kinanti. Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi anak laki-lakinya itu.


[Halo, Nak. Sudah larut malam begini kamu kok belum pulang. Apa kamu masih di konveksi?]


[Tidak, Bu. Aku sudah dalam perjalanan pulang. Sebentar lagi aku sampai di rumah]


[ Ya sudah, kamu hati-hati menyetirnya]


-Panggilan terputus-


Lima menit kemudian Fabian tiba di rumah.


"Apa pekerjaan di konveksi lagi banyak, sampai kamu pulang selarut ini," ucap bu Kinanti.


"Ya, begitulah. Ada tawaran kerjasama dari seorang pengusaha ekspor pakaian. Konveksi harus memproduksi 2000 potong pakaian dalam waktu dekat. Jadi kami harus kerja lembur agar produksi cepat selesai."


"Benar-benar kabar yang bagus."


"Ya, Bu. Pak Daniel juga sudah membayar uang muka sebesar sepuluh juta rupiah. Sisanya nanti akan dibayarkan setelah produk dikirim seluruhnya ke luar negeri. Saya akan menerima keuntungan yang berlipat ganda," papar Fabian.


"Hebat sekali kalau produk konveksimu dipasarkan hingga ke luar negeri. Konveksi mu juga pasti akan menjadi terkenal," ujar bu Kinanti penuh semangat.


"Oh ya, Ibu bilang kemarin mau membeli mukena yang harganya 750 ribu itu 'kan? Ibu bisa membelinya besok. Sisanya buat beli gamis." Fabian mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dari dalam amplop berwarna cokelat lalu memberikannya pada sang ibu.


"Akhirnya, keinginan ibu terkabul," ucapnya


"Hanya ibu saja yang Mas beri uang? Mana bagianku? Tadi perawatan di salon habis 500 ribu," protes Maureen.


"Memangnya uang yang kuberikan seminggu yang lalu sudah habis? Jadi istri kok boros begitu."


"Mas bilang aku boros? Bukannya Mas sudah tahu jika sebagian uang itu aku pakai untuk modal toko kue."


"Sudah malam, aku capek, mau istirahat," ucap Fabian sembari berlalu dari hadapan Maureen.

__ADS_1


"Jadi, Mas benar-benar nggak mau memberiku bagian?"


Fabian membalikkan badannya. Ia lantas memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu pada istrinya itu.


"Segini saja? Ini juga nggak sampai tiga hari sudah habis."


"Kamu pikir pesanan pak Daniel itu tidak butuh modal? Ada beberapa bahan tambahan yang harus dibeli," ucap Fabian.


"Sama istri sendiri pelit. Jangan-jangan uangnya mau kamu pakai buat senang-senang sama perempuan lain."


"Maureen, cukup! Bicaramu semakin ngawur saja!" seru Fabian.


Tentunya ia berharap jika kalimat yang baru saja terlontar dari mulut istrinya itu hanya sekedar tuduhan, bukan karena ia tahu perihal hubungan rahasianya dengan Nesya.


"Istrimu memang begitu. Sudah pembangkang, susah diatur, kalau bicara tidak pernah dipikir-pikir dulu."


"Ya, setelah ini kalian akan membandingkanku dengan Azzura yang mandiri dan penurut itu."


"Ibu heran. Kalian itu terlahir dari rahim yang sama. Tapi, kenapa sifat kalian seperti langit dan bumi? Adikmu memiliki sifat yang jauh lebih baik dibandingkan denganmu."


"Lalu, kalian pikir aku akan tetap berdiri di sini untuk mendengarkan kalian melontarkan kalimat pujian pada si Azzura itu? Lebih baik aku tidur!"


"Hufht! Ngomong apa sih!" Maureen mendengus kesal sebelum akhirnya berlalu dari hadapan keduanya dan masuk ke dalam kamar.


"Tiada hari tanpa berdebat dengan wanita keras kepala seperti istrimu itu. Kenapa kamu masih saja mempertahankannya?"


"Bu, aku ini sudah dua kali bercerai. Apa kata orang nanti jika aku gagal untuk ke tiga kalinya?"


"Ya itu semua kembali padamu. Tapi, jika ibu berada di posisimu, ibu akan melepas Maureen. Kamu ini sekarang sudah jadi pengusaha mapan. Rasanya tidak sulit melepaskannya dan mencari pendamping baru,"


"Untuk saat ini aku tidak berpikir ke arah sana."


"Ibu bosan setiap hari harus berdebat dengannya. Istrimu itu sama sekali tidak memiliki rasa hormat pada ibu mertuanya."


"Ya sudah, Bu. Aku mau ke bersih-dulu," ucap Fabian.


"Ibu tunggu di meja makan. Bodoh amat dengan tuan puteri, mau makan malam atau tidak," gerutu bu Kinanti seraya berjalan menuju meja makan.


Jam sepuluh malam.


Fabian terbangun dari tidurnya lantaran ponselnya bergetar. Jika malam hari ia sengaja mematikan nada ponselnya, tujuannya tak lain adalah agar Maureen tak terbangun. Ia tak ingin istrinya itu melihatnya berbalas pesan dengan Nesya.

__ADS_1


Namun kali ini Fabian kesal sebab kekasih gelapnya itu menelponnya.


"Benar-benar cari penyakit. Aku sudah bilang jangan pernah sekali pun menelponku saat malam hari. Kenapa dia menelponku," gerutunya kesal.


Fabian pun akhirnya memilih menekan tombol berwarna merah yang berarti menolak panggilan itu.


Hanya selang beberapa saat, ponselnya kembali bergetar. Ia kembali menolak panggilan itu dan mengirim pesan untuk si penelpon.


[To: Nesya]


[Kirim pesan saja. Jangan mencari penyakit!]


Tidak lama kemudian Nesya membalas pesannya.


[From: Nesya]


[Tolong saya, Pak. Saya demam. Badan saya menggigil. Tetangga rumah kontrakan saya semuanya sedang bekerja. Persediaan obat saya habis]


Fabian sontak kebingungan. Di satu sisi ia mengkhawatirkan Nesya, tapi di sisi lain ia tidak mungkin keluar rumah malam-malam begini. Mendengar suara pintu depan terbuka saja Maureen akan terbangun dan mengikutinya. Apalagi jika jika ia mendengar suara mobilnya.


"Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?" gumamnya.


Fabian tampak berpikir beberapa saat setelah sebelum akhirnya mengambil keputusan.


"Naik taksi. Ya, itu adalah jalan satu-satunya agar aku bisa mendatangi rumah Nesya tanpa harus membangunkan seisi rumah," gumamnya lagi.


Fabian beranjak perlahan dari ranjang, ia lantas mengambil jaket kulitnya yang tergantung di balik pintu kemudian mengenakannya.


Berusaha tak membuat suara, ia menarik pintu sepelan mungkin, dan ia berhasil. Maureen sama sekali tak terusik. Rupanya pendengaran Maureen memang tajam. Di saat Fabian memutar anak kunci pintu depan rumahnya, tiba-tiba saja istrinya itu terbangun. Ia pun bergegas beranjak dari ranjangnya dan menuju ruang tamu.


"Mas mau pergi kemana?" tanyanya.


Bersambung …


Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2