Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Jebakan


__ADS_3

"Tidak, Bu. Pemilik mobil itu tadi bersama seorang perempuan. Kalau dilihat dari penampilannya, sepertinya dia cukup berada."


"Apa pemilik mobil itu mengatakan kemana dia akan pergi?" tanya Sabrina.


"Maaf, Bu. Kurang jelas pemilik mobil itu mau pergi kemana. Dia hanya mengatakan menitipkan mobilnya selama dua hari," jelas pelayan cafe.


"Rupanya laki-laki itu tidak pernah puas hanya memiliki satu istri saja," gumam Sabrina.


"Kita jadi makan siang nggak?" tanya Prayoga yang membuat Sabrina sedikit tersentak kaget.


"I-i-iya. Mas saja yang pesan."


"Dua porsi steak dan dua gelas jus jeruk," ucap Prayoga pada pelayan cafe.


****


Sementara itu di sebuah gedung seminar.


Fabian tampak kikuk saat memasuki ruang seminar itu bersama Silvia. Ini adalah kali pertama baginya mengikuti acara yang dihadiri para pemilik perusahaan yang tentu saja jutawan atau bahkan milyarder.


"Selamat siang, Ibu Silvia," sapa seorang pria yang mengenakan setelan jas itu.


"Selamat siang, Pak."


Dari Silvia, pandangan pria itu beralih pada Fabian.


"Ini asisten Bu Silvia atau suami Ibu?"


"Dia-dia ehm, manager di kantor saya, Pak. Namanya Fabian.


"Maaf, saya pikir suamimya. Kalau saya lihat, kalian cocok sekali menjadi suami istri."


"Ehm, saya-saya belum menikah, Pak."


"Saya pikir mencari pendamping hidup bukan hal yang sulit bagi perempuan secantik dan sehebat Bu Silvia," ujar pria itu.


"Mungkin memang belum ketemu jodoh yang pas saja."


"Bu Silvia dulu menolak saya. Jadi saya terpaksa menikah dengan perempuan lain. Hahaha," kelakarnya.


Silvia menanggapi ucapan itu dengan senyuman simpul.


****


Dua jam kemudian seminar hari pertama selesai. Fabian mulai resah lantaran setelah ini ia akan mendatangi hotel yang akan menjadi tempat mereka menginap selama di kota "M".


"Atas nama Silvia Pratiwi," ucap Silvia pada petugas resepsionis.


"Selamat beristirahat. Semoga nyaman menginap di hotel kami," ucap resepsionis itu sembari menyodorkan sebuah kunci kamar pada Silvia. Keduanya tidak menyadari jika sepasang mata mengawasi mereka dari kejauhan.


"Sa-sa-saya tidur di mobil saja," ucap Fabian saat sesaat setelah Silvia membuka pintu kamar bernomor 151 itu.


"Lho, memangnya kenapa? Kita memang tidur di satu kamar. Tapi kamu lihat sendiri 'kan? Tempat tidurnya terpisah." Silvia mengacungkan jari telunjuknya ke bagian dalam kamar.


"I-i-iya. T-t-tapi, …"


"Astaga. Kamu jangan takut. Saya tidak akan berbuat macam-macam kok. Ayo masuk." Silvia menarik tangan Fabian lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar tersebut.

__ADS_1


Malam harinya.


Fabian dan Silvia terlihat berjalan beriringan menuju restoran untuk makan malam. Di tempat itulah Silvia bertemu dengan seseorang yang pernah hadir di masa lalunya. 


"Selamat malam, Via," sapa pria itu sembari menarik sebuah kursi yang berada persis di sebelah Fabian lalu mendudukinya.


Tentu saja Silvia tak menyahut. Raut wajahnya justru terlihat begitu kesal.


"Ngapain kamu di sini?" tanyanya ketus.


"Aku juga ikut seminar bisnis. Memangnya kamu nggak melihatku tadi?"


Silvia memalingkan wajahnya.


"Oh ya, suami kamu?"


"Bu-bu-bukan, Pak. Saya manager di kantor nya."


Silvia melirik kesal pada Fabian seolah kecewa lantaran Fabian tidak mengiyakan saja pertanyaan itu.


"Oh, begitu ya. Jadi, kalian menginap di satu kamar ya?"


"Memangnya kenapa kalau kami menginap di satu kamar? Bukan urusan kamu juga."


"Seorang laki-laki dewasa dan seorang perempuan dewasa berada di dalam satu kamar. Munafik kalau mereka tidak melakukan, …"


"Dari dulu pikiran kamu memang selalu kotor. Itulah sebabnya aku ninggalin kamu."


