
Pagi itu Fabian tengah berada di jalan menuju tempat kerjanya di cafe. Ia menginjak rem sepeda motornya secara mendadak lantaran seorang pejalan kaki yang melintas di saat lampu lalu lintas masih berwarna hijau.
"Kalau mau menyeberang itu lihat warna lampunya berubah merah dulu!" serunya.
"Tunggu. Sepertinya perawakan wanita ini tidak asing bagiku," gumamnya.
"Astaghfirullahaldzim! Ibu!"
Fabian menepikan sepeda motornya lalu mengajak wanita yang dipanggilnya ibu itu duduk di salah satu bangku yang berderet di sepanjang trotoar.
"Apa yang Ibu lakukan di sini? Dan kenapa Ibu membawa tas?" tanyanya.
"Ibu diusir dari rumah Zura."
"Astaghfirullahaldzim. Aku tidak menyangka dia setega itu.
"Dia menganggap ibu hanya menjadi bebannya. Zura memang berubah setelah dia sukses."
"Keterlaluan! Ya sudah, ibu tinggal bersamaku saja. Tapi aku minta maaf, tempat tinggalku sekarang hanyalah di rumah kontrakan sempit," ucap Fabian.
"Tidak apa, Nak. Ibu minta maaf atas sikap ibu kemarin."
"Sudahlah, Bu. Kita lupakan semua yang sudah terjadi. Kita mulai lagi semuanya dari awal. Sekarang aku antar ibu ke rumahku."
"Bukannya kamu mau berangkat kerja? Bagaimana kalau kamu terlambat?"
"Tempat tinggalku tidak jauh dari sini. Hanya butuh waktu beberapa menit saja."
Fabian pun lantas mengajak ibu Kinanti menuju rumah kontrakannya.
"Ibu sudah makan?" tanya Fabian.
Sang ibu menggelengkan kepalanya.
"Aku masih punya nasi dan sedikit sayur untuk sarapan tadi. Ibu mau 'kan?"
Sang ibu mengangguk pelan.
"Maaf aku tidak bisa menemani ibu di rumah. Jika Ibu membutuhkan bantuan, Ibu bisa minta tolong pada tetangga," jelas Fabian. Sang ibu mengangguk paham.
"Aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum."
Fabian pun lantas meninggalkan rumahnya.
Rupanya kedatangan sang ibu di rumah kontrakan itu menarik rasa penasaran warga yang tinggal di lingkungan itu.
"Ibu ini ibunya mas Fabian ya?"
"Mas Fabian dulu digrebek warga karena ketahuan berbuat me*um di dalam mobil."
"Kalau saya jadi ibunya, sudah saya kutuk jadi batu."
"Punya anak kok tidak punya moral begitu."
"Padahal istrinya masih di dalam penjara, Kenapa dia malah selingkuh?"
__ADS_1
Satu persatu pertanyaan dan pernyataan itu meluncur dari mulut warga yang sengajs mampir di rumah kontrakan Fabian saat sang ibu tengah berada di teras rumah.
"Kalian ini berbicara seolah tidak pernah berbuat dosa. Tidak usah ikut campur urusan orang lain, urus saja urusan kalian sendiri!" sungut bu Kinanti. Dia pun akhirnya memutuskan masuk kembali ke dalam rumah.
****
Sementara itu di rumah Gibran.
"Kamu yakin memakai kemeja berwarna merah muda ini?" tanya sang ibu saat mendapati Gibran keluar dari dalam kamarnya dengan mengenakan kemeja lengan panjang berwarna merah muda serta dasi berwarna sedikit lebih tua.
"Memangnya kenapa kalau aku memakai kemeja ini? Aku sedang ingin memakainya saja."
"Sepertinya anak laki-laki mu ini sedang kasmaran, Sayang," sindir sang ayah.
"Cihuiiiii!" ledek Keenan.
"Masak apa pagi ini, Mbok?" tanya Gibran pada mbok Marni yang baru saja menuangkan nasi hangat ke dalam piringnya.
"Ayam kecap, Mas."
"Pas sekali. Ini makanan kesukaanku." Ia menarik sebuah kursi kemudian mendudukinya.
"Sejak kapan Mas Gibran menyukai masakan yang cenderung manis? Mbok masak ayam kecap ini atas permintaan bu Anita. Kalau buat Mas Gibran, saya sudah masak sambal goreng kentang."
