
Sore itu aku tengah menemani Lyra belajar di dalam kamarnya ketika tiba-tiba ponselku berdering. Ah! Selalu saja begini. Perasaanku yang tadinya baik-baik saja berubah tak karuan saat tahu siapa si penelpon.
"Ibu angkat telpon dulu ya, Sayang," ucapku. Lyra yang tengah asyik mewarnai itu menganggukkan kepalanya.
Aku melangkah keluar dari kamar Lyra lalu kujawab panggilan itu.
[Assalamu'alaikum]
[Waalaikumsalam. Alhamdulillah, kamu dan Lyra baik-baik saja]
[Ya, aku dan Lyra baik-baik saja. Kenapa suaramu panik begitu?]
[Bagaimana aku tidak panik, baru saja kulihat berita di koran jika bus pariwisata taman kanak-kanak tempat Lyra sekolah mengalami kecelakaan di rel perlintasan kereta api]
[Alhamdulillah, kami selamat karena kami batal berangkat]
[Batal berangkat?]
[Ya. Pagi hari sebelum kami berangkat, ibu mengalami musibah terjatuh di kamar mandi. Pagi itu juga aku membawa ibu ke rumah sakit]
[Lantas, bagaimana keadaan ibu?]
[Coba ulangi lagi]
[Bagaimana keadaan bu Sabrina?]
[Alhamdulillah, ibu baik-baik saja. Beliau hanya mengalami luka luar]
[Syukurlah kalau begitu, aku lega sekarang, ibu tidak kenapa-napa]
[Ibu?]
[Tidak apa 'kan jika aku memanggil Bu Sabrina dengan sebutan ibu?]
[Jangan bicara yang aneh-aneh]
[Nantinya bu Sabrina akan jadi ibuku juga]
[Apa?]
[Tidak usah kaget begitu. Memangnya kamu tidak memiliki sedikit pun perasaan padaku?]
Aku terdiam sejenak.
[Halo, kenapa kamu diam?]
[Aku-aku masih ragu]
[Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap]
[Kamu yakin?]
[Tentu saja. Aku akan menunggumu walau sampai seribu tahun lamanya]
[Jangan sok hiperbola]
[He he he]
[Di mana Lyra?]
[Sedang belajar di dalam kamarnya]
[Apa aku boleh mengobrol dengannya? Sebentar … saja]
[Awas saja kalau ngomong yang enggak-enggak]
[Nggak kok. Aku hanya ingin mengobrol sebentar]
[Tunggu sebentar]
Aku pun masuk kembali ke dalam kamar Lyra.
"Lyra, Sayang."
"Ada apa, Bu?"
"Sudah selesai mewarnai gambarnya?" tanyaku.
"Sedikit lagi."
"Ada yang ingin bicara sama Lyra."
"Siapa, Bu?"
__ADS_1
"Paman Gibran."
Lyra meletakkan pensil warnanya lalu meraih ponselku.
[Halo, Assalamu'alaikum, Paman Giblan]
[Waalaikumsalam. Lyra lagi ngapain?]
[Lagi mewalnai]
[Oh ya. Paman dengar dari ibumu, kamu batal mengikuti rekreasi yang diadakan sekolah ya?]
[Iya, Paman. Nenek sakit jadi halus dibawa ke lumah sakit]
[Lyra sedih nggak, nggak jadi piknik?]
[Ehm … sedih. Lyla 'kan belum pelnah piknik]
[Sebagai gantinya, bagaimana kalau paman ajak Lyra jalan-jalan. Lyra mau 'kan?]
[Mau … mau …]
[Lyra besok masuk sekolah nggak?]
[Kata ibu sekolah masih libul sampai hali Kamis]
[Ehm … bagaimana kalau besok paman jemput kamu di rumah?]
[Asyik! Lyla bilang ibu dulu ya]
"Ibu, Paman Giblan mengajak Lyla jalan-jalan besok. Boleh 'kan?"
"Ehm … boleh nggak ya?" gurauku.
"Boleh lah, Bu," rengek Lyra.
"Ya, boleh."
"Makasih, Bu." Lyra memberi kecupan lembut di pipiku. Dia lantas melanjutkan obrolannya dengan Gibran.
[Halo, Paman. Ibu bolehin Lyla jalan-jalan sama Paman]
[Ya sudah, besok pagi paman jemput di rumah ya. Ssssst, titip salam buat ibu. Assalamu'alaikum]
"Ibu, paman Giblan titip salam buat Ibu," ucap Lyra seraya menyodorkannya ponsel ke arahku.
"I-i-iya, waalaikumsalam."
"Kenapa pipi Ibu memerah?" tanya Lyra.
"Ah. Ibu sedikit kepanasan."
