Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Habis-habisan


__ADS_3

"Aku mau dibawa ke mana? Aku tidak mau meninggalkan uang-uang ini," ucap Fabian saat dua orang pria berpakaian perawat menggandeng tangannya dan mengajaknya menuju sebuah mobil.


Kian hari kondisi Fabian semakin memprihatinkan. Tidak hanya setiap saat menyebut kata uang, setiap benda yang dilihatnya maka di matanya akan menyerupai uang. Hal itulah yang akhirnya  memaksa Maureen untuk mengirimnya menuju rumah sakit jiwa. Kasus penipuan yang menimpanya hingga membuat konveksi miliknya merugi dalam jumlah besar benar-benar telah membuatnya kehilangan akal sehat.


Siang itu Maureen terlihat tengah berbincang dengan seseorang di teras rumahnya. 


"Ini kunci mobil dan surat-suratnya, Pak. Mobil ini selalu terawat dengan baik," ucap Maureen sembari menyodorkan sebuah kunci beserta BPKB dan STNK nya.


"Baik, ini uang sesuai kesepakatan kita." Pria itu menyodorkan amplop cokelat berisi uang pada Maureen.


"Terima kasih, Pak."


"Mobilnya kamu jual?" tanya bu Kinanti yang baru saja muncul dari dalam rumah.


"Mau bagaimana lagi? Aku bisa dituntut jika tidak membayar gaji karyawan. Aku juga berencana menjual rumah ini."


"Jika kamu menjual rumah ini, kita mau tinggal di mana?"


"Kita? Memangnya siapa yang mau tinggal bersama orang yang menyebalkan seperti anda? Oh ya, anda bisa memakai uang ini untuk menyewa rumah dan untuk makan. Kalau anda hanya makan dengan garam saja, uang itu cukup untuk beberapa bulan ke depan." Maureen mengambil sebagian uang hasil penjualan mobil lalu memberikannya pada bu Kinanti.


"Keterlaluan kamu! Uang hasil penjualan mobil itu pasti lebih darl tujuh puluh juta. Kenapa aku hanya diberi lima juta?" protes nya.


"Sudah bagus dikasih uang, bukannya berterima kasih, ini malah protes."


"Fabian itu anakku, jadi aku yang lebih berhak atas uangnya termasuk uang penjualan mobil ini!" Bu Kinanti berusaha merebut paksa amplop berwarna cokelat dari tangan Maureen. Tentu saja menantunya itu menolak memberikannya.


"Segera beresi barang-barang anda. Orang yang akan membeli rumah ini sedang dalam perjalanan ke sini."


"Perempuan serakah!" umpat bu Kinanti.


"Terserah mau bilang apa!" ketus Maureen seraya berjalan masuk ke dalam rumah.


"Bu … apa benar rumah ini mau dijual?" tanya sang asisten rumah tangga. Rupanya sedari tadi ia mendengar obrolan mereka.


"Benar. Jadi sekarang juga Bibi beresi barang-barang Bibi. Saya tidak mau tahu Bibi mau kemana. Itu sama sekali bukan menjadi urusan saya."


"Tapi, Bu. Gaji saya bulan ini belum dibayar."


"Begitu ya? Ambil ini." Maureen mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dari dalam amplop berwarna cokelat lalu memberikannya pada perempuan paruh baya itu.


"Ma-ma-af. Gaji saya di sini 'kan satu juta lima ratus. Kenapa ini hanya lima ratus ribu?" 


"Bibi tahu 'kan keadaan kami sekarang sedang sulit? Masih bagus saya beri uang. Uang itu pasti cukup untuk ongkos pulang kampung."


"T-t-tapi, Bu, …"

__ADS_1


Tidak bersekang lama terdengar suara deru mobil dari arah halaman rumah.


"Itu pasti orang yang mau membeli rumah ini." Maureen beranjak dari ruang tamu lalu menuju halaman rumahnya.


"100 juta," ucap pria berkemeja kotak-kotak itu setelah mengamati rumah yang sudah ditempati Maureen selama lebih dari empat tahun itu dari luar.


"Anda jangan coba-coba membodohi saya. Harga pasaran rumah ini lebih dari dua ratus juta."


