Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Ini salah takdir?


__ADS_3

(Masih di sambungan telepon)


[Ibu kita masih hidup]


[Kalau bicara yang jelas. Jangan membuatku bingung]


[Aku sekarang berada di jalan Cempaka. Di tempat ini baru saja terjadi kecelakaan, dan korban kecelakaan itu salah satunya ibu]


[Lantas, untuk apa kamu memberitahuku? Sama seperti ayah, ibu juga tidak peduli padaku. Dia hanya peduli padamu saja, anak kesayangannya]


[Sudahlah, Kak. Jangan lagi mengungkit masa lalu. Sekarang ibu sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tolong Kakak urus segala sesuatunya]


[Kenapa kamu nyuruh aku ngurusin ibu? Bukannya kamu anak kesayangannya?]


[Ya Allah, Kak. Kakak kan tahu sendiri aku punya bayi yang masih sangat kecil. Aku tidak mungkin membawanya bolak-balik ke rumah sakit]


[Enak banget ya? Anak dijadikan alasan]


[Aku sekarang tinggal di tempat kost. Hampir semua penghuni di sini adalah karyawan pabrik yang belum berumah tangga. Aku tidak mungkin menitipkan Lyra pada mereka]


[Jadi, mau kamu apa sekarang?]


[Kakak tolong urus biaya perawatan ibu dan urusan lainnya]


[Kami kan tahu sendiri, Fatimah baru saja melahirkan. Uangku sudah habis untuk membayar biaya persalinan dan membeli perlengkapan bayi lainnya]


[Jadi, siapa yang mau mengurus ibu?]


[Kamu saja anak kesayangannya yang ngurusin!]


[Kak Darren…Kak…Kak]


-Panggilan terputus-


Bagaimana jika kak Darren benar-benar tidak peduli pada ibu? Siapa yang akan membiayai biaya rumah sakit nya?


Apa yang harus kulakukan ya Rabb? 


Kulihat mobil ambulance mulai meninggalkan tempat terjadinya kecelakaan. Dari keterangan salah satu pengguna jalan, ibuku mengalami luka yang cukup serius. Bagaimana jika ibu tidak selamat?


"Maaf, Pak. Apa taksi ini bisa putar balik?" tanyaku pada pengemudi taksi.


"Bisa, Mbak. Memangnya Mbak nggak jadi pulang?"


"Saya harus ke rumah sakit mengikuti mobil ambulance itu. Saya khawatir dengan ibu saya."


"Jadi, korban kecelakaan itu adalah ibunya Mbak?"


"Benar, Pak."


"Ya sudah. Mbak masuk dulu. Saya akan memutar balik taksi saya si jalan depan sana," ucap pengemudi taksi.

__ADS_1


Aku pun lantas masuk kembali ke dalam taksi. Sepuluh menit kemudian aku kembali tiba di rumah sakit hampir bersamaan dengan mobil ambulance itu. Pria korban kecelakaan yang meninggal dibawa ke ruang jenazah, sementara ibuku dibawa ke ruang ICU.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Pak?" tanyaku pada seorang polisi yang berjaga di depan ruang jenazah.


"Korban mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di saat bersamaan truk melaju dari arah berlawanan. Keduanya tidak bisa menguasai laju kendaraan hingga akhirnya tabrakan tidak terhindarkan. Pengemudi truk dan pengemudi mobil tewas di tempat kejadian, sementara penumpang perempuan selamat meskipun keadaannya kritis," ungkap polisi.


Tidak berselang lama seorang dokter keluar dari dalam ruang tindakan.


"Keluarga pasien," ucapnya.


Aku berlalu dari depan ruang jenazah dan bergegas menghampiri dokter.


"Apa Ibu keluarga pasien?" tanyanya.


"Benar, Dok. Saya putrinya. Bagaimana keadaan ibu saya?"


"Pasien mengalami luka yang cukup parah di bagian kepalanya. Diduga pasien tidak mengenakan sabuk pengaman saat menumpangi mobil."


"Ibu saya bisa selamat 'kan Dok?" tanyaku.


Dokter membuang nafas.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Ibu bantu dengan do'a. Sebaiknya sekarang Ibu urus dulu biaya administrasi nya."


Aku terdiam. Uang yang kumiliki sekarang jumlahnya tidak lebih dari dua juta. Apa uang ini cukup untuk membayar biaya rumah sakit ibu?


Aku tersentak kaget saat tiba-tiba seseorang menyapaku.


