Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kemunculan Silvia


__ADS_3

Tidak salah lagi, pria yang baru saja turun dari mobil berwarna silver itu adalah Fabian. Apa yang dilakukannya di sini? Dan apa hubungannya dengan perempuan yang tadi sempat bersitegang denganku itu?


Kuakui, rasa cinta untuk Fabian nyaris hilang. Tapi, tetap saja aku harus tahu siapa sebenarnya perempuan itu. Apakah selain Karmila yang kini menjadi istri muda nya, dia memiliki istri lainnya? Keterlaluan kamu, Fabian! Mau dikemanakan Karmila yang saat ini tengah berbadan dua itu?


Demi menjawab rasa penasaran yang sudah sampai di ubun-ubun ini, aku pun memutuskan untuk menghampiri mereka.


"Fabian Yusuf!" seruku yang sontak membuat keduanya menoleh ke arahku.


"Zura…? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Fabian.


"Kamu mengenal perempuan ini, Bian?" tanya perempuan angkuh itu penasaran.


"I-i-iya, Bu. Namanya Azzura. Dia-dia… ehm…mantan istri saya."


"Ibu? Kenapa Fabian memanggil perempuan itu dengan sebutan ibu? Apa artinya perempuan itu adalah orang yang ia segani? Bahkan di hadapannya dia mengatakan aku adalah mantan istrinya. Kamu pikir aku sedih? sakit hati? Jawabannya tidak! Aku justru ingin status berpisah kita segera jelas.


"Pantas saja Bian ninggalin kamu. Selain kuno, sepertinya kamu tidak pandai mengurus suami," cibirnya.


"Kamu bukan siapa-siapa. Kamu sama sekali tidak berhak menilaiku!" seruku.


"Jadi, kamu ingin tahu siapa saya? Perkenalkan. Nama saya Silvia. Saya adalah Direktur utama perusahaan BB tempat Bian bekerja. Perlu kamu tahu, saya memiliki jasa besar dalam kenaikan karirnya."


Silvia? Rupanya perempuan ini yang pernah disebutkan Arya saat aku mengobrol dengannya beberapa hari yang lalu. Lantas, apa maksudnya jika Silvia berjasa besar dalam karir Fabian? Apa sebenarnya maksud ucapan perempuan ini? Apakah mereka…


"Saya rasa kamu cukup paham dengan maksud kalimat saya barusan. Jika tanpa campur tangan saya, mustahil mantan suami kamu ini bisa berada di posisi sekarang," ujar Silvia.


Curang, kamu Fabian. Kenaikan jabatan yang kamu bilang sebagai wujud apresiasi perusahaan terhadap dedikasimu, ternyata nol besar. Ternyata kamu berlindung di bawah ketiak seorang perempuan.


"Mantan suami kamu ini memang tampan. Wajar bila aku tergila-gila padanya."


Sudah kuduga, ada alasan di balik sikap tidak biasa seorang direktur pada karyawannya. Masalah hati rupanya.


"Saya tidak menyangka, seorang wanita karir seperti anda ternyata memiliki selera yang begitu rendah."


"Apa maksudmu bicara begitu?"


"Pria yang berada di hadapanmu ini adalah barang bekas, dan saya sudah membuangnya ke tempat sampah."


"Jaga mulutmu!"


"Kenapa kamu harus marah? Aku berkata benar 'kan?"


"Bian! Kita tinggalkan wanita tidak waras ini sekarang!" 


Silvia menggandeng tangan Fabian lalu mengajaknya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Namun, lagi-lagi langkah mereka kembali tertahan saat tiba-tiba ibu muncul dan menghampiri kami. Entah memang sedari tadi mendengarkan obrolan kami, atau memang asal menebak saja. Tiba-tiba beliau berjalan ke arah Fabian dan tanpa basa-basi melayangkan tamparan yang cukup keras di pipi bagian kanannya.


Ufht! Sakit pasti.


"Kurang ajar kamu! Berani sekali menyakiti putriku!" serunya setengah berteriak.


"Ibu ini siapa? Datang-datang main tampar saja," ucap Silvia. Dia lantas memasang badan seolah ingin melindungi pacar, kekasih, anak buah kesayangan, atau apalah itu namanya. Aku tidak peduli.


"Perkenalkan, nama saya Sabrina. Saya adalah perempuan yang sudah melahirkan Azzura.


"Ibu dan anak sama-sama tidak waras!" cibir Silvia.


