
"Maaf, Bu. Saya kurang tahu. Permisi."
Keduanya pun berlalu dari hadapanku.
Baru saja kulangkahkan kaki hendak memasuki supermarket itu, tiba-tiba Lyra menarik tanganku.
"Itu ayah, Bu," ucapnya seraya mengacungkan jari telunjuknya pada seorang laki-laki yang baru saja keluar dari dalam ruko kosong itu.
"Ayah!" teriak Lyra.
Laki-laki itu benar Fabian. Apa yang dilakukannya di ruko kosong itu? Atau dia kah pemilik konveksi itu?
"Ayah!" Sekali lagi Lyra berteriak memanggil nama ayah kandungnya itu. Semestinya teriakan yang cukup lantang itu mampu didengar olehnya. Namun, mantan suamiku itu hanya memandang sekilas ke arah kami lalu membuang muka. Ia lantas mengambil ponselnya dan masuk kembali ke dalam ruko.
"Kenapa ayah diam saja, Bu?" tanya Lyra.
Perih. Itulah yang kurasakan saat ini. Kenapa sikap Fabian pada putri kandungnya berubah dingin begini? Dan apa yang membuatnya berubah?
Aku mengulas senyum.
"Mungkin ayahmu sedang sibuk, Sayang. Jadi tidak mendengar kamu memanggilnya," hiburku coba membesarkan hatinya.
"Lyra jadi mau beli jajan nggak?" tanyaku sengaja mengalihkan pembicaraan.
Gadis kecilku itu menganggukkan kepalanya.
Aku pun menggandeng tangan Lyra lalu mengajaknya masuk ke supermarket.
Aku baru saja menarik salah satu gagang pintu. Di saat bersamaan pintu lainnya terbuka.
"Nenek?"
"I-I-Ibu."
Tanganku terulur berniat menyalaminya. Namun beliau justru memindahkan plastik yang tadinya dibawa dengan tangan kirinya ke tangan kanannya.
"Nenek belat nggak bawanya? Bial Lyla bantu." Lyra hendak mengambil alih salah satu kantong plastik dari tangan ibu, namun beliau justru menepisnya.
"Tidak usah!" sentaknya.
"Astaghfirullahaldzim. Lyra ini bermaksud baik, kenapa Ibu kasar begini?" protesku.
Kulihat sorot mata putriku berkaca-kaca.
Sebelum tangisnya pecah aku pun bergegas menggendongnya.
"Aku sedang sibuk!"
Mantan ibu mertuaku itu melengang begitu saja dari hadapan kami. Aku hanya mampu mengelus dada dengan sikapnya.
Tidak hanya Fabian, ibu Kinanti pun berubah acuh pada kami.
"Apa salah kami?" gumamku.
Setelah membeli jajanan di supermarket itu, kami pun langsung pulang ke rumah.
"Lyra simpan jajanan ini di dalam tas ya, Sayang."
"Ya, Bu."
Lyra pun lantas masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu kenapa, Nak?" sepertinya sedang memikirkan sesuatu," ucap ibu seraya duduk di sampingku.
"Tadi aku bertemu Fabian dan ibunya."
"Lantas?"
"Sikap mereka berubah."
"Berubah bagaimana?"
"Fabian mengacuhkan Lyra. Ibunya pun membentak Lyra padahal Lyra hanya ingin membantu barang belanjaan ibu Kinanti."
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin mereka iri melihat kesuksesanmu sekarang."
"Oh ya, Bu. Tadi aku mendengar dari seseorang jika di ruko dekat supermarket itu akan dibuka konveksi. Kulihat Fabian berada di tempat itu. Apa mungkin dia pemilik konveksi itu?"
__ADS_1
"Memangnya berapa gaji pelayan cafe? Mana mungkin dia mampu membuka. konveksi," sungut ibu.
"Lalu, apa yang dilakukannya di ruko itu?"
"Mungkin dia berhenti dari pekerjaannya dan berpindah ke konveksi itu."
"Mungkin."
"Oh ya, besok Ibu jadi menemani Lyra rekreasi 'kan?" tanyaku.
"Insyaallah."
"Ya sudah, aku mandi dulu."
Aku beranjak dari ruang tamu lalu masuk ke dalam kamarku.
Aku baru saja selesai menjalankan shalat Maghrib, tiba-tiba kudengar Isak tangis Lyra dari arah kamarnya.
"Lyra kenapa menangis, Sayang?" tanyaku.
"Ayah tidak sayang lagi pada Lyla."
"Tidak ada orangtua yang tidak menyayangi anaknya."
"Teman-teman Lyla besok ditemani ayah dan ibunya. Tapi ayah Lyla … hu … hu…"
"Kenapa Lyra harus sedih? Kan ada ibu, ada nenek juga," hiburku.
"Tapi, Lyla mau sama ayah. Hu … hu … hu…"
"Lyra coba lihat di cermin itu," ucapku yang sontak membuat tangisnya berhenti.
"Memangnya ada apa di cermin?"
"Cantiknya Lyra hilang kalau lagi menangis. Kalau mata Lyra bengkak pasti besok diejek teman-teman Lyra. Memangnya Lyra mau?"
