Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Cinta tak salah?


__ADS_3

"Ehm … aku-aku hanya ingin mencari udara segar. Di kamar rasanya panas."


"AC di kamar kita 'kan selalu menyala. Bagaimana mungkin Mas bisa kepanasan?"


"Aku harus bilang apa kalau nyatanya memang kepanasan?"


Rupanya Maureen tak begitu saja percaya dengan alasan Fabian.


"Aku temani Mas di taman belakang," ucapnya.


"Tidak perlu, kamu tidur saja."


"Aku tidak sebodoh yang Mas pikir. Jika aku membiarkan Mas keluar, bisa saja Mas pergi ke rumah perempuan lain."


"Maureen! Jaga ucapanmu!" sentak Fabian.


"Jika tuduhanku tidak benar, kenapa Mas harus marah begitu?"


Fabian akhirnya menutup pintu dan menguncinya kembali.


"Loh, katanya tadi mau mencari udara segar," ucap Maureen.


"Tidak jadi." Fabian berlalu dari hadapan Maureen lalu masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Sial!" umpatnya.


Keesokan harinya


"Kamu mau kemana, Nak, sepagi ini? Istrimu saja belum bangun," ucap Bu Kinanti saat mendapati Fabian bersiap keluar rumah.


"Ehm … Ibu 'kan sudah tahu tentang pesanan dalam jumlah besar itu. Banyak yang harus kupersiapkan bahkan sebelum karyawanku datang ke konveksi."


"Tidak sarapan dulu?"


"Aku bisa sarapan di mana saja. Ya sudah, aku berangkat dulu."


Setelah berpamitan pada sang ibu, Fabian pun lantas meninggalkan rumah.


Tentu saja Fabian tidak benar-benar datang ke konveksi, akan tetapi dia datang ke rumah kontrakan kekasih gelapnya, Nesya.


"Maaf, semalam aku tidak bisa keluar. Istriku itu sudah seperti satpam saja. Kamu sudah jadi minum obat?" ucapnya setibanya di rumah Nesya.


Gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana aku bisa keluar, berdiri saja mau roboh."


"Ya sudah, aku belikan obat ke apotek sebentar."

__ADS_1


"Aku mau ke dokter," rengek Nesya.


"Kita tidak mungkin pergi berdua keluar rumah. Bagaimana jika ada yang melihat kita? Kamu di tunggu di sini saja, biar saya beli obat buat kamu," ucap Fabian. Dia lantas meninggalkan rumah Nesya.


Jarak dari rumah Nesya menuju apotek tidak terlalu jauh. Fabian pun menempuhnya dengan sepeda motor milik Nesya. Rupanya di saat bersamaan Benny juga tengah berada di apotek tersebut. Tentu saja ia mengenali sepeda motor milik rekan kerjanya itu.


"Loh, Pak. Bukannya ini sepeda motor milik Nesya?" tanyanya.


"I-i-iya. Saya meminjamnya sebentar untuk membeli obat untuk Nesya. Dia sakit dan tidak ada yang merawat."


"Sepertinya Bapak peduli sekali pada Nesya."


"Memangnya saya salah jika saya membantu karyawan saya yang butuh bantuan?"


"Bukannya begitu, Pak. Hanya saja, …"


"Mbak, minta obat penurun demam," ucap Fabian sembari menyodorkan uang pecahan lima puluh ribu ribu pada apoteker.


"Jadi orang tidak usah sibuk mengurusi urusan orang lain!" sungut Fabian sesaat sebelum menghidupkan kembali mesin sepeda motornya. Ia pun lantas meninggalkan apotek tersebut.


"Aku juga belikan bubur ayam untuk sarapan. Obat ini harus diminum setelah makan." Fabian meletakkan box berisi bubur ayam dan satu kaplet obat penurun demam di atas meja.


"Terima kasih, Bapak perhatian sekali sama saya. Saya jadi semakin sayang sama Bapak," ucap Nesya setengah merayu.


"Kamu makan dulu, lalu obatnya diminum."


"Kamu masih bisa makan sendiri 'bukan?"


"Badan saya rasanya lemas, Pak."


"Dasar manja!" Fabian membuka box berisi bubur itu lalu mulai menyuapi Nesya.


Fabian tahu hubungan ini salah, namun, ia tidak dapat membohongi perasaannya jika ia merasa nyaman saat bersama gadis itu. Perasaan yang tidak ia dapatkan saat bersama istrinya, Maureen.


Fabian terlihat gugup saat tiba-tiba seseorang berdiri di tengah pintu rumah.


