
Siang itu aku baru saja selesai keluar dari toko perlengkapan menjahit. Cukup banyak barang yang kubeli. Itulah alasanku mengajak serta Fina. Udara yang begitu terik membuatku merasa sangat haus. Aku pun mengajak Fina mampir di sebuah warung makan yang berada tidak jauh dari toko tersebut.
"Dua gelas es jeruk, Bu," ucapku pada pemilik warung.
Dengan sigap wanita paruh baya itu menyiapkan minuman dingin pesanan kami.
"Tidak sekalian makan siangnya, Bu?" tanya pemilik warung.
"Tidak, Bu. Terima kasih."
"Banyak juga barang belanjaannya, Bu," ucap wanita itu sesaat setelah memandang kantong plastik berukuran besar yang kuletakkan di sisi bangku.
"Iya, Bu. Cukup banyak stock perlengkapan menjahit yang mulai menipis."
"Oh, Ibu ini penjahit rupanya. Sudah lama menjahit, Bu?"
"Sekitar satu tahun, Bu."
"Kebetulan kemarin saya baru saja mengambil bahan baju seragam untuk anak saya yang baru masuk SMA. Saya belum sempat mencari penjahit. Bagaimana kalau Ibu saja yang menjahitnya? Anak saya perempuan, perawakannya mirip seperti putri Ibu ini," ucapnya.
Ah! Pasti ia mengira Fina adalah putriku. Namun aku membantah. Meskipun tak memiliki hubungan saudara ataupun kerabat, aku cukup beruntung dipertemukan dengan Fina yang rajin, penurut, dan begitu pengertian. Semua ibu akan merasa beruntung memiliki putri sepertinya.
"Oh, jadi ukuran baju seragam nya seperti ukuran pakaian Fina ya, Bu?" tanyaku.
Wanita itu menganggukkan kepalanya.
Ia pun lantas mengambil sebuah kantong plastik lalu memberikannya padaku.
"Baiklah, insyaallah baju seragam ini akan siap dalam waktu tiga hari," ucapku.
"Kalau boleh saya tahu berapa ongkos menjahit tiga stel baju seragam, Bu?"
"Saya tidak pernah memasang tarif bagi pelanggan saya. Selain mencari nafkah, saya juga ingin meringankan beban orang-orang di sekitar saya. Mungkin saat ini baru itu yang bisa saya lakukan."
"Masyaallah, baru kali ini saya menemukan penjahit berhati mulia seperti Ibu ehm …"
"Namanya ibu Azzura. Meskipun bukan ibu kandung saya, beliau selalu memperlakukan saya dengan sangat baik." Fina menimpali.
"Oh, maaf, saya pikir dek Fina ini putri Ibu."
"Tidak apa. Ibu bukan orang pertama yang berpikir begitu."
"Jahitan ibu Zura juga terkenal rapi loh Bu. Sekali Ibu menjahit di tempatnya, pasti Ibu akan menjadi langganannya," ujar Fina.
"Begitu, ya? Berarti saya sudah memilih penjahit yang tepat."
"Ah! Fina ini berlebihan, Bu. Saya hanya selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam pekerjaan saya. Alhamdulillah kalau ternyata mereka puas dengan hasil kerja saya," tukasku.
"Oh ya, di mana alamat rumah Ibu? Besok biar anak saya yang mengambil baju seragamnya."
"Oh, tempat tinggal kami tidak begitu jauh dari pabrik tekstil. Kami tinggal di tempat kost milik cik Leny," jelasku.
"Oh, iya saya tahu. Beberapa penghuni kost di sana juga sering jajan kesini."
__ADS_1
"Oh ya, berapa harga minumannya, Bu?" tanyaku setelah aku mengosongkan isi gelasku.
"Gratis, Bu."
"Loh, kok gratis. Ibu kan berjualan di sini untuk mencari nafkah. Mana mungkin kami minum dengan percuma."
"Tidak apa, Bu. Saya ikhlas kok. Almarhum suami saya sering berpesan, agar sering-sering bersedekah meskipun hanya segelas air minum," ujarnya.
"Alhamdulilah, terima kasih, Bu."
"Oh ya, ini ongkos jahit baju seragam anak saya." Pemilik warung itu memberikan uang padaku. Tentu saja aku tak enak hati menghitung jumlahnya.
"Terima kasih, Bu. Kami pamit dulu. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Kami bertiga pun lantas beranjak meninggalkan warung makan itu.
"A-yah … A-yah," celoteh Lyra.
"Ayah? Di mana, Sayang?"
"A-yah … Ayah."
