Maduku, Racunku

Maduku, Racunku
Kesalahan


__ADS_3

Masih di sambungan telepon.


[Pemilik ponsel ini terbukti berada di kamar hotel tempat terjadinya pesta narkoba. Kini tersangka diamankan di kantor polisi]


[Baik, Pak. Terima kasih untuk informasinya]


"Nyonya Anita kenapa, Mas?" tanya mbok Marni sesaat setelah Keenan mengakhiri percakapan di telepon.


"Ibu ditangkap polisi, Mbok."


"Kenapa Nyonya bisa ditangkap polisi?"


"Ibu ditangkap karena terlibat pesta narkoba di dalam kamar hotel."


"Astaghfirullah."


"Benda-benda yang Mbok temukan di kamar ibu sebenarnya adalah wadah bekas obat terlarang beserta alat suntiknya. Sekarang saya harus menemui ibu di kantor polisi. Jika nanti Gibran bangun, suruh dia menyusul ke sana."


"Baik, Mas."


"Saya pergi dulu, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Sesampainya di kantor polisi.


"Tolong bebaskan ibu, Nak. Ibu hanya dijebak," ucap sang ibu pada Keenan.


Keenan tersenyum getir.


"Sayangnya aku tidak percaya dengan ucapan Ibu."


"Apa maksudmu? Mana mungkin ibu melakukan tindakan bo*oh ini?" bantah sang ibu.


"Ibu bisa jelaskan ini? Mbok Marni yang menemukannya di kamar Ibu." Keenan mengeluarkan kantong plastik itu lalu memperlihatkannya pada sang ibu.


"Benda-benda ini bukan miilik ibu."


"Jadi, Ibu mau bilang jika mbok Marni berbohong?"


Anita terdiam dan menundukkan wajahnya.


"Kenapa Ibu melakukan ini? Ibu tahu 'bukan? Hukuman yang dijatuhkan bagi pengedar maupun pengguna obat terlarang sama-sama berat?"

__ADS_1


Setelah berkali-kali menyangkal, akhirnya Anita mengakui perbuatannya.


"Maafkan ibu, Nak. Kesibukan ibu terlalu banyak. Ibu hanya mengikuti saran dari kawan ibu agar badan ibu selalu fit dan tidak mudah lelah. Tapi ternyata ibu kecanduan," ungkapnya.


"Tidak ada pembenaran untuk penyalahgunaan barang terlarang itu."


"Ibu mohon bebaskan ibu dari tempat ini."


"Maaf, Bu. Sebagai warga negara yang baik, kita harus taat pada hukum. Apa yang Ibu lakukan salah, dan Ibu harus mempertanggungjawabkan perbuatan Ibu."


"Tapi, Nak. Ibu di sini hanya korban."


"Bukankah sudah begitu banyak kasus tentang penyalahgunaan barang terlarang itu? Hukuman yang mereka terima tidak ringan. Mengapa Ibu masih saja berani mencobanya?"


"Ibu minta maaf, Nak. Sudah membuatmu kecewa," ujar Anita.


"Tidak hanya aku. Ibu juga membuat Gibran, ayah, dan mbok Marni kecewa."


"Kamu tidak memberitahu ayahmu 'kan?"


"Tanpa kuberitahu pun ayah pasti sudah tahu. Berita penangkapan Ibu dan kawan-kawan Ibu pasti sudah beredar luas di media sosial."


"Ibu menyesal melakukan ini."


"Mas Yudha?"


"Setelah mendengar berita ini aku langsung meluncur dari luar kota. Katakan padaku jika penangkapan ini adalah sebuah kesalahan."


"Maafkan aku, Mas," ucap Anita parau.


"Ini bukan sebuah kesalahan, Yah. Justru ibu lah yang telah berbuat salah karena ibu ditemukan berada di kamar hotel itu." Keenan menimpali.


"Kenapa kamu melakukan ini, Anita?


"Aku minta maaf, Mas. Aku tergoda rayuan kawan-kawanku."


"Sejak kapan kamu menggunakan barang har*m itu?" tanya Yudha.


"Sudah hampir lima tahun," jawab Anita dengan wajah tertunduk lesu.


"Suami macam apa aku ini? Aku tidak menyadari jika istriku sudah begitu lama terjerat barang ha*am itu."


"Mas jangan menyalahkan diri sendiri. Apa yang terjadi padaku karena kesalahanku sendiri."

__ADS_1


"Aku akan mengajukan permohonan rehabilitasi pada pihak kepolisian," ucap Yudha.


"Terima kasih, Mas. Mas sudah peduli padaku."


"Aku hanya tidak mau nama baik Yudha Mandala rusak karena istrinya menjadi tahanan."


"Semoga polisi mengabulkan permintaan ayah agar ibu menjalani rehabilitasi," ucap Keenan.


"Oh ya, Di mana kakakmu? Apa dia tidak ikut datang ke sini?"


"Kakak di rumah. Semalaman dia tidak pulang dan kembali dalam keadaan mabuk."


"Anak itu menyusahkan saja!" gerutu Yudha.


"Maaf, waktu kunjungan sudah habis. Saya harus membawa tahanan masuk dalam sel," ucap petugas sembari mengenakan kembali borgol besi di kedua pergelangan tangan Anita.


"Kira-kira berapa lama hukuman yang akan dijatuhkan pada istri saya, Bu?"


"Lamanya hukuman tergantung pada seberapa berat kasus yang menimpa tahanan. Kami permisi." Petugas itu pun lantas membawa Anita meninggalkan ruang kunjungan.


"Kita pulang sekarang," ucap Yudha. Keenan mengangguk setuju.


Keduanya pun lantas meninggalkan kantor polisi.


Keenan baru saja hendak memasuki mobilnya ketika tiba-tiba netranya menangkap sebuah ponsel yang terjatuh di area parkir.


"Ponsel ini pasti milik laki-laki itu."


Laki-laki yang dimaksud adalah seseorang yang baru saja memarkir sepeda motornya di tempat itu. Keenan pun bergegas mengambil ponsel tersebut untuk diserahkan kembali pemiliknya. Tanpa sengaja salah jari telunjuknya menekan salah satu tombol hingga membuat layar ponsel itu menyala dan tentu saja menampakkan gambar yang terpasang sebagai wallpaper.


"Sepertinya wajah anak ini tidak asing bagiku," gumamnya.


Bersambung …


Hai, pembaca setia….


Ditunggu dukungannya ya….


Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰


🙏🙏


Happy reading…

__ADS_1


__ADS_2