"Ehm…aku balik ke rumah sakit ini lagi, May."


"Memangnya siapa lagi yang sakit?"


"Ibuku baru saja mengalami kecelakaan."


Mayra mengerutkan keningnya.


"Jadi, ibu kamu masih hidup, Ra?" tanyanya lagi. Aku menganggukkan kepala.


"Kalau ibu kamu masih hidup, kenapa kamu harus kebingungan mencari tempat tinggal?"


Aku menggandeng tangan perawat itu lalu mengajaknya duduk di sebuah bangku yang berada di depan ruang ICU.


"Kamu mau mengatakan sesuatu?" tanyanya.


"Sebenarnya ibuku masih hidup. Beliau pergi begitu saja meninggalkan rumah setelah rumah kami terbakar dan perusahaan keluarga kami jatuh bangkrut. Sejak saat itu aku tidak pernah tahu lagi kabar ibuku. Saat aku dalam perjalanan pulang dari rumah sakit ini, aku melihat kecelakaan di jalan yang dilalui taksi yang kutumpangi. Salah satu korban kecelakaan itu adalah ibuku. Tapi, aku bingung. Saat ini aku hanya memiliki uang dua juta. Aku takut uang itu tidak cukup untuk membayar biaya rumah sakit ibu."


"Kamu tidak usah bingung, Ra. Kalau uangmu kurang, kamu bisa pakai uangku dulu," ucap Mayra.


"Tapi, May. Aku nggak mau merepotkanmu."


"Aku nggak merasa direpotkan kok. Aku senang bisa membantu kamu. Kamu kan kemarin sudah menolak tawaranku untuk tinggal bersama di rumahku. Jadi, kali ini kuharap kamu tidak menolak bantuanku."

__ADS_1


"Terima kasih, May. Kamu memang sahabat yang baik dan pengertian," ujarku.


"Ya sudah, sekarang kamu bayar dulu biaya rumah sakit ibumu.


Aku berlalu dari hadapan Mayra dan berjalan menuju bagian administrasi. Biaya perawatan ibu ternyata mencapai tiga juta rupiah. Aku pun tidak punya pilihan selain menerima tawaran Mayra untuk meminjam uangnya.


"Maaf ya May. Aku merepotkanmu," ucapku sesaat setelah Mayra mentransfer uang senilai dua juta rupiah melalui aplikasi pengiriman uang di ponselnya.


"Nggak apa-apa, Ra. Yang satu juta kamu pakai untuk biaya rumah sakit ibumu, sisanya bisa kamu gunakan untuk kebutuhan sehari-hari."


Aku tidak memiliki kalimat lagi untuk mengungkapkan rasa terima kasihku pada kawan lamaku saat SMA itu. Aku pun merengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku.


"Aku permisi dulu. Masih ada tugas dari dokter Faisal," ucap Mayra sembari beranjak dari bangku.


"Terima kasih, May."


"Sudah, Ra. Jangan kebanyakan bilang terima kasih nya. Kaya sama siapa aja." Mayra terkekeh.


"Dadah, Lyra sayang," ucapnya sembari melambaikan tangan ke arah putriku. Dia pun lantas berlalu dari hadapan kami.


Beberapa saat kemudian pintu ruangan kembali terbuka. Dokter yang menangani ibu terlihat keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanyaku.


"Pasien sudah sadar. Tapi, …"


"Tapi kenapa, Dok?" 


Dokter menghela nafas berat.


"Dengan berat hati saya harus menyampaikan jika akibat kecelakaan itu pasien harus kehilangan indera penglihatannya," ungkap dokter.


"Jadi, ibu saya buta, Dok?" 


"Benar, Bu."


"Apa ibu saya masih bisa sembuh?" tanyaku.


"Dari hasil pemeriksaan, kornea mata pasien mengalami kerusakan yang begitu parah. Mungkin kebutaan yang dialami pasien bersifat permanen," jelas dokter.


"Jadi, ibu saya tidak bisa melihat lagi sampai kapanpun, Dok?"


"Benar, Bu. Satu-satunya jalan hanyalah melakukan operasi cangkok kornea mata dan operasi itu membutuhkan biaya ratusan juta rupiah."


Aku terduduk lesu di bangku panjang itu. Ujian demi ujian seolah tak pernah berhenti datang menyapaku. Ya Rabb, apakah ini salah satu cara Engkau menunjukkan kasih sayang Mu pada hamba Mu yang lemah ini? Apa aku akan lulus menghadapi ujian-ujian ini?


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2