Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Laki-laki idaman?


__ADS_3

Aku merasa heran, pagi itu banyak pelanggan baru yang tiba-tiba menghubungiku dan memesan pakaian di konveksi milikku dalam jumlah besar. Bahkan beberapa dari mereka sudah mengirim uang sebagai tanda jadi. Demi menjawab rasa penasaranku, aku pun bertanya pada mereka. Dan jawaban yang kudapat sungguh mencengangkan. Mereka mengatakan jika orang yang sudah merekomendasikan konveksi ku pada mereka ternyata mantan istri Fabian, Silvia. Sepertinya rasa cintanya pada mantan suamiku itu kini telah berubah menjadi dendam dan kebencian.


"Maaf, Bu. Sepertinya kita membutuhkan karyawan tambahan. Minggu ini pesanan cukup tinggi, dengan jumlah karyawan sekarang, kami khawatir tidak saggup memenuhi pesanan pelanggan," ucap Seto. Karyawan yang kutunjuk sebagai kepala produksi.


"Baik, saya usahakan untuk secepatnya mencari tambahan karyawan. Untuk saat ini kerjakan saja pesanan sesuai kapasitas kalian, tidak usah memaksakan diri," ucapku.


"Baik, Bu."


"Kamu kenapa, Nak? Sepertinya bingung sekali," tanya ibu saat melihatku menggoreskan penaku pada selembar kertas dengan coretan yang tidak beraturan bentuknya. Menggambarkan pikiranku yang saat ini yang sedikit kacau. Di mana dan bagaimana aku mencari karyawan baru, sementara beberapa orang karyawanku memilih pindah ke konveksi milik Fabian dengan alasan gaji yang ditawarkan olehnya lebih besar dari konveksi milikku.


"Konveksi membutuhkan tambahan karyawan karena pesanan produksi Minggu ini cukup tinggi."


"Kenapa kamu harus bingung? Di luar sana pasti masih banyak orang yang membutuhkan pekerjaan ."


"Gaji yang ditawarkan konveksi milik Fabian dari konveksi ini, kemungkinan besar mereka lebih memilih ke sana."


"Ehm … bagaimana jika kita meminta bantuan Gibran? Relasi nya pasti banyak, dia pasti bisa membantu kita mengatasi masalah ini," ucap ibu.


"Benar juga."


"Ya sudah, sekarang kamu hubungi Gibran."


Selama ini aku begitu jarang menghubungi dia lebih dulu. Namun kali ini aku harus mengesampingkan gengsiku.


[Halo, Assalamu'alaikum]


[Waalaikumsalam, mimpi aku apa aku semalam di telepon sang pujaan hati. He he he]


[Aku menelponmu bukan untuk membahas yang tidak-tidak]


[Berarti ingin membalas yang iya iya, dong. Hehehe]


[Minggu ini konveksi mendapatkan pesanan yang cukup tinggi]


[Itu hal yang bagus 'bukan? Artinya konveksi mu dipercaya oleh masyarakat di luar sana]


[Aku bingung]


[Kenapa kamu harus bingung, harusnya kamu bersyukur]


[Dengan banyaknya pesanan, berarti aku harus menambah jumlah karyawan. Masalahnya aku bingung bagaimana dan di mana mencari tambahan karyawan, sementara beberapa karyawanku saja memilih keluar dari konveksiku dan pindah ke konveksi Fabian dengan alasan gaji yang ditawarkan di sana lebih besar. Aku menghubungimu atas saran ibu. Kamu memiliki banyak relasi, mungkin saja kamu bisa membantuku]


Terdiam sejenak.


[Memangnya berapa karyawan yang kamu butuhkan?]


[Sekitar 5 sampai 6 orang]


[Kebetulan kemarin saat aku membuka lowongan kerja sebagai penjaga toko pakaian ku, cukup banyak peminatnya walaupun pada akhirnya hanya dua orang saja yang aku pilih. Aku masih menyimpan data-data mereka nanti coba hubungi mereka apakah mereka mau jika aku tawarkan pekerjaan di konveksi milikmu]


[Baiklah, terima kasih sebelumnya. Hanya itu saja yang ingin kusampaikan]


[Tidak ada yang lain]


[Apa maksudmu?]


[Bilang kangen, misalnya. Hehehe]


[Tidak usah membahas yang aneh-aneh]


[Oh ya, besok malam aku mendapat undangan pernikahan di salah satu klienku. Jika kamu tidak keberatan aku ingin mengajakmu sebagai pasanganku untuk menghadiri undangan itu]


[A-a-ku?]


