
"Mas boleh tidak percaya padaku. Tapi, jangan sampai cinta butamu juga membutakan hatimu. Istrimu ini bersikap manis hanya saat kamu berada di rumah. Saat kamu pergi, dia bersikap kasar pada ibu," ucapku.
"Zura, cukup! Pergi dari rumah kami sebelum aku berbuat kasar!" Fabian menaikkan suaranya beberapa oktaf.
"Baik, Pak Fabian yang terhormat. Saya akan pergi meninggalkan rumah ini. Tapi jangan menyesal jika terjadi sesuatu pada ibumu! Selamat pagi!"
Aku sempat memandang wajah ibu yang sedari tadi hanya diam di atas tempat tidurnya. Namun, aku tahu beliau mendengar semua percakapan kami.
"Maafkan Zura, Bu. Zura tidak bisa menjaga ibu," lirihku. Aku bisa menangkap sepasang netra perempuan tua itu telah basah.
"Ini Zura bawakan lapis legit kesukaan Ibu. Dimakan ya, Bu. Assalamu'alaikum." Aku meletakkan sekotak camilan manis itu di atas meja.
Kulangkahkan kakiku keluar meninggalkan rumah itu. Alangkah terkejutnya saat mendapati pemandangan yang ada di hadapanku. Beberapa pasang mata terlihat berdiri di teras rumah. Beberapa dari mereka adalah ibu-ibu yang tadi kulihat mengobrol di tukang sayur keliling. Menyadari kehadiranku, mereka pun lantas membubarkan diri.
"Oh, jadi ini toh istri tua pemilik rumah ini. Kelihatannya solehah, tapi kok kasar sekali dengan madunya,"ucap salah satu ibu.
"Mana ada wanita yang mau dimadu. Mungkin mbak ini datang ke rumah ini ingin minta balikan dengan suaminya. Tapi suaminya malah mengusirnya. Dia lebih memilih istri mudanya yang lebih muda dan masih kencang." Ibu lainnya menimpali.
"Makanya jadi istri yang baik biar suaminya setia dan tidak selingkuh."
"Jilbab nya aja yang lebar, tapi kelakuannya bar-bar."
Kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut itu benar-benar membuat hatiku pedih. Kenapa yang mereka dengar adalah adegan saat Fabian mengusirku? Bukan saat Karmila memarahi ibu dengan kata-kata kasar?
Aku mengelus dada sementara mulut ini tak henti mengucap kalimat istighfar. Setelah kupikir, buat apa menanggapi ucapan mereka? Biar saja mereka berpikir buruk tentangku. Allah yang maha tahu siapa yang benar, dan siapa yang salah.
"Saya permisi, Ibu-ibu. Assalamu'alaikum."
"Huuuuuuuuu."
Tak ada satupun yang menjawab salamku. Yang kudengar justru seruan panjang itu.
Meskipun kesal, aku mencoba acuh dengan sikap kurang menyenangkan itu. Kupandang sekali lagi rumah bercat biru muda itu sebelum aku benar-benar pergi meninggalkannya.
"Lindungi lah selalu ibu, ya Rabb," lirihku.
"Ibu kenapa?" tanya security bernama Freddy itu saat melihatku melintasi pos jaga.
"Tidak apa-apa kok," jawabku singkat.
"Muka Ibu pucat banget loh."
"Saya tidak apa-apa. Saya hanya sedikit kelelahan karena berjalan cukup jauh dari blok H."
Entah mengapa tiba-tiba tubuhku terasa lemas. Pandanganku pun berkunang-kunang.
"Ibu! Awas jatuh!"
Security bernama Freddy itu keluar dari pos jaga lalu berlari ke arahku. Seandainya dia tidak menopang tubuhku, aku dan Lyra yang berada di gendonganku pasti ambruk dan terjatuh.
"Ibu duduk dulu," ucapnya sembari memapahku masuk ke dalam ruangan kecil itu. Dia lantas memberi sebotol air mineral padaku.
__ADS_1
"Kalau Ibu sakit, jangan memaksakan diri bepergian. Kasihan juga adik bayinya. Bagaimana kalau tadi Ibu pingsan dan tidak ada yang menolong?" ucapnya.
"Saya tidak sakit kok. Tadi kan Bapak lihat sendiri saya segar bugar waktu datang ke sini?" protesku.
"Jangan panggil saya bapak. Saya belum menikah apalagi jadi bapak-bapak."
"Jadi, maunya dipanggil apa? Om? Atau Paman?"
"Memangnya wajahku sudah kelihatan tua banget ya?"
Aku mendengus kesal. Mengobrol dengan orang ini tidak ada selesai nya.
"Ibu mau kemana?" tanyanya saat melihatku beranjak dari tempat dudukku.
