
"Aku harus bangkit! Aku tidak boleh begini terus! Di atas sana Gibran pasti tidak suka melihatku terpuruk begini!" Aku memberi kekuatan pada diriku sendiri agar tidak terus-menerus terpuruk dalam kesedihan.
Ya, hidup harus tetap terus berjalan. Masih banyak yang harus ku pikirkan, terutama untuk masa depan puteri semata wayangku, Lyra.
"Ibu antar aku ya," ucapku pada ibu yang saat itu hendak menuju ruang produksi.
"Ke mana?"
"Insya Allah aku jadi membuka toko kue."
"Nah, begitu dong! Ini baru Azzura, puteri ibu yang penuh optimis dan semangat," ujar ibu. Aku bisa melihat binar di sorot matanya.
"Kita berangkat sekarang?" tanya ibu.
Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban.
Kami pun lantas menghampiri mobilku yang telah disiapkan Pak Amin di halaman rumahku.
"Ada baiknya sebelum kita ke toko bahan kue, kita mampir ke rumah Gibran."
Jika dulu setiap mendengar nama itu jantungku berdegup kencang, kini justru kesedihan yang tiba-tiba saja datang menghampiriku.
"Bagaimana, Nak? Jika kamu masih berat bertemu dengan keluarganya, lain kali saja kita ke sana."
Aku menghela nafas sebelum memberi jawaban.
"Kita pergi ke rumahnya, Bu, insya Allah aku siap."
15 menit kemudian kami tiba di rumah berlantai tiga itu. Suasana cukup sepi meskipun bendera putih masih terpasang di pintu gerbang rumah itu.
Tangis mbok Marni, asisten rumah tangga di keluarga Gibran seketika pecah saat melihatku berdiri di hadapannya. Aku pun membiarkan saja saat perempuan paruh baya itu terisak di pundakku.
"Mas Gibran … Mbak. Mas Gibran."
Andai saja Bu Marni tahu perasaanku lebih hancur darinya. Pun aku tetap berusaha untuk menghiburnya.
"Gibran sudah tenang di sisi Rabb nya, Mbok," ucapku seraya mengusap embut pundaknya.
"Oh ya, di mana bu Anita? tanyaku sesaat setelah mbok Marni melonggarkan pelukannya.
"Sejak kematian mas Gibran, Nyonya Anita terus mengurung diri di dalam kamarnya, Mbak."
"Mbok bisa antar saya ke kamarnya?" tanyaku.
"Mari, Mbak."
Mbok Marni mempersilahkan ibu duduk di ruang tamu sementara aku mengikutinya masuk ke dalam kamar bu Anita yang berada di lantai 3.
"Bu, ini saya, Azzura," ucapku dari depan kamar pintu kamar.
"Masuk."
Tampak di hadapanku wanita yang nyaris menjadi ibu mertuaku itu tengah terduduk lesu di atas tempat tidur nya sembari memeluk bingkai foto Gibran. Raut wajahnya murung, matanya sembab, penampilannya pun terlihat acak-acakan. Kurasa sudah beberapa hari ini waktunya hanya dihabiskan di dalam kamarnya saja.
"Bu," ucapku seraya duduk di tepi ranjang.
Bu Anita tak menanggapiku. Ia masih saja bingkai foto putera sulungnya itu.
"Rambut Ibu berantakan sekali, aku rapikan, ya," ucapku. Bu Anita mengangguk pelan dan aku menganggapnya sebagai jawaban setuju.
Ku ambil sebuah sisir dari meja riasnya lalu mulai kurapikan rambut panjangnya yang tergerai hingga ke bagian tulang ekornya.
"Biasanya rambut Ibu mengkilap dan wangi. Apa itu nyaman dengan rambut kusut dan berantakan begini," ucapku.
"Gibran … kenapa kamu pergi secepat ini, Nak," ratapnya.
"Ibu mau sampai kapan begini terus? Gibran tidak akan suka melihat ibu begini," ucapku seraya menggenggam kedua tangannya.
"Gibran … Gibran … hu … hu …" Tangisnya pun tiba-tiba pecah.