[Ya. Kamu pikir siapa lagi teman dekat perempuanku saat ini?]


[Aku-aku malu]


[Astaga, kenapa harus malu. Yang menikah itu kawan sekolahku dulu. Dia orangnya baik kok]


[Nanti kupikir-pikir lagi]


[Ayolah, kumohon. Apa aku harus mengajak ibu untuk menemaniku ke pesta itu? Kamu pikir itu pesta ulang tahun bocah?]


[Aku terkekeh]


[Kok malah ketawa? Kamu mau tidak? Jika tidak mau, aku mau mengajak salah satu karyawan tokoku]


[Ya sudah sana, ajak saja gadis itu]


[Dari suaramu saja aku tahu kalau kamu cemburu, hayo ngaku]

__ADS_1


[Siapa juga yang cemburu]


[Aku berikan waktu berpikir sampai nanti malam. Untuk baju kamu tidak usah khawatir aku yang akan membelikannya]


[Tidak perlu, aku masih memiliki baju yang pantas kau pakai untuk pergi ke pesta]


[Artinya kamu mau 'kan? Hehehe]


[Bu-bu-bukan itu maksudku]


[Sudahlah tidak usah malu-malu kucing begitu. Aku tahu kamu selalu merasa nyaman saat berada di dekatku]


[Ke geer-an banget jadi orang. Ya sudah aku tutup dulu teleponnya bicaramu sudah mulai ngelantur]


[Aku tunggu kabar baiknya. Sampaikan salamku untuk ibu dan Lyra]


[Ibu?]


[Maksudku ibu Sabrina]


[Insya Allah nanti kusampaikan. Assalamualaikum]


Klik. Ku akhiri panggilan telepon.


"Bagaimana, Nak? Apa Gibran bisa membantu kita," tanya ibu sesaat setelah aku mematikan telepon.


"Gibran mengatakan jika saat membuka lowongan kerja untuk menjadi penjaga toko di pakaiannya kemarin cukup banyak peminatnya, jadi dia akan mencoba menghubungi pelamar yang ditolak itu. Semoga mereka mau ditempatkan di konveksi kita."


"Apa Ibu bilang, Gibran selalu ada untukmu," goda ibu.


"Ehm … ehm … Bu."


"Ada apa? apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?"


"Ehm … tidak jadi."


"Ayolah, tidak usah main rahasia-rahasian sama ibu. Ibu tahu kamu mau ngomong sesuatu," desak ibu.


"Ehm … dia mengajakku ke pesta pernikahan kawan SMA nya besok malam," ucapku sedikit gugup.


"Dia siapa? Gibran?"


"Ya sudah, kamu iyakan saja."


"Tapi, Bu."


"Tapi, kenapa? Hanya menemaninya saja kan? Selama ini dia sudah banyak berbuat baik denganmu, dengan Lyra juga. Apa salahnya jika sesekali kamu membantunya?"


"Aku malu, lagi pula kami tidak memiliki hubungan apapun."


"Makanya kamu terima saja lamarannya. Dengan begitu kamu tidak akan malu jika harus pergi berduaan dengannya."


"Untuk saat ini aku belum bisa memberi jawaban, Bu."


"Sampai kapan kamu akan terus menggantungnya? Menunggu itu tidak enak loh, ada kalanya si penunggu lelah dan menyerah. Bagaimana kalau Gibran tiba-tiba ninggalin kamu dan menikah dengan perempuan lain?"


"Ya berarti dia memang belum jodohku."


"Susah ngomong sama kamu. Kurang apa lagi si Gibran itu. Sudah baik, pengertian, sayang sama Lyra punya banyak usaha, tampan lagi."


"Ibu ngomong begitu seperti itu yang mau menikah dengannya saja."


"Ibu bicara apa adanya kok. Menurut ibu Gibran itu laki-laki idaman. Kalau saja Ibu masih muda ibu pasti mau dinikahinya." Ibu terkekeh.


"Ya sudah sana, Ibu menikah saja dengannya."


"Jangan cemberut gitu dong, ibu hanya bercanda kok."


"Oh ya, di mana Lyra dan Anisa?"


"Sepertinya masih di kamar Lyra."


Belakangan ini ketika akhir pekan Anisa seringkali menghabiskan waktunya di rumahku.


Aku berlalu dari hadapan ibu dan menuju kamar Putri semata wayangku itu.


"Apa kalian tidak bosan dari tadi pagi di kamar terus?" tanyaku.


Tunggu. Kenapa kamar ini kosong? Ke mana mereka berdua?


