
Pagi ini aku ditemani pak Amin akan mengantarkan baju muslim pesanan salah satu pelanggan konveksi ku. Perjalanan dari rumahku menuju toko itu sekitar satu jam.
"Alhamdulillah ya Bu. Semakin hari pelanggan konveksi Ibu semakin banyak," ucap pak Amin seraya mengemudikan mobilku.
"Alhamdulillah. Ini berkat do'a Pak Amin juga," ujarku.
"Oh ya, Bu. Saya masih penasaran di mana keberadaan putera kandung bu Mala. Saya yakin anak itu masih hidup."
"Tidak ada seorang pun yang tahu di mana keberadaan Rayyan. Hampir semua warga mengatakan jika pak Sumarno dan keluarganya tewas dalam musibah gempa bumi."
"Jika Ibu tidak bisa menemukan Rayyan, apakah itu berarti bu Mala tidak akan menyerahkan Saddam pada pak Fabian dan bu Maureen?"
"Entahlah. Meskipun tidak mudah dan menemui jalan buntu aku tidak akan menyerah. Saddam ataupun Rayyan harus bertemu orangtua kandung mereka masing-masing.
"Semoga Allah memudahkan niat baik Ibu."
"Aamiin."
"Berhenti, Pak."
"Kenapa Ibu menyuruh saya berhenti?"
"Saya baru melihat kios bunga hias itu." Aku mengarahkan jari telunjukku ke arah luar mobil.
"Mungkin toko itu masih baru."
Aku turun dari mobil dan menghampiri kios itu. Maski masih terbilang pagi, kios bunga hias itu sudah terlihat ramai didatangi pengunjung.
"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" sapa pria yang kemungkinan besar pemilik kios.
"Saya baru melihat kios ini."
"Iya, Bu. Saya baru tiga hari berjualan di kios ini."
Aku pun lantas berjalan mengelilingi kios yang tidak begitu luas itu. Dari ratusan jenis bunga hias, pilihanku jatuh pada sebuah pohon bonsai.
"Sepertinya tanaman ini cocok diletakkan di ruang tamu," pikirku.
Aku baru saja hendak meraih pohon bonsai itu namun di saat bersamaan seseorang juga berusaha meraihnya.
"Ibu juga menginginkan tanaman ini?" tanyaku.
"Ya. Kebetulan saya belum memiliki tanaman jenis ini."
__ADS_1
"Maaf, Pak. Apa masih ada pohon bonsai yang lain?" tanyaku pada pemilik kios.
"Maaf, Bu. Pohon bonsai di kios saya hanya tinggal tersisa satu pot."
"Ya sudah, tidak apa. Kamu ambil saja. Biar saya memilih tanaman jenis lain," ucap perempuan berambut ikal itu.
"Oh, Ibu saja yang ambil. Saya bisa memilih jenis tanaman lain."
"Baiklah kalau begitu, terima kasih."
Kuanggukkan kepalaku seraya tersenyum.
Perempuan yang belum kuketahui namanya itu pun lantas membayar tanaman yang baru saja dibelinya pada pemilik kios.
Baru saja beranjak meninggalkan kios, tiba-tiba perempuan itu memegangi perutnya sambil mengaduh kesakitan.
"Ibu kenapa?" tanyaku seraya menghampirinya.
"Perut saya sakit sekali."
"Ibu sendirian saja?" tanyaku.
"Saya bersama asisten rumah tangga saya. Sekarang dia sedang berbelanja di pasar. Sakit … aww!" pekiknya.
"Sepertinya tidak jauh dari kios ini ada klinik. Sebaiknya Ibu berobat ke sana," ucap pemilik kios.
"Loh, ibu ini siapa?" Pak Amin keheranan saat melihatku memapah seorang perempuan ke arah mobil.
"Ibu ini tiba-tiba sakit perut. Kita harus segera membawanya berobat ke klinik."
"Tapi, Bu. Baju-baju pesanan ini sudah ditunggu pelanggan. Kita akan terlambat jika harus mengantarkan ibu ini berobat."
Aku tersenyum.
"Tidak apa, Pak. Biar itu menjadi urusan saya. Yang terpenting sekarang kita bawa ibu ini ke klinik agar segera mendapatkan pertolongan."
"Baik, Bu. Mari silahkan." Pak Amin pun lantas membuka pintu mobil bagian belakang.
Sesampainya di klinik.
"Sudah berapa hari Ibu mempunyai keluhan sakit perut?" tanya dokter sebelum memeriksanya.
"Baru sekali ini, Dok. Aww! Sakit sekali rasanya seperti diremas-remas."
__ADS_1
"Baik, mari saya periksa."
Dokter berjalan menuju ruang periksa diikuti perempuan yang belum kuketahui namanya itu di belakangnya.
"Apa yang terjadi pada saya, Dok? Saya baik-baik saja 'bukan?"
Dokter itu menghela nafas.
"Dari hasil pemeriksaan, saya menemukan adanya gejala suatu penyakit. Tapi untuk lebih jelasnya sebaiknya Ibu memeriksakan diri ke rumah sakit. Peralatan di sana lebih lengkap, jadi hasil pemeriksaan akan lebih akurat," jelasnya.
"A-a-pa, Dok? Saya terkena penyakit? Saya sakit apa? Apakah penyakit itu berbahaya dan bisa mengakibatkan kematian?"
"Maaf, saya tidak bisa menjelaskannya secara rinci sebab ini baru dugaan saya saja. Untuk lebih jelasnya Ibu bisa memeriksakan diri ke rumah sakit. Saya akan memberi Ibu obat pereda nyeri."
"Ya Allah. Bagaimana kalau saya terkena penyakit berbahaya? Dan bagaimana jika saya meninggal dunia? Saya takut," ucap perempuan itu dengan suara bergetar.
"Ibu tidak perlu takut, semua akan baik-baik saja," hiburku.
"Kedua anak laki-laki saya belum menikah. Bagaimana jika tiba-tiba Tuhan mengambil nyawa saya? Saya takut."
"Sesungguhnya segala sesuatu yang bernyawa di muka bumi ini adalah titipan, jika saatnya tiba, titipan itu akan diambil kembali oleh pemiliknya, yakni Allah subhanallahu wata'ala. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalani setiap catatan takdir yang sudah Allah gariskan saat kita baru berusia empat bulan di dalam rahim ibu kita."
"Terima kasih, Nak. Sekarang hati saya sedikit lebih lapang. Apapun hasil pemeriksaan dari rumah sakit nanti, insyaallah saya akan menerimanya dengan ikhlas."
Tiba-tiba seseorang perempuan paruh baya memasuki ruangan.
"Ya Allah, Nyonya kenapa?" tanyanya dengan raut wajah panik.
"Tidak apa, Mbok. Tadi saat di kios tiba-tiba saya sakit perut. Untung saja ada mbak ini yang mengantar saya berobat."
"Terima kasih sudah menolong nyonya." ucap perempuan itu.
"Sama-sama, Bu. Sebagai sesama manusia sudah seharusnya kita saling tolong menolong," ucapku.
Tunggu. Sepertinya aku pernah bertemu ibu ini. Tapi kapan dan di mana? Setelah beberapa saat mengamati wajah perempuan itu, aku pun akhirnya mengingatnya.
"Mbok Marni?"
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ke novel baruku yuk yang judulnya:
"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"
__ADS_1
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
Happy reading 🥰🥰🥰