Seketika ia menyesali kebodohannya lantaran membiarkan pintu tersebut terbuka.


"Nesya … ayo berang- … Loh? Pak Fabian kok di sini?"


Gadis itu rupanya Alya, salah satu karyawannya di bagian produksi.


Fabian bergegas menutup box berisi bubur yang berada di tangannya lalu meletakkannya di atas meja.


"Ehm … saya permisi dulu," ucapnya sembari beranjak dari ruangan tersebut.


"Nes … kamu ada main sama pak Fabian? Ckckck … dengar-dengar istrinya galak loh. Kalau tahu kamu selingkuhan suaminya, bisa digeprek kamu!"

__ADS_1


"Pak Fabian yang mendekatiku duluan."


"Ah, mana mungkin. Pria pendiam gitu kok. Pasti kamu yang merayunya."


"Beneran. Tadinya memang aku sering meminta diajari membuat laporan produksi. Tapi lama-lama dia suka curhat. Dia cerita kalau istrinya belum hamil-hamil juga padahal dia sudah ingin sekali punya anak."


"Jadi, itu alasan pak Fabian selingkuh?"


"Selingkuh? Aku nggak merasa jadi selingkuhan pak Fabian. Pak Fabian saja tidak pernah bilang sayang atau cinta sama aku."


"Cinta tidak selalu harus diungkapkan dengan kata-kata. Dari sikapnya yang perhatian sama kamu saja sudah cukup sebagai pembuktiannya," ujar Alya.


"Bisa jadi pak Fabian hanya kasihan sama aku karena dia bilang punya adik perempuan yang sudah meninggal."


"Sebagai teman, aku hanya ingin mengingatkan, jangan bermain api kalau kamu tidak ingin terbakar. Kamu juga harus tahu, serapat-rapatnya menyimpan bangkai, pasti akan tercium baunya. Sebelum bu Maureen tahu hubunganmu dengan pak Fabian, sebaiknya kamu sudahi semuanya," ungkap gadis berhijab itu.


"Nggak bisa, Al. Aku sayang sama pak Fabian. Kamu tahu 'kan, dari kecil aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Aku merasa aman dan nyaman saat bersamanya."


"Hubungan kalian ini salah, Nes."


"Aku tahu hubungan ini salah. Tapi aku tidak bisa melepaskan pak Fabian begitu saja. Aku ingin sekali memiliki suami sepertinya. Dia benar-benar pria idaman. Aku sama sekali tidak keberatan jika pak Fabian menjadikanku istri mudanya."


"Istighfar, Nes. Posisimu di sini adalah orang ke tiga. Kamu mengambil apa yang bukan hakmu. Apapun yang dimiliki dengan cara kotor tidak akan bertahan lama."


"Lalu, aku harus gimana, Al. Semakin hari perasaan ini semakin kuat. Pak Fabian adalah satu-satunya pria yang mampu membuatku melupakan Rizal.


"Masih banyak laki-laki lajang di tempat kerja kita. Kenapa yang kamu pilih pak Fabian? Kamu dan bu Maureen sama-sama perempuan. Jika kamu yang ada di posisinya apa kamu tidak sakit hati, diduakan oleh orang yang kita sayangi?"


Nesya berasal dari sebuah kota kecil di provinsi Jawa tengah. Dulu ia pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki bernama Rizal. Keduanya sempat memiliki niat untuk bertunangan, namun hubungan keduanya tidak direstui oleh ayah Rizal lantaran Nesya hanyalah anak dari seorang janda pemilik toko kelontong. Nesya pun akhirnya memutuskan hubungannya dengan Rizal dan merantau ke kota J. Ia memiliki obsesi yang besar untuk memiliki suami kaya. Tujuannya tak lain untuk membuktikan pada kedua orangtua Rizal jika dirinya bisa mendapatkan suami yang lebih segalanya dari anaknya.


"Kamu nggak masuk hari ini?" tanya Alya.


"Nggak, Al. Kepalaku masih pusing."


"Ya sudah, kamu istirahat saja. Aku harap kamu merenungkan kata-kataku tadi. Kamu di sini hidup tanpa keluarga dan saudara. Jangan sampai kamu terkena masalah yang pada akhirnya akan membuat keluargamu kecewa. Aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum."


"Tidak! Cinta tak pernah salah. Aku tidak akan pernah melepaskan pak Fabian. Aku sangat mencintainya," lirih Nesya.


Bersambung …


Hai, pembaca setia. Mampir juga di karya yang judulnya:


"MENIKAH DENGAN SETAN"


Berikan juga like, komentar positif, fav, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian akan sangat berarti bagi Author.


Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2