Aku mengikuti kemana arah jari telunjuk Lyra. Rupanya seseorang yang ditunjuknya adalah seorang pria yang tengah duduk di depan sebuah ruko kosong sembari memegang sebotol air mineral. Sementara pandangannya tertuju pada kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan. Benar itu Fabian. Apa yang dilakukannya di sini? Apa dia tidak pergi ke kantor?
"Fabian …"
"Zu-Zu-Zura … Lyra? Kalian …?"
"Apa yang kamu lakukan di sini? Memangnya kamu tidak ke kantor?" tanyaku.
"Ehm … aku-aku, …"
Kuamati penampilan Fabian. Tidak seperti biasanya, ia selalu tampil rapi dengan kemeja berdasi, siang itu ia mengenakan kemeja putih panjang dan celana hitam. Lebih mirip seperti seorang pencari kerja.
Aku semakin heran saat mendapati sebuah amplop besar berwarna cokelat yang ia letakkan tidak jauh dari tempat duduknya.
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu berpakaian begini?" tanyaku lagi.
"Aku sedang mencari pekerjaan," jawabnya dengan wajah tertunduk.
"Apa aku tidak salah dengar? Jabatanmu di kantor kini direktur 'bukan? Kenapa tiba-tiba kamu mencari pekerjaan lain?"
"Aku-aku dipecat dari pekerjaanku."
"Hah?!" Lekas kubungkam mulutku.
"Kamu tidak sedang bercanda 'kan?"
Fabian tersenyum getir.
"Buat apa aku bercanda. Aku sudah dipecat dari kantor. Itulah sebabnya aku mencari pekerjaan baru."
__ADS_1
"T-t-tapi, kenapa bisa begitu? Bukankah kamu karyawan kebanggaan Silvia? Kenapa kamu bisa dipecat?"
"Banyak hal tak terduga yang bisa terjadi dalam hidup ini. Aku mulai berpikir apakah yang terjadi padaku adalah karma karena aku telah menyakitimu?"
"A-yah …" celoteh Lyra. Dia memaksa turun dari gendonganku hendak meraih lengan ayah kandungnya itu.
"Solehah nya ayah sudah besar."
Aku membiarkan saat Fabian mengambil alih Lyra dari gendonganku. Bisa kulihat kerinduan yang begitu besar dari caranya memeluk putri semata wayang kami itu.
"Maafkan ayah, Nak," lirihnya. Aku melihat sepasang netra itu mulai berkaca-kaca.
"Lyra kan-gen A-yah."
"Iya, Sayang. Ayah juga kangen sama Lyra." Fabian mendekap erat tubuh mungil itu lalu mendaratkan ciuman lembut di kepalanya yang tertutup hijab.
"Oh ya, bagaimana kabar Mila? Kamu masih sering mengunjunginya 'bukan? Dia tidak punya saudara ataupun kerabat lain di kota ini."
"Ehm … aku … aku …"
Obrolan kami terhenti saat tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapan kami. Beberapa saat kemudian tampak seorang wanita keluar dari mobil tersebut.
"Astaga! Bukannya mencari kerja. Kamu malah asyik mengobrol di sini!" serunya.
Aku pun sontak memandang wajah wanita itu. Meskipun baru sekali bertemu, aku tidak mungkin salah mengenalinya.
"Silvia? Kenapa dia marah-marah dengan Fabian?" gumamku.
"Kamu bilang mau cari pekerjaan, tapi kenapa kamu malah mengobrol dengan perempuan ini? Jangan-jangan kalian sering bertemu diam-diam di belakangku."
"Astaghfirullahaldzim. Tuduhan itu tidak benar. Kami tidak sengaja bertemu. Kamu lihat 'kan? Barang-barang ini? Aku dan Fina baru saja berbelanja di toko itu," ucapku seraya mengacungkan jari telunjukku ke arah toko perlengkapan menjahit.
"Cepat cari pekerjaan! Kamu pikir aku bisa kenyang makan angin 'hah!" Silvia menatap tajam mata Fabian. Aku bisa melihat amarah di sorot matanya.
Fabian yang masih menggendong Lyra pun bergegas memberikannya padaku.
"Ayah pergi dulu, Sayang," ucapnya.
"Awas saja jika sekali lagi aku memergoki kalian bertemu!" ancam Silvia yang ditujukan padaku.
Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Silvia yang tadinya selalu bersikap manis pada Fabian, sekarang begitu kasar padanya? Dan kenapa dia menyuruhnya mencari pekerjaan?
Bersambung …
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like, komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏
Happy reading…
__ADS_1