Dari kamar Lyra, aku bergeser ke kamar Fina. Dari depan pintu kamar itu kudengar tertawa cekikikan dari dalam sana. Karena penasaran aku pun memutar gagang pintu lalu mendorongnya. Tak mampu meledak saat melihat pemandangan yang ada di hadapanku.

__ADS_1


"Masya Allah apa yang kalian lakukan, Nak?"


Aku mendapati wajah kedua gadis kecil berwarna-warni dengan alat make up milik Fina lengkap dengan pemulas bibir dan perona pipi.


"Siapa yang mengajari kalian begini?" tanyaku sambil menahan tawa.


"Kami ingin jadi pelempuan dewasa yang cantik, Bu."


Aku mengulas senyum.


"Cantik itu tidak harus dengan make up atau riasan tebal, Sayang. Jadi yang sesungguhnya berasal dari sifat yang baik dan hati yang tulus," ujarku.


"Begitu, ya."


"Kalau wajah kalian begini, kalian malah terlihat seperti badut." Sekali lagi aku terkekeh.


"Sebelum mbak Fina pulang, cepat bereskan alat-alat make up itu dan kembalikan pada tempatnya, setelah itu kalian cuci muka."


Kedua gadis kecil itu menurut. Dengan sikap mereka membereskan kembali meja rias Fina dan mengembalikan peralatan make up nya di tempat semula.


"Ibu jangan bilang-bilang Mbak Fina ya, kalau kami sudah main-main dengan alat make up nya."


"Iya, Sayang. Sudah sekarang kalian cuci muka lalu tunggu ibu di depan, ibu punya kue brownies untuk kalian," ucapku.


"Hole! Kue blownies!" sorak mereka.


"Oh ya, Anisa. Barusan ibu kamu mau pesan pada auntie, ayahmu tidak bisa menjemputmu karena dia harus ke kampus sore ini. Tidak apa kan kalau auntie yang antar kamu pulang?" ucapku saat keduanya tengah menikmati kue brownies di ruang tamu.


Anisa hanya menganggukkan kepala sementara mulutnya penuh dengan kue brownies buatan tanganku sendiri.


"Kue blowniesnya enak banget, Auntie. Anisa boleh 'kan membawa pulang untuk ayah dan ibu?"


"Manis sekali kamu, Nak. Iya nanti aunty bungkus kan untuk ayah dan ibumu."


"Terima kasih, Auntie Zula."


Anisa tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya yang kecoklatan karena kue brownies itu.


Aku memandang wajah Anisa, puteri semata wayang kak Darren dan Fatimah. Masih cukup segar di ingatanku saat itu ketika Anisa baru lahir kak Darren merasa kecewa karena Fatimah melahirkan anak perempuan, bukan anak laki-laki seperti yang diharapkannya. Kak Darren bahkan sempat ingin mengakhiri pernikahan mereka lantaran kehadiran orang ketiga, salah satu mahasiswa kak Darren yang bernama Widya. Alhamdulillah Allah membukakan pintu hati kakak laki-lakiku itu sehingga tangga mereka bisa diselamatkan.


"Auntie Zula kenapa menangis? tanyanya.


"Auntie tidak menangis kok, Sayang. Kita siap-siap ya, setelah ini Auntie antar kamu pulang ke rumah."


"Kalau Anisa libur sekolah, Anisa boleh 'kan, nginep di sini lagi?"


"Tentu saja boleh, kami ini 'kan keluarga Anisa juga."


"Auntie Zula baik, Nisa sayang sama Auntie." Keponakanku itu lalu memelukku.


Aku baru sadar jika tangannya yang kotor karena brownies itu mengenai hijab lebarku yang berwarna putih.


"Yaa, autie harus ganti hijab lagi deh."


"Maaf, Auntie, Anisa nggak sengaja."


Anisa berusaha mengusap bekas brownies yang melekat di hijabku. Bukannya bersih kain hijabku justru semakin bertambah kotor.


"Sudah, Sayang. Tidak apa. Nanti aunti cuci hijabnya."


"Kita ke rumah Kak Darren ya, Pak Amin," ucapku ketika kami menghampiri mobilku yang berada di halaman.


"Baik, Bu."


Awalnya perjalanan kami lancar namun di tengah perjalanan, tiba-tiba pak Amin menghentikan laju mobilku.


"Ada apa, Pak?" tanyaku.


"Di depan ada kemacetan, Bu."


Aku memandang keluar mobilku. Rupanya terjadi keributan di depan sebuah bekas ruko. Tunggu dulu. Bukankah itu konveksi milik Fabian? Apa yang terjadi di sana hingga menimbulkan kemacetan begini?"


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2