Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kebencian yang semakin menjadi


__ADS_3

Sementara itu di sebuah konveksi.


"Satu persatu pelanggan Zura sudah ku ambil, kini giliran karyawan-karyawannya," ucap Fabian.


"Ibu tidak sabar lagi melihat usaha Zura jatuh bangkrut," ujar bu Kinanti.


Tiba-tiba Fabian terdiam.


"Kamu kenapa?" tanya sama ibu.


"Entah mengapa dari kemarin aku memikirkan Karmila."


"Sudahlah, lupakan saja dia. Dengan keadaan yang sekarang kamu tidak akan sulit untuk mendapatkan istri yang jauh segalanya dari perempuan itu."


Tidak berselang lama seorang gadis muncul di ruangan itu.


"Selamat pagi, Pak, Bu," sapa gadis berambut panjang itu.


"Selamat pagi."


"Nama saya Rani, karyawan yang pernah bekerja di konveksi LYRA."


"Jadi, bagaimana? Apa kamu tertarik untuk bergabung di konveksi ini?" tanya Fabian.


"Ya, Pak. Setelah melihat besarnya gaji yang ditawarkan di konveksi ini saya memutuskan untuk berhenti dari konveksi bu Zura dan bergabung dengan konveksi milik Bapak."


"Kamu sendirian saja? Mana teman-temanmu yang lain?" tanya Fabian lagi.


"Ada dua orang lagi yang juga tertarik untuk ikut bergabung di konveksi ini mungkin sebentar lagi mereka datang."


Benar saja, tidak lama kemudian muncul dua orang perempuan di hadapan mereka.


"Ini kawan-kawan saya ,Pak. Namanya bu Mira dan Lina."


"Apa kalian juga memutuskan untuk bergabung di konveksi ini?" tanya Fabian.


Kedua perempuan itu menganggukkan kepalanya.


"Baik, hari ini juga kalian bisa mulai bekerja. Silahkan temui kepala produksi."


"Baik, Pak."


Ketiga mantan karyawan Zura itu pun segera itu pun segera menuju ruang produksi.


"Apa gaji yang kamu tawarkan kepada mereka tidak terlalu besar, Nak?" tanya begini sesaat setelah mereka berlalu.


Fabian mengulas senyum.


"Itu hanya salah satu trik untuk menarik mereka," ucapnya.


"Ya, ibu paham sekarang. Oh ya sepertinya kita membutuhkan asisten rumah tangga," ucap bu Kinanti.


"Asisten rumah tangga?"


"Ibu tidak sanggup mengurus rumah sebesar itu sendirian."

__ADS_1


Ya, selain membuka konveksi, uang pemberian dari tuan Anthony juga mereka gunakan untuk membeli kendaraan dan rumah baru.


"Baiklah, hari ini juga aku akan mendatangi yayasan untuk mencari asisten rumah tangga. Ibu mau pulang sekarang?"


"Ya,Nak. Ibu pulang sekarang saja. Mungkin Ibu mampir sebentar di supermarket. Ada beberapa barang yang ingin ibu beli."


"Biar aku antar."


"Tidak usah, ibu bisa naik taksi."


"Ya sudah, Ibu hati-hati."


Bu Kinanti beranjak dari ruangan itu kemudian meninggalkan tempat tersebut.


Ia pun lantas menaiki taksi yang akan mengantarnya menuju supermarket.


Bu Kinanti terlihat tengah memilih beberapa bahan makanan. Hingga suatu ketika dia tidak sengaja menjatuhkan beberapa botol kecap. Seorang perempuan yang kebetulan berada di dekat bahan makanan itu pun membantu memungut botol-botol plastik tersebut.


"Bu Kinanti? Ibu benar bu Kinanti 'bukan? Masya Allah saya tidak menyangka kita kembali dipertemukan," ucapan wanita berhijab lebar itu.


"Maaf kamu ini siapa?" ketus bu Kinanti.


"Ini Saya, Murni. Dulu saya adalah tetangga mbak Zura."


"Maaf, Murni yang mana ya?"


"Murni istrinya pak Hasan yang tinggalnya persis di rumah Mbak Zura. Masa Ibu lupa dengan saya."


"Oh."


Bu Kinanti menggelengkan kepalanya.


"Sudah lama saya tidak tinggal bersama Zura. Setelah sukses dia berubah menjadi angkuh bahkan tidak memperdulikan saya. Beberapa bulan yang lalu dia mengusir saya dari rumahnya."


"Mana mungkin Mbak Zura begitu. Saya paham mengenal betul sifatnya."