"Aku masih ada urusan."
"Ibu ini sibuk banget kaya pejabat," kelakarnya.
"Terima kasih untuk air minumnya. Assalamu'alaikum."
"Ibu yakin mau pergi? Bagaimana kalau Ibu pingsan di jalan?"
"Saya naik taksi kok. Nggak jalan kaki."
Tidak berselang lama sebuah taksi melintas.
"Rumah sakit, Pak," ucapku pada pengemudi taksi.
Solehah? Kenapa dia memanggilku begitu? Ah sudahlah. Bukan hal penting yang harus kupikirkan.
Aku meminta pengemudi taksi menepikan mobilnya di depan sebuah kedai. Aku ingin membelikan makanan kesukaan ibu yakni bakso. Aku masih ingat betul waktu kecil dulu beliau seringkali mengajakku ke warung bakso.
Lima belas menit kemudian aku tiba di rumah sakit. Aku pun lantas bergegas menuju kamar perawatan ibuku.
"Assalamu'alaikum."
Aku tersentak kaget mendapati seseorang berada di dalam sana. Seorang pria bertubuh tinggi dan kulitnya sawo matang. Dia terlihat tengah menyuapi ibu.
"Waalaikumsalam."
"Maaf, Bapak siapa?" tanyaku.
"Kenalkan, nama saya Prayoga. Saya ehm… kawan pasien ini. Mbak sendiri siapa?"
"Nama saya Azzura. Saya adalah putri kandung pasien ini."
"Putri kandung?"
Kulihat kedua alis pria itu bertaut.
"Benar, Pak."
__ADS_1
Pak Prayoga meletakkan piring berisi makanan itu lalu menarik sebuah kursi untukku.
"Bisa kita bicara, Mbak?" tanyanya.
Aku menganggukkan kepala, lalu menduduki kursi tersebut.
"Bapak ini siapa?" Aku mengulangi pertanyaanku.
"Sebenarnya saya adalah teman dekat Sabrina. Kami sudah menjalin hubungan selama lebih dari satu tahun."
Ucapan itu tentu saja membuatku kebingungan. Jika memang pak Prayoga ini adalah kawan dekat ibu, lantas siapa pria yang bersama ibu saat peristiwa kecelakaan itu terjadi?
"Maaf, Pak. Apa Bapak tahu siapa pria yang bersama ibu saya saat terjadi kecelakaan siang kemarin?" tanyaku.
"Namanya Roni. Dia adalah keponakan saya."
"Jadi pria yang meninggal itu adalah, …"
"Saya rasa begitu," potong pak Prayoga. Sepertinya beliau tahu kemana arah pembicaraanku.
"Hanya mereka berdua saja yang tahu apa hubungan mereka sebenarnya. Keadaan Sabrina saat ini tidak memungkinkan bagi kita untuk bertanya sesuatu padanya apalagi perihal hubungannya dengan almarhum Roni," ujar pak Prayoga.
"Bapak sudah tahu keadaan ibu saya sekarang. Beliau mengalami kebutaan dan amnesia. Kenapa Bapak masih begitu setia pada ibu saya?"
Pria paruh baya itu tersenyum.
"Saya begitu mencintai Sabrina. Bahkan saya berencana untuk melamarnya dalam waktu dekat. Tetapi, sepertinya saat ini Tuhan belum mengizinkan kami bersama," ucapnya.
Beruntung sekali ibu dipertemukan dengan pria sebaik pak Prayoga. Namun, satu hal yang masih menjadi teka-teki. Siapa sebenarnya Roni, dan apa hubungan ibu dengannya?
"Sabrina pernah bercerita pada saya jika beberapa tahun yang lalu dia meninggalkan keluarganya lantaran rumahnya terbakar dan bisnis keluarganya bangkrut. Mungkin ini adalah teguran dari Allah atas dosanya di masa lalu," ucap pak Prayoga.
"Wallahu a'lam, Pak. Hanya Allah yang tahu," ucapku.
Aku lantas mengalihkan pandanganku pada ibu. Beliau terlihat tengah duduk di atas ranjang pasien. Pandangannya tertuju ke arah taman kecil yang berada di balik kamar perawatan.
"Ibu, aku datang ke sini dengan membawakan makanan kesukaan Ibu," ucapku.
"Kamu siapa? Kenapa memanggilku ibu? Dan siapa bayi ini?" tanyanya.
"Aku Azzura. Putri Ibu. Dan bayi yang berada di gendonganku adalah cucu Ibu. Namanya Lyra."
"Azzura? Lyra? Ah! Tolong! Sakit! Kepalaku sakit!" jerit ibu.
Bersambung…
Hai, pembaca setia….
Ditunggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1