"Ehm! Cie … yang baru dapat salam dari paman tampan," goda Fina yang kebetulan melintas di depan kamar Lyra.
"Kamu ini bikin kaget saja. Baru pulang sekolah, Fin?"
"Iya, Bu. Ada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah."
"Ya sudah, kamu ganti baju lalu makan."
"Cie cie … yang hatinya lagi berbunga-bunga," goda Fina lagi.
"Fina jangan gitu dong. Nanti Zura malu," ucap ibu yang baru saja muncul di ruangan itu.
"Ibu juga sama saja suka menggodaku," gerutuku sebal.
"Memangnya benar Gibran yang menelponmu? Apa dia memesan pakaian lagi?"
"Ya, Gibran menelpon untuk setelah dia membaca berita perihal kecelakaan di perlintasan kereta api."
"Dia pasti khawatir padamu, juga pada Lyra."
"Dia mengajak Lyra jalan-jalan besok."
"Gibran laki-laki yang baik dan pengertian. Dia mengajak Lyra jalan-jalan pasti bertujuan agar Lyra tidak sedih karena kemarin batal piknik. Kamu mengizinkannya pergi 'bukan?"
"Ya, Bu. Aku ingin melihat Lyra tersenyum agar kekecewaannya terobati," ujarku.
"Kenapa kalian tidak pergi bertiga saja?"
"Ah! Tidak. Besok aku ada jadwal pengiriman ke luar kota."
"Kan ada pak Amin. Dia bisa mengirim barang ke pelangganmu dengan Seto."
__ADS_1
"Pelanggan meminta aku sendiri yang mengantar barang pesanannya," ucapku.
"Oh, begitu."
"Selagi cuaca cerah, bagaimana kalau kita ke makam ayah? Sebentar lagi juga jam pulang karyawan," ucapku. Ibu mengangguk setuju.
"Setelah berpamitan pada Lyra dan Fina, aku dan ibu lantas berangkat menuju tempat pemakaman umum.
Di tengah perjalanan tiba-tiba pak Amin menghentikan laju mobilku.
"Jalan utama menuju makam ditutup karena perbaikan jalan. Jadi kita harus melewati jalan alternatif."
"Ya sudah, lewat jalan alternatif saja," ucap ibu.
"Tapi, Bu. Jalanannya sepi. Saya sendiri belum pernah sekalipun melewatinya," ucap pak Amin. Aku bisa menangkap keraguan di sorot matanya.
"Kalau pak Amin ragu kita kembali ke rumah saja," ucapku.
"Kita sudah setengah jalan. Nanggung kalau mau balik lagi," ucap ibu.
"Tapi pak Amin ragu, Bu."
"Nggak akan ada apa-apa. Lagipula masih terang begini."
"Ya sudah, kita lewat jalan alternatif saja," ucapku.
Pak Amin lantas melajukan kembali mobilku.
Belum lama melintasi jalan yang tidak terlalu luas itu, tiba-tiba mobilku oleng.
Pak Amin pun menepikan mobilku dan bergegas memeriksa ban mobilku.
"Kenapa, Pak?" tanyaku.
"Ban mobilnya bocor, Bu. Tertusuk paku," jawabnya dari luar mobil.
"Bagaimana ini, Bu? Tidak ada bengkel di sekitar sini," imbuhnya.
"Mungkin inilah alasannya kenapa pak Amin ragu," gumamku.
Aku keluar dari dalam mobilku lalu menghampiri pak Amin.
"Saya heran, kenapa tidak hanya salah satu ban mobilku yang bocor, tapi tiga ban sekaligus," ucap pak Amin.
"Astaghfirullahaldzim."
Tidak berselang lama muncullah dua orang pria Seorang menuntun sepeda motor, sementara seorang lainnya mendorongnya.
"Kenapa dengan sepeda motornya, Pak?".
"Ban nya bocor karena tertusuk paku."
"Ketiga ban mobil saya juga tiba-tiba bocor," ucapku.
"Aneh. Kenapa bisa bersamaan begini?"
Aku dikagetkan dengan kemunculan dua orang pria bertubuh kekar.
"Selamat sore, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Selamat sore. Ban mobil saya dan ban sepeda motor bapak itu bocor."
"Saya bisa menolong kalian menjemput petugas bengkel ke tempat ini."
"Alhamdulillah," ucapku.
"Tapi ada upahnya."
"Upah?"
"Ibu pikir di dunia ini masih ada yang gratis? Ke toilet umum saja bayar."
"Saya rasa uang ini cukup kalau hanya untuk membeli bensin," ucapku seraya menyodorkan uang pecahan seratus ribu pada salah satu pria.
Bukannya berterima kasih, pria bertato itu justru merebut paksa dompetku.
Bersambung …
Hi, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰 🥰🥰🥰