
"Ehm…nggak apa-apa kok. Tadi aku tidak sengaja membentur pintu," jawab Fatimah.
"Kamu jangan bohong. Wajah kamu itu memar karena bekas dipukul," ucapku.
"Bukan, Ra. Ini hanya bekas terbentur pintu. Setelah diobati nanti juga sembuh."
Aku tak mempercayai begitu saja ucapan kakak iparku itu. Luka memar di wajahnya jelas memperlihatkan jika itu adalah bekas pukulan.
"Siapa yang sudah memukulmu, Fat?" tanyaku.
"Ti-ti-tidak ada yang memukulku. Bukankah tadi aku sudah bilang aku tidak sengaja membentur pintu," bantahnya.
"Kita sudah cukup lama mengenal. Aku tahu kalau kamu sedang menyembunyikan sesuatu," ujarku.
"Ada apa sebenarnya, Nak? Bicara saja pada kami." Ibu menimpali.
"Ehm…aku-aku, …"
"Apa kak Darren yang memukulmu?" tanyaku sembari menatap lekat mata Fatimah. Sahabat lamaku itu menganggukkan kepalanya.
"Astaghfirullah! Kenapa kak Darren berbuat sekasar itu? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Fatimah yang sedari tadi berusaha terlihat baik-baik saja itu kini tak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya. Tangisnya pun mulai pecah.
"Kenapa Darren memukulmu, Nak? Apa dia sering berbuat kasar padamu?" tanya ibu.
"Akhir-akhir ini mas Darren berubah. Dia sering berkata kasar padaku bahkan dia tidak segan main tangan hanya karena aku melakukan kesalahan kecil."
"Memangnya masalah apa yang membuat kak Darren setega itu padamu?"
"Aku hanya bertanya pada mas Darren siapa Widya yang akhir-akhir ini sering menelponnya saat lewat tengah malam. Tapi dia malah tersinggung dan memukulku," ungkap Fatimah.
"Di mana kak Darren sekarang? Aku harus bicara dengannya."
"Mas Darren pergi dari semalam dan belum pulang. Sepertinya dia marah padaku. Aku mencoba menghubungi ponselnya tapi tidak bisa tersambung."
__ADS_1
"Apa Darren selalu begini kalau kalian sedang ribut?" tanya ibu.
"Tidak, Bu. Mas Darren nyaris tidak pernah berkata kasar apalagi main tangan. Sifatnya berubah setelah aku melahirkan Anisa. Mas Darren kecewa lantaran aku melahirkan anak perempuan. Sekarang mas Darren sering berkata kasar dan ringan tangan," ungkap Fatimah.
Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruang tamu.
"Alhamdulillah, Mas pulang juga. Aku khawatir pada Mas," ucap Fatimah.
Kak Darren memandangku dan ibu bergantian.
"Oh, kamu mengundang mereka pasti untuk mengadu 'bukan?"
"Ini ibu, Nak. Setelah sekian lama tidak bertemu, apa kamu tidak ingin mencium tangan ibu?"
"Maaf. Aku menganggap jika ibuku telah mati," ujar kak Darren.
"Kak Darren! Jaga ucapanmu! Ibu ini adalah orangtua kita yang harus kita hormati!" seruku.
"Kamu bisa ngomong begitu karena kamu memang anak kesayangannya."
"Jadi, baru sadar kalau aku sakit hati dengan perlakuan Ibu yang pilih kasih itu?"
"Ibu minta maaf jika dulu selalu mengutamakan kepentingan Zura dibandingkan kamu dan Maureen."
"Masih ingat juga rupanya kalau Ibu masih memiliki anak perempuan selain anak kesayangan Ibu itu."
"Maureen putri ibu juga. Mana mungkin ibu lupa padanya. Apa kamu tahu di mana keberadaannya sekarang?"
"Kalaupun aku tahu di mana keberadaannya, aku tidak akan memberitahu Ibu. Sama sepertiku, Maureen juga sudah begitu terluka atas perlakuan Ibu dan ayah. Mungkin dia juga sudah berpikir tidak memiliki ibu lagi."
"Sampai kapan Kakak akan menyimpan dendam dan kebencian pada kami? Percaya lah, dendam dan kebencian hanya akan menyiksa perasaan Kakak sendiri."
"Apa kamu pernah berpikir jika musibah yang menghancurkan keluarga kita adalah karena kesalahanmu?" Ibu menimpali.
"Loh, kok Ibu malah nyalahin aku."
__ADS_1
"Kamu dan Maureen yang sudah membayar orang untuk menculik Zura malam itu 'kan?" tanya ibu.
"Mana buktinya?"
"Aku memang tidak punya bukti. Tapi malam itu aku mendengar obrolan Kakak dengan kak Maureen yang berencana menyingkirkanku dari rumah. Penculik itu orang suruhan Kakak 'kan? Dia berusaha menarikku paksa dari kamar. Namun aku melakukan perlawanan dengan berpegangan pada korden jendela. Naas, korden itu menyambar lilin yang tengah menyala karena lampu di kamarku yang tiba-tiba padam. Aku yakin penculik itu yang sengaja memutus aliran listrik sebelum dia beraksi."
"Apa benar kamu orang yang berada di balik musibah kebakaran itu, Darren?" Ibu menatap lekat mata kak Darren.
"Kalau memang iya kenapa? Ibu mau lapor polisi dan memenjarakanku? Ibu yang justru akan mendapat malu karena orang-orang di luar sana akan tahu seperti apa perempuan yang sudah melahirkanku ini."
"Darren, kamu, …!"
Ibu mengangkat tangan kanannya dan bersiap melayangkan tamparan di wajah kak Darren namun tertahan.
"Ibu mau menamparku? Silahkan!"
"Sudahlah, Bu. Kita pulang saja. Percuma berdebat dengan orang yang keras kepala," ucapku.
"Aku pun tidak mengharapkan kehadiran kalian di rumah ini."
"Oh ya, ingat pesanku. Perlakukan Fatimah dengan baik. Jangan pernah bersikap kasar apalagi menyakitinya," ucapku.
"Sudah ceramah nya? Pintu keluar di sebelah sana," ucap kak Darren sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah pintu.
"Semoga Allah lekas membukakan pintu hatimu," ucapku sebelum beranjak dari ruangan itu.
Kapan dendam dan kebencian kak Darren pada kami akan mencair?
Bersambung…
Hai, pembaca setia…. ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
Happy reading…
__ADS_1