"Saya tidak membutuhkan rumah ini. Saya hanya menginginkan tanahnya saja. Di atas tanah ini nantinya akan saya bangun pusat kebugaran. Silahkan jika anda mau membawa serta isi di dalamnya."


"Ini tidak seperti yang kita bicarakan di percakapan kita semalam. Saya menjual tanah beserta rumahnya dengan harga penawaran 250 juta, dan anda sudah menyetujuinya 'bukan?"


"Keputusan ada pada anda, Bu Shireen."


"Maureen, astaga."


"Oh ya, Bu Maureen. Keputusan ada di tangan anda. Jika anda setuju melepas rumah ini dengan harga 100 juta, saya sudah menyiapkan uangnya. Tapi jika anda menolak tawaran saya, tidak masalah."


"Kalau saya menjual rumah ini dengan harga 100 juta, saya rugi besar. Jadi, maaf, saya belum bisa melepasnya," ujar Maureen.


"Baiklah, tapi jika anda berubah pikiran, anda bisa langsung menghubungi saya."


Pria itu lantas berjalan menghampiri mobilnya. 


Maureen ragu. harga seratus juta menurutnya terlalu murah. Tapi, jika tidak menjual rumah ini, ia tak tahu lagi bagaimana caranya membayar kekurangan gaji karyawan.


Pria itu pun sontak membalikkan badannya.


"Ya, Bu Shireen."


Maureen mendengus kesal lantaran pria itu lagi-lagi salah memanggil namanya.


"Bapak naikkan sedikit lah harganya. Jangan mentok di angka itu," ucapnya yang lebih mirip rengekan.


Pria itu tampak berpikir sejenak sebelum ia memberi jawaban.


"Ehm … begini saja. Seratus lima belas juta."


"Seratus lima puluh juta."


"Penawaran terakhir, seratus dua puluh lima juta." Pria itu terlihat mulai menarik handle pintu mobil.


"Tunggu, Pak! Baik, saya setuju dengan harga itu."


"Deal." Keduanya lalu saling berjabat tangan.

__ADS_1


Pria itu masuk ke dalam mobilnya lalu keluar dengan membawa amplop berwarna cokelat. Ia pun lantas memberikannya pada Maureen.


"Bisa saya lihat sertifikat rumahnya?"


"Tunggu sebentar."


Maureen beranjak dari halaman lalu masuk ke dalam rumah. Ia pun langsung mencari di mana keberadaan sertifikat rumah berlantai dua itu yang ia yakini disimpan Fabian di dalam lemari pakaiannya.


"Astaga! Apa-apaan ini!" 


Maureen geram lantaran mendapati kamarnya begitu berantakan. Pintu lemari dalam keadaan terbuka sementara hampir seluruh isi di dalamnya berserakan di atas lantai.


Maureen lekas mencari keberadaan sertifikat tanah di semua laci dan di bawah tumpukan baju. Namun hasilnya nihil. Ia tak menemukan benda yang dicarinya.


Dari lemari pakaian, pencariannya berlanjut pada meja rias. Ada beberapa laci di sana. Bukan tidak mungkin Fabian menyimpan surat berharga di dalam salah satu lacinya.


Sama seperti lemari pakaiannya, meja riasnya pun terlihat berantakan seolah seseorang baru saja mengobrak-abrik isi di dalamnya.


"Brengseek!" umpatnya.


Dari kamarnya Maureen bergeser ke kamar bu Kinanti. Diputarnya gagang pintu itu, ternyata terkunci entah dari dalam atau dari luar.


"Buka pintunya!" teriaknya sembari menggedor pintu tersebut.


Tak ada jawaban.


"Bu Kinanti sudah pergi dari pintu belakang, Bu," ucap sang asisten rumah tangga yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dengan menenteng tas berukuran besar. 


"Tunggu! Biar saya periksa isi tasmu!" titahnya tegas.


"Kenapa tas saya diperiksa, Bu? Ibu mencurigai saya mencuri?"


Maureen tak menghiraukan ucapannya. Ia justru mulai membuka satu persatu resleting tas berwarna hitam itu. Namun ia tak menemukan apapun selain pakaian.


"Kamu boleh pergi."


"Saya permisi dulu, Bu."


Wanita paruh baya itu terlihat membenahi posisi pakaian yang dikenakannya seolah menyembunyikan sesuatu di dalamnya.


Bersambung …


Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"

__ADS_1


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2