"Ngomong apa kamu barusan?"


"Kalian sama-sama tidak waras!"


"Perempuan tidak tahu diri!" 


Tiba-tiba ibu meraih rambut Silvia lalu menariknya kuat-kuat. Alhasil ia pun menjerit kesakitan.


"Bian tolong! Kenapa kami diam saja?" 


Fabian pun lantas bergegas menengahi kedua perempuan yang tengah bersitegang itu. Tentu saja dia berpihak pada Silvia. Ia mendorong tubuh ibu dengan cukup kuat hingga akhirnya ibu terjatuh.


"Keterlaluan, kamu Fabian!" pekikku.


"Ibu tidak apa-apa?" tanyaku dengan raut wajah cemas.


"Tidak apa, Nak.''


Aku tahu, beliau kesakitan pada bagian pinggangnya.


"Lihat! Gara-gara kalian ibuku kesakitan,"


"Alah. Nggak usah lebay. Begitu saja sakit. Ibu kamu saja yang manja," ucap Silvia.


"Kalian memang tidak punya hati!"


"Ayo kita cepat pergi tinggalkan kedua perempuan menyebalkan ini. Buang-buang waktu saja!"


Aku tak bisa berbuat banyak saat mereka benar-benar pergi meninggalkan tempat ini.


"Bagian mana yang sakit, Bu? Biar kuantar ke dokter," ucapku.


"Ibu baik-baik saja. Uang ini 'kan untuk modal membuka usaha, sayang kalau berkurang untuk berobat."

__ADS_1


"Jangan bilang begitu, Bu. Kesehatan Ibu lebih penting. Nanti pinggang ibu diobati pakai minyak gosok saja pasti sembuh."


"Maafkan aku, Bu. Gara-gara membelaku, Ibu jadi kesakitan begini."


"Sudahlah, kita ke toko perlengkapan menjahit sekarang. Nanti keburu tutup."


Kami beranjak dari tempat itu lalu menumpangi taksi menuju toko perlengkapan menjahit.


"Apa perempuan itu adalah teman dekat Fabian?" tanya ibu saat di tengah perjalanan.


"Entahlah, Bu. Tadi Silvia sempat mengatakan jika dia adalah direktur utama di perusahaan Fabian. Silvia juga mengatakan jika dirinya lah orang yang paling berjasa dalam kenaikan karir Fabian. Kurasa Silvia menyukai Fabian. Itulah sebabnya dia memberikan jabatan yang bagus untuk Fabian."


"Apa perempuan itu tidak tahu Fabian memiliki istri lain? Atau Fabian sengaja menyembunyikan status nya hanya demi karir dan jabatan? Kasihan juga perempuan itu kalau dia juga menjadi korban kebohongan Fabian," ucap ibu.


"Aku dan Fabian sudah memiliki kehidupan masing-masing. Aku tidak mau lagi ikut campur dalam masalah pribadinya," ujarku.


"Oh ya ibu Fabian tinggal bersamanya?"


"Benar, Bu. Ibu sekarang tinggal di rumah Karmila."


"Kamu kenapa? Kok wajah kamu tiba-tiba sedih begitu?"


"Sebenarnya aku sering mengkhawatirkan ibu mertuaku."


"Memangnya kenapa?"


"Beliau sedang sakit."


"Kenapa kamu harus khawatir? Ada istrinya Fabian 'kan yang merawatnya?"


"Iya, Bu. Tapi, …"


"Tapi kenapa, Nak?"


"Aku mengenal Karmila. Dia perempuan angkuh dan kasar. Aku tidak yakin dia merawat ibu mertuanya dengan baik. Saat terakhir aku mengunjungi rumahnya, aku mendengar sendiri dia berkata kasar pada inu mertuanya. Tapi, saat aku masuk ke dalam rumahnya, Mila membantahnya. Bahkan di hadapan Fabian dia mengatakan jika aku memfitnah nya," ungkapku.


"Begitu banyak masalah yang kamu hadapi. Tapi, ibu yakin kamu adalah perempuan yang kuat. Tuhan punya alasan mengapa ujian ini dibebankan di atas pundakmu. Karena Tuhan tahu kamu mampu memikulnya. Tuhan juga tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan," ujar ibu.


Terima kasih, Rabb. Engkau mempertemukanku kembali dengan ibu. Sungguh, bersamanya aku bisa lebih kuat melewati ujian-ujian dari Mu.. 


Bersambung…


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, favorit, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2