Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Just info


__ADS_3

Assalamu'alaikum, readers tersayang,


Dukung terus Author agar lebih semangat berkarya ya, Kak. Terima kasih untuk semua dukungan yang sudah kalian berikan sampai detik ini. Kali ini Author mau spill judul novel yang akan terbit di awal bulan ... eh awal tahun yang mungkin bab nya tidak sampai ratusan alias main plot cepat. Demi apa? Demikian dan terima cuan. 🥰🥰


Wassalamu'alaikum.



"Brengseeek kamu!" Nashwa mendorong tubuh Hanafi yang menindih tubuhnya hingga pemuda itu jatuh terjengkang.


Nashwa menangis pilu lantaran bagian intinya terasa begitu perih. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia melakukan hubungan yang sebenarnya hanya diperbolehkan untuk suami-istri.


"Aku minta maaf, Wa. Aku terbawa suasana," ucap Hanafi seraya mendekap tubuh Nashwa yang masih mengenakan pakaian seragam itu. Sementara Nashwa tampak terburu-buru membersihkan cairan kental yang bercampur darah itu dari bawah sana.


"Ya Allah, maafkan hamba mu ini," lirihnya.


Nashwa lekas mengenakan kembali pakaian dalamnya dan kain penutup kepalanya. Ia lantas meninggalkan kamar terkutuk itu.


"Kamu mau kemana? Di luar masih hujan deras!" teriak Hanafi.


Gadis berusia tujuh belas tahun itu bernama Nashwa, sementara sang pemuda bernama Hanafi. Keduanya kini duduk di bangku kelas 3 SMA.


Nashwa nekad menembus derasnya hujan. Air matanya pun kini telah menyatu dengan air dari langit. Tiba-tiba saja dia menyesal kenapa dia harus datang ke rumah Hanafi untuk menjenguknya.


kedua remaja itu sudah menjalin hubungan sejak mereka masih duduk di bangku kelas 2. Di matanya Hanafi adalah pemuda yang sopan dan tidak pernah sekalipun berani menyentuhnya. Namun, entah setan apa yang siang itu merasuki mereka.


*Flashback on*


"Hanafi kemana, Dim? Sudah beberapa hari ini nggak kelihatan," tanya Nashwa pada sahabat Hanafi yang bernama Dimas itu.


"Hanafi sedang sakit. Sudah tiga hari absen."

__ADS_1


"Sakit apa?"


"Nggak tahu. Aku juga belum sempat menjenguknya."


"Ya sudah, sepulang sekolah nanti aku ke rumahnya."


*****


Bel tanda pelajaran berakhir berbunyi. Semua siswa di kelas Nashwa pun bergegas meninggalkan kelas.


Tiba-tiba saja petir menggelegar. Detik kemudian hujan pun turun dengan lebatnya.


"Kamu bawa payung 'kan, Wa?" tanya Rania, kawan sekelas Nashwa yang juga tetangga dekatnya. Gadis berhijab itu menganggukkan kepalanya.


"Yuk, kita pulang sekarang, aku sudah lapar."


"Ehm … kamu duluan saja deh Ran."


"Lho, memangnya kenapa?"


"Hujan-hujan begini? Apa tidak bisa besok saja?"


"Ehm … ibu yang menyuruhku untuk menyampaikan pesan penting yang tidak bisa disampaikan melalui pesan atau telepon."


"Ya sudah, aku pulang duluan. Kamu hati-hati. Sampai ketemu lagi besok."


Rania berlalu dari hadapan Nashwa, ia pun lantas meninggalkan ruang kelas tersebut.


Nashwa tidak benar-benar mengunjungi rumah budhe nya, tetapi dia mendatangi rumah pacarnya, Hanafi.


Tak ada yang tahu jika Nashwa yang dikenal aktif dalam kegiatan keagamaan di sekolahnya itu memiliki seorang pacar. Hanafi sendiri juga dikenal siswa yang alim dan tidak pernah dekat dengan siswa perempuan manapun. Bisa dibilang tidak ada seorangpun yang mengetahui jika keduanya menjalin hubungan.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Hanafi.


"Sepi banget, bapak dan ibumu kemana?" tanya Nashwa sesaat setelah Hanafi keluar dari dalam kamarnya.


"Bapak dan ibu sedang menghadiri hajatan di kampung sebelah. Kamu hujan-hujanan, Wa?"


"Nggak lah, aku bawa payung. Dimas bilang sudah beberapa hari kamu absen. Memangnya kamu sakit apa?"


"Dokter di puskesmas bilang aku kena gejala tiphus."


"Kamu harus banyak istirahat dan menjaga pola makan."


"Aku buatkan minum dulu." Hanafi beranjak dari tempat duduknya namun ia merasa benda-benda di sekelilingnya berputar, hingga akhirnya ia terduduk kembali di kursinya.


"Tidak perlu repot-repot. Kamu istirahat saja di kamarmu. Sepertinya badan kamu masih lemas." Nashwa pun lantas memapah Hanafi masuk ke dalam kamarnya.


Suatu ketika petir menggelegar begitu nyaring. Memekakan telinga siapapun yang mendengarnya. Nashwa yang sedari kecil memang takut dengan petir itu pun melompat dan merengkuh tubuh Hanafi.


Untuk kalinya pertama sepasang netra itu bersitatap dalam jarak yang begitu dekat.


"Mata kamu indah sekali, Nashwa."


Hanafi meraih dagu Nashwa lalu mendaratkan sebuah ciuman lembut di sana.


Batin Nashwa memberontak.


"Ini tidak benar, berciuman dengan pasangan yang bukan makhram adalah salah satu bentuk zinaa."


Nashwa mendorong tubuh Hanafi, namun entah mengapa pemuda itu justru semakin erat mendekapnya.


Sekali lagi petir menggelegar. Nashwa pun semakin mengeratkan pelukannya. Rupanya gadis itu sudah mulai terbawa suasana. Ia membiarkan saja saat Hanafi membuka kain penutup kepalanya. Untuk kali pertama juga Nashwa memperlihatkan aurat nya pada lawan jenisnya.

__ADS_1


Leher jenjang Nashwa semakin membuat hasraat Hanafi menggelora. Ia mulai mencumbuu tengkuk leher itu dan memberi pagutan hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana. Bukannya menolak, Nashwa yang tengah melayang karena perlakuan pacarnya itu membiarkan saja saat Hanafi mulai membuka kancing baju seragamnya. Sama seperti yang dilakukan di bagian lehernya, ia juga memberi pagutan di bagian gundukan kembarnya.


Bersambung...


__ADS_2