
Aku baru saja merebahkan tubuhku di atas tempat tidur ketika tiba-tiba ponselku berdering. Hah! Keenan menelponku!
Bagaimana ini? Kenapa juga aku harus panik. Aku menghela nafas untuk mengurangi rasa gugupku.
[Halo, Assalamu'alaikum]
[Wa-alailumsalam.]
[Zura? Kenap suaramu begitu?]
[Oh, tidak apa. Ada apa menelponku malam-malam begini?]
[Ada hal penting yang harus kusampaikan]
Dada ini berdegup kencang, hal penting apa yang mau disampaikan olehnya? Apakah dia mau … Zura! Jangan gila begini! Saking paniknya tanpa kusadari aku justru menekan tombol berwarna merah pada layar ponselku. Alhasil sambungan telepon pun terputus.
Tak ingin Keenan salah paham, aku bergegas menghubunginya.
[Halo]
Halo, kenapa tadi dimatikan?]
[Ehm … ma-ma-af, tadi aku tidak sengaja menekan tombol end]
[Ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu]
Pliss … Ken. Jangan sekarang. Aku bisa pingsan. Kenapa aku jadi ke GR-an begini sih!
[Hal penting apa?]
[Ini tentang Luna]
Aku menghela nafas lega meskipun ada rasa kecewa lantaran hal penting itu bukanlah dia yang ingin mengungkapkan perasaannya padaku.
[Kenapa dengan Luna?]
[Aku dengar dari ibu jika beberapa saat yang lalu jika Luna diam-diam mengikuti kalian hingga ke makam dan berusaha menyerangmu. Apa benar begitu?]
[Ya, sepertinya dia tidak terima dengan kenyataan jika Gibran sudah meninggal dunia. Dia menuduhku sebagai pembawa sial yang menjadi penyebab kematiannya padahal aku dan ibumu sudah mengatakan jika Gibran meninggal di tangan perampok]
[Itulah sebabnya aku menyuruhmu untuk lebih berhati-hati.]
[Itu saja yang ingin kamu sampaikan?]
[Apa maksudmu?]
[Ti-ti-tidak. Maksudku apa ada hal lain yang ingin kamu sampaikan?]
"Sepertinya hanya itu saja. Ehm … ngomong-ngomong kamu ingin liburan kemana?]
__ADS_1
[Bukan aku yang mau liburan. Aku membeli tiket untuk kado ulangtahun kak Darren]
[Oh, aku pikir kamu mau liburan ke mana]
[Kamu semakin akrab saja sama Pinkan]
[Ya, begitulah. Sedari kecil kami memang sudah dekat. Memangnya kenapa?]
[Ah, tidak apa]
[ Apa Lyra sudah tidur?]
[Ya, dia tidak pernah tidur lewat dari jam sembilan malam]
[Y sudah, selamat malam dan selamat beristirahat, semoga mimpi indah, Assalamu'alaikum]
[Wa'aalaikumsalam]
Dapat ucapan selamat malam saja rasanya senang bukan main. Kenapa aku jadi kaya ABG begini sih!
Kuletakkan ponselku di atas malas lalu kurebahkan tubuhku di atas ranjang, rasa kantuk pun mulai menyerang Syaraf-syaraf yang terasa kencang pun perlahan mulai mengendur hingga akhirnya aku benar-benar terlelap.
Aku tengah duduk di bangku sebuah taman sembari merapikan rambut Lyra. Di saat itulah seseorang tiba-tiba menyapa kami.
"Assalamualaikum, Zura …Lyra."
"Wa'aalaikumsalam." Aku pun lantas menoleh ke arah suara itu.
"Paman juga kangen sama kamu, Sayang. Tempat tinggal paman sekarang di taman
yang indah dan luas."
"Lyra boleh ikut ke sana nggak?"
"Tidak boleh, Sayang. Kalau kamu ikut paman, siapa yang akan menemani ibumu?"
Dari Lyra pandangan Gibran beralih padaku.
"Bagaimana kabarmu?" tanyanya.
"Alhamdulillah, baik."
"Aku harap kamu lebih berhati-hati."
"Apa maksudmu?"
"Kamu akan menghadapi masalah yang cukup berat. Tapi tenang saja ada seseorang yang selalu tulus membantumu. Bersamanya kamu akan sanggup menghadapi masalah apapun."
"Siapa orang yang kamu maksud?"
__ADS_1
Gibran mengulas senyum.
"Kamu dan Lyra mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya."
"Siapa pria itu?"
"Maaf, aku harus pergi."
"Paman Gibran mau kemana?" tanya Lyra.
"Paman harus kembali ke rumah paman. Kamu mau 'kan, janji pada paman untuk menjadi anak yang baik dan selalu membuat ibuku tersenyum?"
"Ya, Paman. Aku janji."
"Anak pintar," ucap Gibran. Ia lantas mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Lyra.
"Aku pergi dulu, jaga diri kalian baik-baik."
"Tunggu! Kamu belum menjawab pertanyaanku!" seruku saat Gibran mulai beranjak dari hadapan kami. Lagi-lagi ia hanya tersenyum tipis.
"Assalamualaikum."
"Gibran! Gibran! Tunggu!"
"Ibu! Ibu kenapa?!"Aku terperanjat saat seseorang mengguncang tubuhku.
Astaghfirullahaldzim. Rupanya tadi Gibran mendatangiku dalam mimpi.
"Ibu minum dulu." Fina meraih gelas berisi air putih yang berada di atas meja lalu memberikannya padaku. Aku pun meneguknya hingga habis tak bersisa.
"Ibu mimpi ketemu mas Gibran ya?" tanya Fina seraya menyeka keringat yang membasahi bagian keningku.
Kuanggukan kepalaku sebagai jawaban.
"Semoga bukan mimpi buruk."
"Entah itu mimpi buruk atau bukan, tapi di mimpi itu Gibran berpesan agar aku lebih berhati-hati karena aku akan menghadapi masalah yang cukup berat meskipun ia bilang aku tak perlu khawatir karena ada seseorang yang akan selalu bersamaku."
"Apa mas Gibran mengatakan siapa orang itu?"
"Gibran tak menyebutkan namanya, dia hanya mengatakan jika pria itu begitu dekat denganku dan dengan Lyra."
"Aku yakin mimpi itu bukan sekedar mimpi, tapi sebuah petunjuk."
"Petunjuk?"
"Ya, kurasa orang yang dimaksud mas Gibran tak lain adalah saudara laki-lakinya sendiri, mas Keenan."
Suasana hening sejenak.
__ADS_1
"Memangnya bagaimana perasaan Ibu pada mas Keenan?" tanya Fina yang sontak membuatku kebingungan.
Bersambung …