"Dari kemarin ibu begini terus. Jangankan merawat diri, ia membiarkan perutnya kosong," papar Keenan, adik laki-laki Gibran yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Sama seperti Ibu, kepergian Gibran adalah pukulan yang begitu berat bagiku. Aku juga sempat terpuruk, namun pada akhirnya aku sadar, tidak ada gunanya terus-menerus meratapi kepergiannya. Jodoh dan maut adalah hak mutlak Allah yang tiada seorangpun bisa mengganggu gugat. Gibran tidak akan suka jika kita terus-menerus meratapi kepergiannya," ungkapku.
Kuambil selembar tissue untuk menghapus buliran bening itu, lantas kutatap lembut sepasang netranya.
"Ikhlas kan dia, insya Allah dia akan tenang di sisi Rabb nya," ucapku.
"Terima kasih, Nak. Kamu sudah membuatku jauh lebih tenang."
"Oh ya, bagaimana kalau hari ini kita mengunjungi makam nya? Kemarin Ibu juga pasti tidak datang di acara pemakamannya 'bukan?"
"Ya, Nak. Ibu pasti tidak akan sanggup jika harus melihat jenazahnya dimasukkan ke dalam liang lahat."
"Ehm … Ken. Kamu tidak keberatan 'kan jika mengantar ibumu ke makam? Bukan apa, Setelah dari makam aku berencana untuk menuju toko bahan kue."
"Toko bahan kue?"
__ADS_1
"Ya, insya Allah aku akan memulai usaha membuka toko kue. Selain untuk menyalurkan hobi aku juga bisa mengembangkan sayap bisnisku," paparku.
"Aku salut dengan semangatmu," puji Keenan yang kutanggapi dengan senyum tipis di bibir.
"Rambut Ibu sudah rapi sekarang, aku tunggu Ibu di ruang tamu," ucapku.
Bu Anita mengangguk paham.
"Bagaimana keadaan bu Anita, Nak?" tanya ibu sesampainya aku di ruang tamu.
"Alhamdulillah, keadaannya sudah jauh lebih tenang. Bu Anita juga mau ikut ke makam Gibran bersama kita."
Beberapa saat kemudian Keenan dan bu Anita muncul bersamaan di ruang tamu.
"Oh, ada Ibu Sabrina juga ternyata," ucap bu Anita.
"Ya, Bu, Zura meminta saya untuk menemaninya ke toko bahan kue."
"Begitu ya. Silahkan diminum dulu tehnya."
Setelah meminum teh yang sudah disiapkan oleh mbok Marni kami pun meninggalkan ruang tamu dan kunci mobilku yang terparkir di halaman rumah.
Aku baru saja menarik handle pintu mobil ketika tiba-tiba sebuah taksi berhenti tepat di depan rumah ini. Tidak berselang lama pintu taksi terbuka. Dampak dua orang gadis berpakaian serba putih keluar dari dalam taksi tersebut. Setelah memandang mereka dari jarak dekat, aku pun mengenali salah satu di antara keduanya. Tidak salah lagi, gadis berambut sebahu itu adalah gadis yang muncul di layar ponselku saat aku melakukan panggilan video bersama Gibran. Gadis itu adalah karyawan yang bekerja di toko pakaian milik Gibran.
"Assalamualaikum, Bu Zura," sapa gadis itu.
"Waalaikumsalam," sahutku.
"Kalian siapa?" tanya Bu Anita.
"Ehm … perkenalkan, kami adalah karyawan di toko pakaian milik almarhum pak Gibran. Saya Vivi, dan ini kawan saya, Mia."
"Gara-gara kalian anak saya meninggal!" sentak bu Anita yang sontak membuat raut wajah kedua gadis itu ketakutan.
"Ma-ma-af, Bu. Kami saya tidak bermaksud, …"
"Kalau kamu tidak berteriak dan membuat mereka panik, pasti perampok itu tidak akan melukai anak saya. Gibran pasti masih hidup. Sepatutnya kalian dilaporkan pada polisi karena kalian sudah membuat anak saya kehilangan nyawanya!"
"Maaf, Bu. Maksud kedatangan kami ke sini untuk menyampaikan belasungkawa kami," ucap salah satu karyawan dengan wajah tertunduk.
"Kami tidak butuh bela sungkawa dari kalian! Sekarang juga tinggalkan tempat ini sebelum saya melaporkan pada polisi jika kalian lah penyebab kematian anak saya!"