"Nyatanya begitu. Setelah sukses dia berubah acuh pada saya."


"Ngomong-ngomong Bu Kinanti sekarang tinggal di mana?"


"Di perumahan Dahlia."


"Bukankah itu perumahan mahal.


Apa sekarang bu Kinanti banyak uang sehingga dia bisa tinggal di perumahan itu?" gumam Bu Murni.


"Ibu pasti berpikir kenapa saya bisa ditinggal di perumahan itu 'bukan? Fabian yang sekarang bukanlah Fabian yang dulu. Dia sekarang sudah menjadi seorang pengusaha," ucap bu Kinanti dengan angkuhnya.


"Oh jadi sekarang Bu Kinanti tinggal bersama mas Fabian? Syukurlah jika sekarang Mas Fabian sudah menjadi seorang pengusaha. Saya turut senang mendengarnya."


"Ya dia bisa membuktikan bahwa setelah berpisah dari Zura, hidupnya justru menjadi lebih baik."


"Kabar mbak Zura sendiri bagaimana, Bu?" tanya bu Murni.


"Entahlah. Saya tidak tahu dan tidak mau tahu lagi semua hal yang berhubungan dengannya."

__ADS_1


"Sepertinya Mbak Zura dulu begitu menyayangi Bu Kinanti. Kenapa hubungan mereka sekarang buruk begini?" batin bu Murni.


Tiba-tiba pandangan bu Kinanti tertuju pada keranjang belanja Bu Murni.


"Hanya itu saja belanjaan Bu Murni?" ketusnya.


"Iya, Bu. Saya hanya mampir ke supermarket ini untuk membeli beberapa barang keperluan dapur."


"Kalau saya biasanya memang sudah terbiasa berbelanja banyak," ucap bu Kinanti.


Bu Murni menanggapi ucapan tersebut hanya dengan senyum simpul di bibir.


"Sepertinya saya sudah selesai berbelanja. Saya permisi ke kasir dulu, Bu." Bu Murni berlalu dari hadapan buku nanti lalu berjalan menuju meja kasir.


"Ternyata hidup bu murni masih biasa-biasa saja, tidak ada perubahan sedikit pun," gumam bu Kinanti.


****


Siang harinya Fabian terlihat mengunjungi sebuah yayasan penyalur asisten rumah tangga dan perawat.


"Permisi, Pak. Ada yang bisa saya bantu? sapa seorang pegawai.


"Saya membutuhkan seorang asisten rumah tangga."


"Maaf, Pak. Kebetulan saat ini kami tidak memiliki tenaga untuk kami pekerjakan sebagai asisten rumah tangga. Mungkin Bapak bisa kembali beberapa hari lagi," jelas pegawai.


"Saya butuh asisten rumah tangga secepatnya."


"Baik, Bapak bisa meninggalkan nomor ponsel atau alamat agar kami bisa mudah menghubungi Bapak."


Fabian mengambil selembar kartu nama dari dalam dompetnya lalu memberikannya kepada pegawai tersebut.


"Baik, Pak. Jika tenaga yang Bapak butuhkan sudah tersedia kami akan menghubungi bapak secepatnya."


"Kalau begitu saya permisi dulu, selamat siang."


Fabian pun lantas meninggalkan tempat tersebut.


Mobil Fabian tengah melaju, hingga suatu ketika mobilnya berhenti di sebuah lampu merah. Siang yang begitu terik membuat tenggorokannya terasa begitu kering. Pucuk dicinta ulam pun tiba di saat itulah seorang penjual minuman melintas persis di hadapan mobilnya.


"Minuman dingin!" teriaknya pada perempuan tersebut. Namun, Entah kenapa perempuan tersebut seolah tidak mendengar seruannya sehingga memaksa Fabian untuk turun dari mobilnya.


"Mbak! Air dingin satu botol!" teriaknya lagi.


Perempuan yang mengenakan topi itu pun akhirnya menoleh ke arahnya. Bukannya mendekat perempuan itu justru menjauh dan mencoba berlari darinya.


"Apa dia sudah kehilangan akal? Aku ingin membeli dagangannya malah lari," gerutunya kesal. Sial, tiba-tiba lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. Akibatnya dia nyaris tertabrak sebuah sepeda motor yang melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Tubuh perempuan itu pun terjatuh dan ambruk di atas tanah beraspal hingga topi yang di dikenakannya terlepas. Fabian tercengang saat melihat wajah perempuan yang begitu dikenalnya.


Bersambung ….


Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:


"PENGASUH TOMBOY SI PENCURI HATI"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Happy reading 🥰🥰🥰


__ADS_2