"Mbok ini kaya gak tahu saja. Bagi orang yang sedang jatuh cinta, semua makanan terasa enak. Gula jawa saja bisa jadi rasa cokelat." Keenan terkekeh.
"Cie … yang mau ketemuan sama pacar," goda mbok Marni.
"Hari ini memang jadwal pengiriman pakaian pesananku. Tapi Zura bilang dia ada urusan. Jadi yang mengantar ke toko pakaianku hanya sopir dan salah satu karyawannya," jelas Gibran.
"Siapa tahu Zura ingin memberi kejutan. Bilang nya nggak bisa datang, tahu-tahu sudah di depan mata." Sang ayah menimpali.
"Oh ya, rencananya siapa yang akan menjaga tokomu nanti? Tidak mungkin 'kan, kamu seharian berjaga di sana," ucap sang ibu.
"Itu bukan hal yang sulit. Aku tinggal memasang pengumuman lowongan pekerjaan di sosial media, pelamar akan berdatangan."
"Bagaimana kalau ibu saja yang menjaga tokomu?"
"Yang benar saja. Masa Ibu menjaga toko milik anaknya sendiri. Bisa dibilang anak durhaka nanti."
"Ibu bosan hanya berdiam diri di rumah. Lagipula jika ibu yang menjaga toko, ibu bisa sekaligus mengawasi toko."
"Pokoknya aku tidak akan membiarkan Ibu menjaga toko. Aku akan mencari pegawai!" tegas Gibran.
"Gibran benar. Ibu boleh saja berkunjung ke toko, tapi tidak untuk seharian di sana."
Sang ayah menimpali.
"Kalau sudah dikeroyok begini mana pernah aku menang," gerutu Anita yang justru membuat suami dan kedua anak laki-lakinya terkekeh.
"Aku berangkat sekarang," ucap Gibran setelah meneguk susu segarnya.
"Sepagi ini?"
"Banyak yang harus kupersiapkan di toko."
__ADS_1
"Biar ibu bantu."
"Tidak perlu, Bu. Ibu di rumah saja, aku bisa mengerjakannya sendiri."
"Ini nggak boleh, itu nggak boleh. Lama-lama ibu bisa mati bosan di rumah," gerutu Anita kesal.
"Bagaimana kalau Ibu ikut aku saja?" ucap Keenan.
"Memangnya kamu mau ajak ibu kemana?"
"Aku mendapat undangan launching produk kosmetik di Mall G."
"Hari ini? Jam berapa? Ada artis nya juga 'kan?" tanya Anita penuh semangat.
"Apa hanya ibumu saja yang selalu bersemangat jika mendengar kata mall?" sindir sang ayah.
"Sepertinya semua perempuan begitu." Keenan terkekeh.
"Astaga. Sebenarnya kamu ini serius atau hanya mengerjai ibu, Ken?"
"Serius, Bu. Aku diperbolehkan mengajak satu orang."
"Keenan 'kan gak punya pacar, masa mau ngajak mbok Marni," ledek Gibran yang ditanggapi adik laki-lakinya itu dengan nyengir kuda.
"Ya sudah, ibu mau mandi, terus dandan yang cantik," ucap Anita.
"Ken, awasi ibumu. Jewer telinganya kalau dia genit dengan laki-laki," ucap sang ayah.
"Memangnya aku ini anak kecil, pakai dijewer. Aku tidak mungkin macam-macam, Sayang. Di hatiku hanya ada kamu seorang," ucap Anita.
"Ya sudah, aku berangkat dulu." Gibran beranjak dari tempat duduknya, ia lantas meninggalkan ruangan tersebut.
"Dalam hitungan ke tiga dia pasti kembali.
Satu … dua … ti- …" ucap sang ibu.
"Kunci mobilku tertinggal." Gibran meraih kunci mobilnya yang sedari tadi ia letakkan di atas meja makan.
"Sepertinya penyakit lupamu itu semakin parah saja.Bisa-bisa nanti kamu lupa namamu sendiri," kelakar sang ayah.
Gibran menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal.
"Hati-hati kalau bicara, memangnya kamu mau Gibran lupa ingatan?" protes Anita.
"Aku hanya bercanda, Sayang."
"Aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum," ucap Gibran seraya beranjak meninggalkan ruangan itu.
Gibran baru saja melajukan mobilnya ketika tiba-tiba seseorang melintas di hadapannya. Ia cukup terkejut melihat wajah perempuan yang begitu dikenalnya itu.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ke novel baruku yuk yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰 🥰🥰🥰