"Sabar, Bu, jangan kasar begitu. Maksud kedatangan mereka baik.mereka hanya ingin mengucapkan rasa belasungkawa atas kepergian Gibran," ucap Keenan.
"Pergi kalian! Jangan pernah lagi berani menginjakkan kaki di tempat ini!" usir bu Anita.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Assalamu'alaikum."
Kedua gadis itu pun lantas meninggalkan pekarangan rumah Gibran.
"Sudah tahu merekalah yang menyebabkan Gibran meninggal dunia, mereka masih saja punya muka untuk menemui kita," gerutu bu Anita.
"Sudahlah, Bu, tidak ada gunanya marah-marah begitu. Aku yakin teriakan karyawannya hanya tindakan spontan karena mereka ingin menyelamatkan uang toko dari perampok itu," ucap Gibran.
"Tekan saja mereka yang menyebabkan perampok itu panik hingga menembakkan senjata api miliknya."
"Sudah, kita jadi ke makam atau tidak?"
tanya Gibran sembari membuka pintu mobil untuk bu Anita.
"Awas saja kalau ibu bertemu mereka lagi!"
"Kalau ibu terus mengumpat begitu, aku tidak mau mengantarkan Ibu ke makam Gibran," ucap Keenan setengah mengancam.
"Ya, ini diam."
Gibran pun lantas masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukannya menuju tempat pemakaman umum. Sementara aku meminta pak Amin untuk mengikuti di belakang mobilnya.
Aku menguatkan diri saat aku berada di dekat pusara laki-laki yang nyaris menjadi calon imamku itu. Namun ternyata aku tidak sekuat itu. Buliran bening ini tiba-tiba saja mengalir deras dari pelupuk mataku.
"Sabar, Nak," ucap Ibu sembari mengusap lembut pundakku.
"Semoga kamu tenang di sana, Gibran. Terima kasih untuk semuanya terima kasih sudah hadir dalam hidupku," ucapku parau.
Ibu mana yang tidak hancur hatinya saat kehilangan buah hatinya. Batinku pun ikut teriris perih saat melihat bu Anita memeluk batu nisan Gibran saya menangis meraung-raung. Keenan yang berdiri persis di sebelahnya terus mencoba untuk menenangkannya.
"Sudah, Bu, jangan menangis lagi. Lebih baik sekarang kita kirim do'a untuk Gibran agar ia diberi jalan terang," ucap Keenan.
Keenan pun lantas memimpin do'a, sementara kami mengamini.
"Ayo Bu, kita pulang," bujuk Keenan.
"Ibu tidak mau pulang, ibu mau menemani Gibran di sini."
"Ayolah Bu, jangan seperti anak kecil. Gibran tidak suka kalau melihat ibu begini."
"Ibu mau menemani Gibran."
__ADS_1
"Istighfar, Bu. Alam Gibran dan alam kita sudah berbeda," ucap Keenan.
"Kalau begitu biarkan ibu menyusulnya saja."
"Ibu! Cukup!" sentak Keenan.
"Jangan terlalu kasar pada ibumu, ibumu hanya sedang terpukul, dia masih belum terbiasa dengan kepergian Gibran," ucapku.
"Astaghfirullahaladzim …
astaghfirullahaladzim … maafkan aku, Bu." Keenan meraih tangan sang Ibu lalu mengecup punggung tangannya.
"Kita pulang sekarang ya, Bu. Besok kita ke sini lagi." Gibran lebih melembutkan suaranya.
"Benar, Bu. Bu Anita bisa mengunjungi makam Gibran kapanpun yang Ibu mau" Ibu menimpali.
"Ya sudah, kita pulang sekarang. Perut ibu rasanya lapar sekali."
"Bagaimana Ibu tidak lapar jika dari kemarin Ibu sama sekali tidak mengisi perut Ibu. Ibu mau makan apa? Kita cari sekarang."
"Ibu ingin makan di rumah."
"Baiklah. Maaf kami pulang lebih dulu," ucap Keenan seraya menggandeng tangan sang ibu lalu mengajaknya menuju mobilnya yang berada di dekat pintu masuk tempat pemakaman umum. Setelah mobil Keenan meninggalkan tempat pemakaman umum itu, mobilku pun lantas menyusul untuk selanjutnya menuju toko bahan kue.