Lyra pun cepat-cepat menyeka air matanya.
"Lyla nggak mau bengkak matanya."
Tiba-tiba terdengar suara khas dari dalam perut Lyra.
Putri kecilku itu menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, kita makan dulu."
Aku pun lantas membopong tubuh putriku lalu mengajaknya menuju ruang makan.
Keesokan harinya.
Aku dan Lyra telah siap berangkat. Namun sedari tadi ibu tak kunjung keluar dari dalam kamarnya.
"Nenek mana, Bu?" tanya Lyra.
"Nenek sedang bersiap, kita tunggu saja."
Karena tidak kunjung keluar, akhirnya aku memutuskan menghampiri kamarnya.
"Ibu sudah siap belum?" tanyaku dari luar pintu.
Tak ada jawaban.
"Ibu … apa Ibu masih tidur?" tanyaku lagi.
Masih tak ada sahutan.
Akhirnya aku membuka pintu kamar itu.
Heran. Aku tidak mendapati ibu di atas tempat tidurnya.
"Di mana ibu?" gumamku.
Tiba-tiba kudengar rintihan seseorang dari arah kamar mandi.
"Zura … Zura …"
Kupercepat langkahku menghampiri sumber suara itu. Aku terperanjat saat melihat ibu kandungku itu tertelungkup di lantai kamar mandi.
__ADS_1
"Astaghfirullahaldzim! Ibu!" pekikku.
"Bi! Bi Ami! Tolong saya!" teriakku.
Tidak berselang lama wanita paruh baya itu pun muncul.
"Ya Allah. Bu Sabrina kenapa, Bu?!"
"Entahlah. Tadi saya menemukan ibu sudah dalam posisi begini."
Dengan dibantu bi Ami, aku mengangkat tubuh ibu keluar dari dalam kamar mandi lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Lekas kubersihkan luka di bagian keningnya dengan alkohol lalu kuberi obat luka.
"Apa yang terjadi, Bu?" tanyaku.
"Ibu terpeleset dan kening ibu membentur dinding."
"Kita ke rumah sakit sekarang ya, Bu."
"Tidak usah, Nak. Kamu dan Lyra berangkat saja sekarang. Nanti kalian tertinggal bus."
"Aku tidak mungkin meninggalkan Ibu dalam keadaan begini," ucapku.
"Di rumah ada bi Ami dan pak Amin. Jika ada apa-apa, ibu bisa minta tolong pada mereka."
"Nenek kenapa?" tanya Lyra yang baru saja muncul di kamar ibu.
"Nenek jatuh di kamar mandi, Sayang."
"Nenek tidak apa-apa. Sudah, Lyra dan ibu berangkat saja. Kalian pasti sudah ditunggu."
"Nenek sakit, Lyla temani saja."
"Nenek tidak apa, Sayang. Kalian berangkat saja sekarang."
Ibu baru saja beranjak dari tempat tidurnya. Namun tiba-tiba ia memegangi kepalanya. "Ya Allah! Kenapa semuanya gelap begini?"
Detik kemudian tubuh itu pun ambruk kembali di atas tempat tidur.
"Bi, bilang pada pak Amin, siapkan mobil sekarang. Kita bawa ibu ke rumah sakit," ucapku dengan suara bergetar.
"Lyra di rumah sama bibi Ami ya. Ibu antar nenek ke rumah sakit," ucapku.
Putri kecilku itu mengangguk paham.
"Ibu minta maaf, hari ini tidak bisa menemani Lyra piknik," ucapku.
"Tidak apa, Bu." Lyra mencoba tersenyum meskipun aku melihat kesedihan di sorot matanya.
Sesampainya di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanyaku pada dokter sesaat setelah ibu selesai diperiksa.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pasien hanya mengalami luka luar saja. Tapi kondisinya masih cukup lemah. Saran saya pasien dirawat inap di sini sampai besok pagi," jelas dokter.
"Baik, Dok."
Aku bernafas lega karena ibu baik-baik saja. Meskipun di hati kecil ini aku merasa sedih lantaran hari ini gagal mengikuti rekreasi yang diadakan sekolah Lyra.
Astaghfirullahaldzim, kenapa aku harus bersedih? Bukankah semua yang terjadi di muka bumi ini atas kehendak Nya? Ampuni hamba ya Rabb …
Menjelang siang.
Aku hendak membeli air mineral di kantin rumah sakit. Kebetulan televisi televisi di ruangan itu tengah menayangkan siaran berita.
"Pemirsa, beberapa menit yang lalu telah terjadi kecelakaan di perlintasan kereta api. Bus pariwisata berisi puluhan siswa dan wali murid sebuah taman kanak-kanak terseret kereta hingga sejauh satu kilometer. Sampai saat ini belum dipastikan berapa jumlah korban tewas."
Aku memberanikan diri memandang layar televisi. Sendi-sendiku tiba-tiba saja lunglai saat melihat tayangan di layar televisi itu.
"Allahuakbar! Astaghfirullahaldzim!"
pekikku.
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baruku yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰 🥰🥰🥰