
"Ibu pikir kalian tidak jadi datang," ucap Anita sesaat setelah Keenan dan Gibran tiba di ruang kunjungan.
"Tadi Keenan bertemu pacar barunya. Mereka mengobrol sampai lupa waktu," ucap Gibran.
"Pacar yang mana?"
"Itu yang tadi pakai jilbab lebar dan nggendong anak kecil."
"Sembarangan kamu. Namanya Azzura. Dia pernah menjahit baju pengantinku."
"Tapi dia cantik juga kok Ken. Coba dia pakaian seksi dan ketat, aku mungkin bisa jatuh cinta padanya." Gibran terkekeh.
"Pikiranmu memang tidak bisa jauh-jauh dari perempuan cantik dan seksi."
"Aku tidak mau munafik jadi laki-laki. Memangnya kamu mau punya calon istri yang jelek, gembrot, jerawatan, kampungan?"
"Cari istri itu jangan hanya yang cantik dan badannya bagus. Buat apa istri cantik kalau tidak bisa memasak dan mengurus suami?"
"Uangku banyak. Jika punya istri nanti aku tidak akan membiarkan tangannya kasar karena memasak ataupun mengerjakan pekerjaan rumah. Aku akan membayar pembantu dan koki. Ha ha ha," kelakarnya.
"Jadi, tugas istrimu apa? Hamil dan melahirkan, begitu?" ejek Keenan.
"Kalau punya anak pun aku akan membayar baby sitter untuk mengurusnya. Tugas istriku hanya melayaniku dan menghabiskan uangku."
"Astaga. Apa-apaan kalian ini. Kenapa malah membahas istri?" protes sang ibu.
"Ken yang mulai."
"Kok jadi aku yang disalahkan. Kamu yang duluan menuduh yang tidak-tidak."
"Ya sudah. Kalau kalian kesini hanya ingin bertengkar, ibu masuk ke sel lagi saja," ucap sang ibu setengah mengancam yang tentu saja ditahan keduanya.
"Tunggu, Bu! Kami janji tidak ribut lagi," ucap Gibran.
"Ibu sudah tidak tahan lagi tinggal di sini
Biasanya ibu tidur di kasur yang empuk dan di ruangan ber AC. Sekarang ibu harus tidur berdesak-desakan di lantai yang hanya beralaskan tikar. Baru beberapa hari saja badan ibu rasanya mau remuk," ungkap perempuan yang selalu bergaya sosialita itu.
"Ibu sudah tahu kalau hidup di penjara tidak enak. Kenapa Ibu harus jadi pecandu barang haram itu?" ucap Gibran.
__ADS_1
"Iya … iya. Ibu mengaku salah. Ibu terpengaruh kawan-kawan ibu yang selalu sibuk itu."
"Bagaimana, Ken? Apa kamu sudah menghubungi pengacara?" tanya sang ibu.
"Aku sudah dua kali mendatangi rumahnya, namun pengacara kenalan keluarga kita itu selalu tidak berada di tempat."
"Kenapa kamu tidak mencari pengacara lain?"
"Dari sekian banyak pengacara, hanya pak Leo yang paling sering memenangkan banyak kasus."
"Barang bukti yang dimiliki Ibu hanya beberapa gram saja. Aku yakin pengadilan akan mengabulkan permohonan untuk menjalani rehabilitasi," ujar Keenan.
"Ibu tidak mau jika harus dipenjara sampai berbulan-bulan apalagi sampai bertahun-tahun."
"Ibu harus janji, setelah kejadian ini Ibu akan tobat," ucap Gibran.
"Ya. Ibu kapok tidak mau lagi berurusan dengan barang haram itu lagi."
"Aku belikan makanan kesukaan ibu. Jangan lupa berbagi dengan tahanan lainnya," ucap Keenan sembari meletakkan sebuah kotak pizza berukuran besar di atas meja.
"Enak saja menyuruh ibu berbagi. Di tempat ini ibu hampir tidak pernah makan makanan enak. Kalau kalian mengirim makanan ya ibu akan makan sendiri."
Anita yang sudah begitu lapar itu lalu membuka kotak tersebut kemudian mengambil sepotong pizza dan menyantapnya dengan begitu lahap.
"Pelan-pelan, Bu. Nanti tersedak."
"Uhuk. Uhuk."
"Nah, apa kubilang." Dengan sigap Keenan membuka tutup botol air mineral lalu memberikannya pada sang ibu.
Setelah hampir satu jam, seorang petugas menghampiri mereka.
"Maaf, waktu kunjungan sudah habis. Ibu Anita harus kembali ke dalam sel tahanan," ucapnya.
"Tapi, Bu. Pizza saya belum habis."
"Ibu bisa melanjutkan memakannya di dalam sel."
"Kami pulang dulu, Bu. Jaga diri Ibu baik-baik." Keenan dan Gibran memeluk sang ibu bergantian.
__ADS_1
"Jangan lupa segera temui pak Leo agar ibu bisa cepat keluar dari tempat menyebalkan ini."
"Ibu tenang saja. Besok aku pasti akan mengajaknya ke sini," ucap Gibran.
"Memangnya kamu tahu di mana alamat rumahnya?" tanya Keenan.
Gibran terkekeh menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal.
"Kami pulang dulu, Assalamu'alaikum."
"Sampaikan pada ayah kalian jika ibu merindukannya."
Keenan tersenyum seraya menganggukan kepalanya. Kedua kakak beradik itu pun lantas meninggalkan tempat tersebut.
****
Gibran merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Entah mengapa bayang-bayang wajah perempuan berhijab lebar yang menggendong anaknya itu terus menari di pelupuk matanya. Saat ia memejamkan matanya pun bayang-bayang itu tak kunjung menghilang.
"Ah! Kulit wanita itu pasti putih mulus, lehernya jenjang dan arghhh! Sial! Aku ini kenapa?!" Gibran merutuki dirinya sendiri lalu membenamkan wajahnya di bawah bantal.
"Tidak! Mana mungkin aku menyukai wanita berpakaian rapat itu? Tentu saja dia kalah cantik dan seksi jika dibandingkan dengan Luna, Stella, Cintya."
Dering ponsel membuatnya mendengus kesal. Tanpa menatap layarnya, ia pun menjawab panggilan tersebut.
[Halo, Sayang. Kita ketemu yuk. Aku kangen sama kamu.]
[Azzura?]
[Astaga! Siapa Azzura 'hah! Ini aku, Luna!]
Bersambung …
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏
__ADS_1
Happy reading…