Aku tak menduga jika di toko yang menjual bahan kue serta sekaligus peralatannya itu, kami dipertemukan dengan Bu Kinanti.
"Duh, yang pengantin baru. Harusnya 'kan belanjanya dengan suaminya, kok malah dengan ibunya," sindirnya.
"Bukan urusan Ibu!" ketus ibu.
"Loh kok nyolot sih. Saya kan bicara apa adanya. Harusnya pengantin baru ya pergi berdua dengan pasangannya bukan malah pergi dengan ibunya."
"Zura, ayo kita ke toko lain saja, Nak. Ibu malas berbelanja di sini," ucap ibu seraya menggandeng tanganku dan mengajakku keluar meninggalkan toko tersebut.
"Hufht! Kenapa aku harus dipertemukan dengan wanita menjengkelkan itu. Kalau ibu menjawab pertanyaannya tadi, dia pasti akan tertawa lepas jika tahu Gibran meninggal dunia sehari sebelum hari pernikahan kalian. Itu sebabnya ibu mengajakmu cepat-cepat pergi meninggalkannya."
"Ya, Bu, aku pun paham. Sekarang bu
Kinanti memang benar-benar sudah berubah. Aku hampir tidak mengenalinya lagi," ujarku.
"Kaya dari uang kematian anaknya saja sombongnya setinggi langit. Lihat saja, suatu saat nanti usahanya pasti akan bangkrut!"
"Tidak baik bicara begitu, Bu. Seharusnya berdoa itu yang baik-baik agar doa itu kembali pada diri kita," ucapku.
"Kamu menyuruh ibu mendoakan mereka yang baik-baik? Sorry! Itu tidak akan pernah terjadi."
Beberapa saat kemudian Pak Amin menghentikan mobilku di depan sebuah toko yang juga menjual bahan kue dan perlengkapannya. Aku dan Ibu pun lantas keluar dari mobilku dan masuk ke dalam toko tersebut.
Selain menjual bahan membuat kue dan perlengkapannya, toko itu juga menjual beraneka macam kue basah semacam kue bolu, brownies dan kue ulang tahun.
"Sepertinya kamu perlu mencoba satu jenis yang dijual di toko ini, Nak. Agar kamu tahu mengapa kue toko kue ini begitu ramai didatangi pembeli," ucap ibu. Aku mengangguk paham.
"Dari puluhan jenis kue yang berada di etalase pilihanku jatuh pada kue bolu bertabur cokelat almond. Dilihat dari warnanya saja sudah begitu menggugah selera.
Di antara banyak pengunjung yang berada di ruangan itu, perhatianku tertuju pada seorang bocah laki-laki seusia Lyra yang tengah kesulitan mengambil kue basah dari etalase yang letaknya sedikit lebih tinggi dari kepalanya.
"Kamu butuh bantuan, Sayang?" tanyaku.
"Ya, Bu, aku mau kue donat yang dengan meises warna-warni itu," ucapnya seraya menunjuk wadah berisi kue berbentuk bulat dengan lubang di tengahnya itu.
"Baiklah, mau berapa biji?" tanyaku.
"Ayah bilang beli 3 biji."
"Oh ya kamu sendirian saja?" tanyaku lagi.
"Tidak, Bu. Aku bersama ayah. Ayah sedang membeli minuman di sebelah sana."
"Kamu tidak bersama ibumu?"
"Tidak, Bu. Ibu saya sudah meninggal dunia satu bulan yang lalu karena sakit."
"Innalillahi wainnailaihirojiun. Maaf saya tidak tahu. Oh ya ini kue donat mu. Tunggu ayahmu datang, lalu bayar di kasir sebelah sana ya." ucapku.
"Terima kasih."
Tiba-tiba anak laki-laki itu menoleh ke arahku. Aku kaget bukan main saat sepasang netra kami bertemu.
"Kamu?"
Bersambung …
Hai, Kak. Mampir juga ya di novel baru ku yang judulnya:
"MENIKAH DENGAN SETAN"
Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Happy reading 🥰🥰🥰