Laki-laki itu bernama Dion. Dia adalah mantan pacar Silvia saat kuliah. Dulu keduanya nyaris bertunangan. Namun, sehari sebelum acara pertunangan itu, Silvia mendapati Dion tengah bermesraan di dalam mobil bersama seorang perempuan yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.


"Aku minta maaf sudah pernah menyakiti hatimu. Aku tidak menyangka Tuhan kembali mempertemukan kita. Apa salahnya kita mengulangi hubungan kita seperti dulu? Apalagi kita sama-sama masih lajang." Tiba-tiba Dion meraih tangan Silvia. Tentu saja Silvia menepisnya dengan kasar.


"Kenapa kamu jadi jual mahal begini? Dulu kita tidak hanya sekali dua kali menyewa kamar motel 'bukan?"


"Tidak perlu mengungkit masa lalu. Aku sudah menguburnya dalam-dalam! Mengenalmu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku!"


Silvia beranjak dari tempat duduknya, ia lantas menarik tangan Fabian.


"Kita makan siang di tempat lain saja!" serunya.


Dion hanya bisa berdiri mematung memandang keduanya berlalu meninggalkan ruangan itu.


"Kamu lihat saja, Via. Aku akan membalas perlakuanmu ini," gumamnya.


****


Keesokan paginya.


"Kamu bisa membuktikan ucapanku 'bukan? Tidak terjadi apapun meski kita tidur di dalam satu kamar," ucap Silvia sembari menyibak tirai jendela.


"I-i-iya."


"Aku memang begitu tertarik padamu, tapi aku juga masih tahu batasan yang tidak boleh kulanggar," ujarnya.


Silvia baru saja melangkahkan kakinya menuju kamar mandi ketika tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar. Dia pun membalikkan badannya dan bergegas menghampiri pintu.


"Selamat pagi, Nona," sapa pelayan hotel dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


"Selamat pagi."


"Saya ingin mengantar minuman ini."


"Kamu pesan minuman, Bian?" tanya Silvia pada Fabian. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya.


"Maaf, kami tidak memesan minuman. Mungkin kamu salah kamar."


"Setiap pagi hotel ini memberikan minuman gratis untuk semua tamu kami. Nona tidak perlu membayarnya."


"Begitu, ya? Kebetulan saya juga sedang haus," ucap Silvia.


Pelayan itu pun lantas mengambil dua gelas minuman dari dalam trolly, lalu meletakkannya di atas meja di dekat ranjang.


"Saya permisi dulu, selamat pagi."


"Selamat pagi."


"Kamu mau minum, Bian?" tanya Silvia.


"Nanti saja."


Silvia pun lantas meneguk segelas minuman itu hingga benar-benar kosong.


"Aku mandi dulu," ucapnya sembari berjalan menuju kamar mandi.


Tiba-tiba saja tenggorokan Fabian terasa begitu kering. 


"Seperti minuman ini menyehatkan," gumamnya. Dia pun lantas meneguk gelas berisi jus itu hingga habis tak bersisa.


Semuanya berjalan wajar hingga Fabian dan Silvia meninggalkan kamar mereka dan memasuki gedung pertemuan di hotel itu yang merupakan tempat diadakannya seminar.


"Selamat pagi, Nona Silvia," sapa Dion sesaat setelah memasuki ruang seminar.


Tentu saja Silvia enggan menanggapi sapaan mantan pacarnya itu. Dia justru menggandeng mesra tangan Fabian dan mengajaknya menjauh dari hadapan Dion.


Silvia mulai melihat keanehan pada Fabian setelah seminar berjalan selama tiga puluh menit.


"Kamu kenapa?" tanyanya.


"Tidak apa, Bu. Rasanya badanku berkeringat."


"Ruangan ini menggunakan AC, mana mungkin kamu berkeringat?"


"Mungkin saya kurang enak badan."


Fabian merasakan jantungnya berdebar, sementara keringat dingin mulai membasahi sekujur badannya. Ia pun terlihat gelisah di tempat duduknya.


"Kalau kamu sakit, kamu bisa kembali ke kamar," bisik Silvia. Tentu saja dia tidak ingin seorang pun mendengarnya.


"Argh!" 


Raut wajah Silvia berubah panik saat Fabian tiba-tiba mencengkram pahanya yang tertutup rok selutut itu.


"Astaga! Kami ini kenapa?"


Bersambung…

__ADS_1


Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya…. 


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2